Mengenal Ukuwala Mahiate, Tradisi Pukul Sapu di Maluku Tengah yang Dilakukan Setiap Bulan Syawal
INDOZONE.ID - Ukuwala mahiate atau pukul sapu adalah salah satu tradisi unik asal Indonesia timur, tepatnya Maluku Tengah, yang dilakukan setiap tanggal 7 Syawal dengan menggunakan sapu lidi sebagai senjata.
Tradisi pesta pukul sapu dilakukan dengan cara mencambuk lidi berkali-kali dari pohon enau ke tubuh, tanpa baju. Aksi ini dilakukan oleh sejumlah pemuda yang saling mencambuk dengan iringan musik Totobuang.
Baca juga: Cara Bayar dan Hitung Utang Puasa Ramadhan Bertahun-Tahun Sesuai Syariat Islam
Asal Kata Ukuwala Mahiate
Kata ukuwala berasal dari bahasa negeri Mamala, yang artinya sapu lidi. Sedangkan mahiate berarti baku pukul. Jika digabungkan arti ukuwala mahiate adalah baku sapu lidi atau familiar disebut pukul menyapu.
Tradisi ini biasanya dipentaskan di Desa Mamala dan Desa Morella, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah.
Tradisi ini pertama kali diciptakan oleh tokoh agama Islam dari Maluku bernama Imam Tuni, dan sudah berlangsung sejak abad XVII.
Baca juga: Kemenbud Tegaskan Komitmen Lestarikan Situs Cibalay dan Arca Domas
Simbol Persaudaraan dan Kebersamaan
Tradisi ini memiliki nilai filosofis persaudaraan, tanpa memandang suku, agama, dan ras. Mereka menganggap rasa senang dan sakit itu harus dirasakan bersama untuk terwujudnya kehidupan harmonis antar sesama.
Akan tetapi, ada yang menilai bahwa tradisi tersebut berkembang dari sejarah masyarakat Maluku Tengah saat bertempur untuk mempertahankan Benteng Kapapaha dari serangan penjajah.
Pasukan Maluku Tengah dipimpin oleh Kapiten Telukabessy, harus merasakan kekalahan. Sebagai tanda, Kapiten Telukabessy mengambil lidi enau, lalu saling mencambuk hingga berdarah.
Baca juga: 9 Tradisi Jambi yang Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemenbud
Adu Lidi Antar Pemuda
Tradisi Pukul Sapu diikuti 20 peserta dari dua desa tersebut. Mereka saling berhadapan dan memegang sapu lidi di kedua tangan. Selanjutnya, kedua kelompok tersebut saling mengayunkan lidi ketika suling ditiup.
Uniknya, mereka melakukan itu tanpa merasakan sakit. Setelah selesai, pemuda kedua desa mengobati luka dengan getah pohon jarak.
Selain itu, ada yang mengolesi minyak ‘nyualaing matetu’ (minyak tasala). Minyak ini dinilai ampuh buat mengobati patah tulang dan luka memar. Luka ini akan sembuh dalam beberapa minggu tanpa bekas.
Baca juga: Mengenal Ngumbahkeun Pusaka, Tradisi Merawat Warisan Leluhur dalam Budaya Sunda
Daya Tarik Wisata
Bagi masyarakat Mamala dan Morella, tradisi ini adalah bentuk syukur atas kehidupan yang dilalui. Tradisi ini diharapkan jadi refleksi dan wadah untuk menjaga nilai budaya agar tetap hidup.
Selain pelestarian budaya, tradisi Pukul Sapu menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk melihatnya secara langsung. Prosesi ini dapat menunjukkan kepada dunia bahwa ada budaya yang unik dan menginspirasi berasa dari Maluku Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA, Amatan