INDOZONE.ID - Saat mulai belajar bahasa Jawa, mungkin kamu akan menemukan berbagai jenis kalimat yang terdengar asing.
Salah satunya adalah ukara tanduk, yaitu jenis kalimat yang cukup sering dipelajari dalam materi bahasa Jawa.
Dalam bahasa Jawa, ukara tanduk merupakan kalimat yang memiliki konsep serupa dengan kalimat aktif dalam bahasa Indonesia.
Jenis kalimat ini digunakan untuk menunjukkan bahwa subjek menjadi pelaku utama dalam suatu tindakan.
Yuk, simak penjelasan lengkap mengenai pengertian, ciri-ciri, hingga contoh kalimat ukara tanduk berikut ini.
Pengertian Ukara Tanduk
Ukara tanduk adalah kalimat aktif dalam bahasa Jawa. Pada jenis kalimat ini, jejer (subjek) berperan sebagai pelaku yang melakukan suatu tindakan atau pekerjaan.
Tindakan tersebut dinyatakan melalui wasesa (predikat) dan dapat diikuti lesan (objek).
Sederhananya, ukara tanduk digunakan untuk menjelaskan, subjek melakukan suatu aktivitas.
Kata kerja yang digunakan umumnya berupa kata kerja aktif, baik yang diikuti objek maupun yang tidak.
Baca juga: Belajar Angka dalam Bahasa Jawa 1-100, Ngoko dan Krama serta Makna Filosofinya
Ciri-ciri Ukara Tanduk
Agar lebih mudah mengenalinya, berikut beberapa ciri-ciri ukara tanduk:
- Subjek (jejer) menjadi pelaku, yaitu orang atau benda yang melakukan suatu tindakan.
- Menggunakan tembung kriya tanduk, yaitu kata kerja aktif pada wasesa (predikat), seperti maca (membaca), nulis (menulis), masak (memasak), atau nyapu (menyapu).
- Kalimat menunjukkan adanya suatu kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan oleh subjek.
- Bisa memiliki objek (lesan) atau tidak, tergantung pada kata kerja yang digunakan.
- Makna kalimat bersifat aktif, sehingga subjek melakukan tindakan secara langsung, bukan menjadi pihak yang dikenai tindakan.
Pembagian Ukara Tanduk
Ukara tanduk dibagi menjadi dua jenis berdasarkan keberadaan objeknya:
1. Ukara Tanduk Mawa Lesan (Kalimat Aktif Transitif)
Kalimat aktif yang harus diikuti oleh lesan (objek) agar maknanya menjadi jelas dan utuh.
- Rumus: Jejer (J) + Wasesa (W) + Lesan (L)
2. Ukara Tanduk Tanpa Lesan (Kalimat Aktif Intransitif)
Kalimat aktif yang tidak membutuhkan lesan (objek). Kalimat ini biasanya hanya diakhiri oleh predikat atau ditambah dengan katrangan (keterangan).
- Rumus: Jejer (J) + Wasesa (W) + (Katrangan)
Contoh Ukara Tanduk
Berikut ini contoh ukara tanduk dalam bahasa Jawa beserta artinya:
1. Bapak maos koran ing teras.
Artinya: Ayah membaca koran di teras.
- Jejer: Bapak
- Wasesa: maos
- Lesan: koran
- Katrangan: ing teras
2. Aku maca buku ing perpustakaan.
Artinya: Saya membaca buku di perpustakaan.
- Jejer: Aku
- Wasesa: maca
- Lesan: buku
- Katrangan: ing perpustakaan
3. Ibu masak sayur ing pawon.
Artinya: Ibu memasak sayur di dapur.
- Jejer: Ibu
- Wasesa: masak
- Lesan: sayur
- Katrangan: ing pawon
4. Sinta nulis layang kanggo gurune.
Artinya: Sinta menulis surat untuk gurunya.
- Jejer: Sinta
- Wasesa: nulis
- Lesan: layang
- Katrangan: kanggo gurune
5. Rina nyapu latar saben esuk.
Artinya: Rina menyapu halaman setiap pagi.
- Jejer: Rina
- Wasesa: nyapu
- Lesan: latar
- Katrangan: saben esuk
6. Adik ngombe susu ing omah.
Artinya: Adik minum susu di rumah.
- Jejer: Adik
- Wasesa: ngombe
- Lesan: susu
- Katrangan: ing omah
7. Pak Guru nerangake pelajaran ing kelas.
Artinya: Pak Guru menjelaskan pelajaran di kelas.
- Jejer: Pak Guru
- Wasesa: nerangake
- Lesan: pelajaran
- Katrangan: ing kelas
8. Dheweke nandur kembang ing kebon.
Artinya: Dia menanam bunga di kebun.
- Jejer: Dheweke
- Wasesa: nandur
- Lesan: kembang
- Katrangan: ing kebon
Baca juga: 95+ Arane Anake Kewan: Daftar Terlengkap Nama Anak Hewan dalam Bahasa Jawa
Dengan memahami ukara tanduk, kamu akan lebih mudah membedakannya dengan ukara tanggap serta dapat menggunakannya dengan tepat dalam percakapan maupun tulisan berbahasa Jawa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Adjar.grid.id