Mengenal Transplantasi Hati, Penyakit yang Diduga Penyebab Kematian Aktris Michelle Trachtenberg
INDOZONE.ID - Aktris Michelle Trachtenberg dikabarkan meninggal dunia di usia 39 tahun, kemarin, Rabu 26 Februari 2025, pagi WIB.
Michelle Trachtenberg adalah mantan bintang cilik yang terkenal lewat berbagai perannya di TV dan film termasuk "Buffy the Vampire Slayer" dan "Gossip Girl", yang kini sudah tutup usia.
Mantan bintang cilik ini diketahui menjalani transplantasi hati dalam setahun terakhir, namun tubuhnya mungkin menolak organ tersebut.
Baca Juga: Kerusakan Hati Akibat Alkohol: Kenali Gejala dan Cara Melindungi Hati Wanita!
INDOZONE akan menjelaskan kepada kamu, mengenai penyakit Transplantasi Hati yang diduga penyebab kematian mantan aktris cilik Michelle Trachtenberg.
Apa Itu Transplantasi Hati?
Transplantasi Hati merupakan operasi untuk mengganti hati yang sakit dengan hati yang sehat dari orang lain. Seluruh hati bisa ditransplantasikan. Atau sebagian hati bisa ditransplantasikan dari orang lain.
Berdasarkan kebanyakan kasus, hati yang sehat akan yakni berasal dari pendonor organ yang baru saja meninggal (donor yang sudah meninggal).
Lantaran orang yang masih hidup dan sehat juga bisa menyumbangkan sebagian hatinya. Pendonor yang masih hidup bisa jadi anggota keluarga.
Selain itu bisa juga lewat seseorang yang tidak ada hubungan darah dengan kamu namun golongan darahnya cocok.
Orang yang mau mendonorkan sebagian hatinya bisa menjalani pola hidup sehat dengan hati yang tersisa.
Hati merupakan satu-satunya organ dalam tubuh yang bisa menggantikan jaringan yang hilang atau cedera (beregenerasi). Tak hanya itu, hati pendonor akan segera tumbuh kembali ke ukuran normal setelah menjalani operasi.
Kemudian, bagian yang kamu dapatkan sebagai hati baru juga akan tumbuh ke ukuran normal dalam beberapa bulan.
Proses Evaluasi Transplantasi
Kalau penyedia layanan kesehatan kamu mennganggap kamu mungkin kandidat yang baik untuk transplantasi hati, mereka akan merujuk kamu ke pusat transplantasi untuk melakukan evaluasi.
Kamu akan menjalani banyak tes yang dilakukan oleh tim transplantasi. Mereka akan memutuskan apakah nama kamu harus dimasukkan ke dalam daftar tunggu transplantasi nasional. Tim pusat transplantasi meliputi:
- Seorang dokter bedah transplantasi
- Penyedia transplantasi yang mengutamakan diri dalam mengobati hati (hepatologis)
- Perawat transplantasi
- Seorang pekerja sosial
- Seorang psikiater atau psikolog
- Anggota lain, seperti ahli gizi, pendeta, atau ahli anestesi
Proses Evaluasi Transplantasi Meliputi:
- Evaluasi psikologis dan sosial. Banyak isu berbeda-beda, isu-isu tersebut bisa melalui stres, masalah keuangan, dan apakah kamu akan mendapat dukungan dari keluarga atau teman setelah operasi.
- Tes darah. Tes ini dilakukan untuk membantu menemukan donor yang cocok dan menilai keutamaan kamu dalam daftar tunggu. Tes ini membantu meningkatkan kemungkinan tubuh kamu tidak akan menolak hati donor.
- Tes diagnostik. Tes ini bisa dilakukan untuk memeriksa kesehatan hati dan kesehatan umum kamu. Tes ini bisa meliputi rontgen, USG, biopsi hati, tes jantung dan paru-paru, kolonoskopi, dan pemeriksaan gigi.
Baca Juga: Waspada! Ini 5 Tanda Adanya Fatty Liver di Tubuh Kamu
Tim pusat transplantasi akan menindaklanjuti semua informasi. Setiap pusat transplantasi mempunyai wewenang mengenaai siapa saja yang bisa menerima transplantasi hati.
Risiko Transplantasi Hati
Semua langkah-langkah pasti memiliki risiko. Beberapa komplikasi dari operasi hati bisa meliputi:
- Pendarahan
- Infeksi
- Pembuluh darah tersumbat ke haati baru
- Kebocoran empedu atau saluran empedu tersumbat
- Hati baru tidak berfungsi untuk waktu yang singkat setelah operasi
Hati baru kamu mungkin akan ditolak oleh sistem imun tubuh. Penolakan merupakan reaksi normal tubuh terhadap benda atau jaringan asing.
Saat hati baru ditransplantasikan ke tubuh kamu, sistem imun kamu menganggapnya sebagai ancaman dan menyerangnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Hopkinsmedicine.org