INDOZONE.ID - Merokok dan minum minuman beralkohol tak diragukan lagi merupakan aktivitas yang berisiko memicu kanker. Berbagai kampanye kesehatan telah digalakkan untuk mengurangi konsumsinya.
Kampanye tersebut diperkirakan menyelamatkan lebih dari 3,4 juta orang dari kematian akibat kanker paru-paru yang disebabkan oleh rokok dan minuman beralkohol.
Akan tetapi, masyarakat luas belum menyadari beberapa aktivitas lain yang dapat memicu kanker. Hal tersebut diungkapkan oleh Mikkael A. Sekeres, MD dalam tulisannya di The Washington Post.
Ia merupakan profesor kedokteran dan Kepala Divisi Hematologi Sylvester Comprehensive Cancer Center, University of Miami. Ia juga penulis buku When Blood Breaks Down: Life Lessons from Leukemia dan Drugs and the FDA: Safety, Efficacy, and the Public’s Trust.
Berikut adalah lima hal sepele yang dapat sebabkan kanker:
Baca Juga: Perhatian! Cukup 5 Menit Aktivitas Fisik Setiap Hari, Bisa Menjaga Kesehatan Otak
1. Tato
Di era modern seperti saat ini tato bukan lagi hal yang tabu. Tubuh penuh rajah sudah menjadi pemandangan lumrah di tengah masyarakat.
Data dari Pew Research Center bahkan menyebutkan bahwa satu dari 3 orang Amerika memiliki tato.
Kaitan tato dan kanker memang sangat kecil. Namun, 21 persen penderita kanker getah bening atau limfoma yang dianalisis di Swedia ternyata memiliki tato di tubuhnya.
Penelitian lain terhadap saudara kembar di Denmark juga menunjukkan hubungan antara tato dan kanker (limfoma dan kulit).
Kendati demikian, Sekeres menilai perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan keduanya. Sebab, penelitian sebelumnya belum dapat membuktikan secara pasti bahwa tato adalah penyebab kanker.
2. Mengisap shisha atau hookah
Shisha atau hookah adalah alat mengisap tembakau yang berasal dari Timur Tengah. Metode ini menggunakan pipa air untuk menghirup asap tembakau yang dipanaskan.
Asapnya disaring melalui air dan biasanya ditambahkan rasa buah dan madu atau yang lainnya.
Meski tidak mengandung nikotin seperti rokok konvensional atau vape, rokok sisha mengandung racun dan bahan kimia pemicu kanker.
Pada umumnya orang akan mengira bahwa rokok shisha lebih aman dari rokok biasa atau vape.
Akan tetapi pada kenyataannya merokok sisha justru jauh lebih berbahaya.
Orang yang mengisap shisha dapat menghirup lebih banyak karbon monoksida, karena durasi merokok shisha jauh lebih lama.
Saat merokok shisha selama satu jam, orang akan menghirup asap 100-200 kali lebih banyak dari rokok biasa.
Baca Juga: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganan Mata Merah
3. Minuman yang terlalu panas
Ilustrasi teh panas. (Freepik)
Di Tiongkok, sebuah penelitian terhadap 450 ribu orang dilakukan selama sembilan tahun. Sebanyak 1.731 orang di antaranya mengidap kanker esofagus. Kanker itu berkembang di kerongkongan sehingga menyebabkan pengidapnya sulit menelan, batuk hingga mengalami pendarahan.
Orang yang minum teh terlalu panas dan minum alkohol setiap hari memiliki kemungkinan lima kali lipat terkena kanker esofagus. Sementara orang yang minum teh terlalu panas dan merokok berisiko dua kali lipat lebih tinggi.
Meminum teh yang suhunya lebih dari 140 derajat Fahrenheit dapat merusak sel-sel di kerongkongan jika dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun.
Di inggris hal serupa terjadi. Penelitian menunjukkan kanker esofagus terjadi dua kali lipat lebih tinggi pada orang yang minum 4-6 cangkir kopi atau teh panas setiap hari.
Akan tetapi, penelitian lain juga menemukan bahwa minum teh dapat menurunkan risiko kematian akibat kanker dan penyakit kardiovaskular (penyakit pada jantung dan pembuluh darah).
Dengan demikian, kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa bukan teh yang menjadi penyebab kanker, melainkan suhu air.
4. Pelurus rambut dan pewarna kimia
Penelitian yang melibatkan lebih dari 46.000 wanita pada tahun 2020 menunjukkan bahwa penggunaan warna rambut permanen meningkatkan risiko kanker payudara. Sementara pelurus rambut berkaitan dengan risiko kanker payudara dan ovarium.
Hal ini terjadi karena kandungan formaldehida di dalamnya. Demi meminimalkan risiko kanker, dokter Sekeres menyarankan untuk memperhatikan kandungan formaldehida pada produk yang digunakan.
Baca Juga: Cuma 3 Menit Beres-beres Rumah, Risiko Serangan Jantung Bisa Turun Drastis
5. Daging yang dimasak dengan suhu tinggi
Daging sapi, ayam, ikan atau babi yang dipanggang dengan suhu tinggi dapat menghasilkan zat kimia karsinogenik (sifat zat pemicu kanker) seperti amina heterosiklik dan hidrokarbon aromatik polisiklik, dan lain lain.
Zat tersebut muncul saat protein daging bereaksi dengan panas dan ketika lemak serta sari daging menetes ke permukaan api sehingga menimbulkan nyala api dan asap.
Karena itu dokter menyarankan untuk mengurangi konsumsi daging panggang dalam sebulan.
"Lebih baik mengurangi memanggang, dan masing-masing dari kita harus menentukan toleransi kita sendiri terhadap risiko saat memutuskan seberapa sering mengonsumsi daging panggang. Saya membatasi konsumsi saya sendiri tidak lebih dari sekali per bulan," imbau Sekres seperti dilansir The Washington Post.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Washington Post