INDOZONE.ID - Generasi Z atau Gen Z sering dituding sebagai generasi yang malas dan manja.
Padahal, kenyataannya, berbagai tantangan ekonomi dan sosial telah membuat mereka menjadi generasi dengan tingkat kemiskinan tertinggi.
Berdasarkan data dari Biro Sensus Amerika Serikat, banyak individu dan rumah tangga Gen Z yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Lantas, apa alasan Gen Z jadi generasi termiskin? Simak beragam alasannya di sini.
Mengapa Gen Z Menghadapi Tantangan yang Berbeda dari Generasi Sebelumnya?
Generasi Z tumbuh di era yang penuh dengan perubahan besar, baik dalam hal teknologi, ekonomi, maupun sosial.
Tidak seperti generasi sebelumnya, mereka menghadapi tantangan unik yang memengaruhi kemampuan untuk mencapai kestabilan finansial.
Mulai dari biaya hidup yang meningkat hingga perubahan di dunia kerja karena digitalisasi, kondisi ini menciptakan tekanan yang tidak pernah dialami oleh generasi sebelumnya.
Sebelum membahas alasan utama di balik kesulitan finansial Gen Z, penting untuk memahami bagaimana faktor eksternal ini memainkan peran besar dalam membentuk realitas ekonomi mereka.
Baca Juga: Trend Pensiun Dini di Kalangan Gen Z dan Milenial, Ini Pesan Salah Satu Bos Asuransi di Singapura!
11 Alasan Gen Z Diklaim sebagai Generasi yang Termiskin
1. Menunda Pernikahan
Gen Z lebih memilih fokus pada pendidikan, karier, dan pengembangan diri ketimbang membangun keluarga sejak dini.
Meski banyak dari mereka terbuka untuk menikah di masa depan, menjalani hidup tanpa pasangan berarti mereka kehilangan keuntungan dari pendapatan ganda dalam rumah tangga.
Akibatnya, mereka harus menanggung semua biaya hidup sendiri, termasuk pajak yang lebih tinggi.
Ilustrasi Gen Z yang khawatir tentang kesiapan kerja. (freepik.com)
2. Beban Utang Pendidikan yang Besar
Biaya pendidikan yang terus meningkat membuat Gen Z terjebak dalam utang yang sulit dilunasi.
Selain itu, ketidakstabilan ekonomi memperburuk situasi. Sebab, banyak dari mereka kesulitan menemukan pekerjaan untuk membayar utang, sambil memenuhi kebutuhan hidup.
3. Harga Rumah Tidak Terjangkau
Generasi ini lebih banyak menjadi penyewa dibandingkan pemilik rumah. Kenaikan harga properti dan biaya sewa yang tinggi, membuat mereka sulit menabung untuk uang muka rumah.
Ditambah lagi, mereka harus menghadapi tekanan inflasi untuk kebutuhan sehari-hari seperti listrik, makanan, dan transportasi.
Baca Juga: Benarkah Perbedaan Budaya Kerja Jadi Alasan Utama Gen Z Kehilangan Pekerjaan? Ini Jawabannya!
4. Pendidikan Tinggi Tidak Lagi Menjamin Pekerjaan
Janji pendidikan tinggi akan membawa kesuksesan finansial tidak lagi berlaku. Pasar kerja yang kompetitif dan ekspektasi pengalaman kerja, membuat banyak Gen Z kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak.
5. Teknologi dan AI Mengurangi Peluang Kerja
Kemajuan teknologi dan otomatisasi telah mengubah pasar kerja, membuat beberapa pekerjaan menjadi usang.
Banyak Gen Z yang terpaksa mencari karier baru atau melanjutkan pendidikan tambahan agar tetap relevan. Akan tetapi, itu justru menambah beban keuangan mereka.
6. Hutang Kartu Kredit yang Meningkat
Gen Z adalah generasi yang mengalami peningkatan utang kartu kredit tercepat. Tekanan ekonomi pasca pandemi, ditambah kurangnya pendidikan literasi keuangan, membuat mereka sulit mengelola keuangan dengan bijak.
7. Tidak Memiliki Tabungan Darurat
Survei menunjukkan, bahwa sebagian besar Gen Z tidak memiliki tabungan darurat yang cukup untuk menutupi pengeluaran selama tiga bulan.
Dengan pendapatan terbatas, mereka tidak hanya kesulitan menabung untuk masa depan, tetapi juga untuk kebutuhan darurat seperti kesehatan.
8. Menghadapi PHK Secara Masif
Pasar kerja yang tidak stabil membuat Gen Z rentan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK).
Tanpa tabungan darurat, mereka sering kali bergantung pada utang untuk bertahan hidup setelah kehilangan pekerjaan, yang makin memperburuk situasi keuangan mereka.
9. Lebih Banyak Menghabiskan Uang untuk Pengalaman
Tekanan dari media sosial membuat Gen Z merasa perlu menjalani hidup secara maksimal meski finansial tidak mendukung.
Mereka sering menghabiskan uang untuk pengalaman, seperti liburan, makan di luar, dan hiburan, sebagai bentuk pelarian dari stres dan tekanan sosial.
10. Kurangnya Literasi Keuangan
Tanpa pendidikan keuangan yang memadai, baik dari sekolah formal maupun bimbingan orang tua, banyak Gen Z kesulitan mengelola utang, menyisihkan uang untuk tabungan, dan merencanakan masa depan dengan baik.
Menurut sebuah studi dari TIAA Institute, terdapat kesenjangan pemahaman keuangan yang signifikan antara Gen Z dan generasi sebelumnya.
Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan pendidikan finansial yang lebih inklusif, tanpa stigma, untuk mencegah munculnya kecemasan dan rasa malu di kalangan pelajar.
11. Tekanan Konsumerisme Impulsif
Dengan kemudahan akses media sosial dan platform e-commerce populer, seperti TikTok, Gen Z menghadapi tekanan lebih besar untuk memenuhi keinginan konsumtif ketimbang generasi sebelumnya.
Dari ekspektasi sosial yang dipengaruhi oleh influencer hingga kemudahan membeli hanya dengan satu klik, generasi muda sering kehilangan kesadaran akan pentingnya membeli sesuatu secara bijak.
Sebagai cara untuk mengatasi kecemasan finansial, kesehatan mental yang terganggu, dan dampak dari epidemi kesepian, belanja impulsif sering menjadi pelarian jangka pendek bagi banyak Generasi Z.
Aktivitas ini memberikan rasa senang sementara kepada Gen Z yang didapat dari pengalaman belanja online.
Namun, keinginan kolektif mereka untuk menemukan penerimaan dan rasa memiliki dapat dengan cepat meningkatkan stres keuangan dan utang.
Kebiasaan belanja impulsif ini justru memperburuk ketidaknyamanan dan rasa tidak aman dalam hidup, menambah beban pada masa depan finansial mereka.
Dengan memahami akar masalah ini, kamu diharapkan tercerahkan sehingga bisa mengambil keputusan terbaik untuk melepaskan diri dari kesulitan finansial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Yourtango.com