INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu habis ketemu teman, tapi bukannya senang malah merasa kosong, capek, atau bahkan kesepian?
Aneh memang. Harusnya pertemanan bikin hangat, bukan justru bikin hati terasa ditinggalkan.
Tapi inilah yang sering terjadi dalam toxic friendship — pertemanan yang terlihat biasa, tapi diam-diam menguras emosi kamu perlahan-lahan.
Dan yang paling bahaya? Banyak orang tidak sadar kalau mereka sedang ada di dalamnya.
Baca juga: Daftar Long Weekend dan Tanggal Merah Mei 2026, Catat Jadwal Liburnya!
Bukan Bahagia, Tapi Justru Makin Terasing
Dalam pertemanan yang sehat, kamu akan merasa lebih “terhubung” setelah bersama teman. Tapi di pertemanan yang tidak sehat, efeknya justru kebalikannya.
Kamu bisa saja sudah chat duluan untuk ngajak ketemu, tapi selalu diabaikan atau dijawab seperlunya, tidak pernah diajak saat mereka kumpul, atau tiba-tiba muncul kalau mereka butuh bantuan.
Pelan-pelan, kamu mulai sadar bahwa kamu seperti hanya “ada”, tapi tidak benar-benar dianggap bagian dari mereka.
Dan yang paling menyakitkan adalah ini: semakin sering kamu berinteraksi, semakin besar rasa hampa yang kamu rasakan.
Baca juga: Merinding! Rumah Anisa Rahma Ludes Terbakar, tapi 3.500 Alquran Ini Tetap Utuh
Kenapa Ini Bisa Terjadi Tanpa Kamu Sadari?
Toxic friendship itu sering tidak terlihat jelas di awal. Tidak selalu ada pertengkaran besar atau drama. Justru bentuknya halus, misalnya:
- Kamu yang selalu memulai komunikasi
- Kamu yang selalu memahami mereka
- Tapi mereka jarang melakukan hal yang sama
Akhirnya, hubungan jadi tidak seimbang. Kamu memberi banyak energi, tapi tidak mendapat hal yang sama sebagai balasan.
Baca juga: Teman atau Sumber Stres? Ini Tanda Teman Toxic yang Diam-Diam Bikin Kamu Cemas Sendiri
Efeknya Nggak Bisa Diremehkan
Jangan anggap ini hal sepele. Lingkungan pertemanan yang tidak sehat bisa mempengaruhi kondisi emosional kamu secara perlahan.
Beberapa dampaknya adalah kamu bisa merasa kesepian meski punya teman, kehilangan rasa percaya diri, overthinking setelah interaksi sosial, atau bahkan stres tanpa sebab yang jelas.
Yang lebih berbahaya, kamu bisa mulai merasa “ini normal”, padahal sebenarnya kamu sedang berada di hubungan yang tidak sehat.
Baca juga: Non-apology, Fenomena Permintaan Maaf Palsu yang Cenderung Toxic
Kalau Kamu Mulai Merasakannya, Jangan Abaikan
Pertanyaan sederhana yang bisa kamu tanyakan ke diri sendiri: “Setelah ketemu dia, aku merasa lebih baik atau justru lebih kosong?”
Kalau jawabannya sering “lebih kosong”, itu sinyal penting yang tidak boleh kamu abaikan. Karena pertemanan yang sehat seharusnya saling hadir, saling peduli, bukan hanya ada saat butuh.
Teman Seharusnya Jadi Rumah, Bukan Beban
Pertemanan yang baik bukan soal seberapa lama kalian kenal, tapi seberapa nyaman kamu menjadi diri sendiri di dalamnya.
Baca juga: Psikolog Ungkap Cara Berempati yang Tepat ke Pihak Berduka: Jangan Asal Menghibur
Kalau sebuah hubungan justru membuat kamu merasa sendirian, mungkin sudah waktunya kamu berhenti memaksa bertahan di tempat yang tidak lagi membuatmu tumbuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline