Jumat, 01 MEI 2026 • 19:05 WIB

Sering Dibanding-Bandingkan? Hati-Hati, Itu Bukan Teman Baik — Tapi Toxic Friendship yang Menjatuhkanmu!

Author

Ilustrasi teman yang suka membanding-bandingkan. (freepik)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu punya teman yang setiap ngobrol selalu ada aja bahan buat ngebandingin kamu dengan orang lain?

“Coba deh kayak si A, dia lebih keren.”

“Kenapa kamu nggak kayak si B aja, lebih fun.”

Sekilas terdengar kayak bercanda. Tapi kalau dipikir-pikir, ini bukan hal yang sehat. Dan kalau terus-terusan terjadi, bisa jadi kamu sebenarnya lagi ada di lingkaran toxic friendship tanpa kamu sadari.

Baca juga: Bukan Sekedar Peliharaan! Ini Alasan Hewan di Rumah Bisa “Menyelamatkan” Mental Pemiliknya

Ketika Pertemanan Mulai Jadi Ajang Perbandingan

Pertemanan yang sehat itu harusnya bikin kamu merasa diterima, bukan dibandingkan. Tapi dalam hubungan yang toxic, kamu justru sering dijadikan “pembanding” dengan orang lain.

Lama-lama efeknya nggak main-main, seperti kamu mulai merasa kurang, merasa harus berubah jadi orang lain biar diterima, bahkan bisa kehilangan rasa percaya diri.

Dan yang lebih bahaya, kamu jadi terbiasa merasa “nggak cukup” padahal kamu nggak salah apa-apa.

Baca juga: Berapa Banyak Air yang Perlu Diminum saat Haji? Ini Penjelasannya

Bukan Cuma Bandingin, Tapi Juga Tekanan Halus

Yang bikin ini makin tricky, kadang bentuknya bukan marah atau terang-terangan. Tapi berupa “tekanan halus” yang pelan-pelan ngaruh ke kamu.

Misalnya:

Disuruh ikut gaya hidup orang lain biar “lebih keren”

Ditekan buat ikut keputusan yang sebenarnya kamu nggak nyaman

Atau dipaksa ngikutin standar sosial tertentu biar dianggap “level-nya naik”

Ini yang disebut peer pressure dalam pertemanan dan sering banget nggak disadari.

Baca juga: Studi: Tak Mau Ketinggalan Gol, 82% Penonton Bola Andalkan Pesan Makanan Online

Teman Sehat Nggak Akan Bikin Kamu Kecil

Dalam hubungan yang sehat, teman itu justru menghargai kamu apa adanya, nggak ngebandingin kamu dengan siapa pun dan mendukung kamu jadi versi terbaik dari diri kamu sendiri, bukan jadi orang lain.

Karena tiap orang punya karakter, perjalanan, dan keunikan masing-masing. Dan itu nggak seharusnya dijadikan kompetisi.

Kalau Kamu Mulai Ngerasa “Nggak Cukup”, Waspada

Coba perhatiin perasaan kamu setelah ketemu atau ngobrol sama teman tertentu.

Baca juga: Kenali Perbedaan Introvert dan Pemalu agar Tidak Salah Menilai

Kalau yang muncul justru overthinking, insecure, atau merasa harus berubah terus — itu bisa jadi sinyal kalau hubungan itu udah nggak sehat lagi buat mental kamu.

Kamu Berhak Punya Lingkungan yang Sehat

Nggak semua orang yang dekat sama kamu itu otomatis baik untuk kamu. Dan itu nggak apa-apa untuk disadari.

Kamu berhak untuk dihargai tanpa dibandingkan, berteman tanpa tekanan dan jadi diri sendiri tanpa harus “menyamai orang lain”.

Karena pada akhirnya, pertemanan yang sehat itu bukan soal siapa yang paling “keren”, tapi siapa yang bikin kamu merasa nyaman jadi diri sendiri.

Kalau ada teman yang sering ngebandingin kamu dengan orang lain, itu bukan sekadar obrolan ringan — itu bisa jadi tanda toxic friendship yang pelan-pelan ngaruh ke mental kamu. 

Baca juga: 5 Tanaman Hias Penghilang Stres Setelah Kerja, Bikin Rumah Auto Lebih Adem!

Jangan anggap remeh. Karena kamu layak ada di lingkungan yang bikin kamu tumbuh, bukan yang bikin kamu terus merasa kurang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Healthline

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU