INDOZONE.ID - Desa Wamana Baru yang berlokasi di Pulau Buru, merupakan desa pelosok dan terisolir di Provinsi Maluku.
Tak cuma wilayah yang terisolir, terdapat keunikan tersendiri dari masyarakat yang ada di sana.
Jejak perjalanan menuju Desa ini cukup panjang. Dari Jakarta, perjalanan harus menggunakan pesawat menuju Bandara Pattimura, Maluku. Dari sana, perjalanan dilanjut menggunakan pesawat Wings.
Perjalanan dilanjut menggunakan kendaraan roda dua yang memakan waktu berjam-jam. Kontur jalan mulus perbukitan hingga menembus hutan pada malam hari harus dilalui.
Setiba di ujung jalan, jalan hutan terhenti lantaran dibelah sungai yang cukup dengan arus cukup deras. Kendaraan mobil apalagi motor terpaksa lumpuh tidak dapat dilalui.
Baca juga: Petani Muda Klaten dan Puskestan Gelar Tradisi Wiwitan di Desa Sribit
Akses Jalan Lumpuh
Sandi, pria lokal asal Wamana Baru ini mengungkap jika akses jalan menuju desa tersebut memang terputus. Sebuah rakit untuk menyebrangi sungai menjadi satu-satunya akses ke desa.
"Aksesnya enggak pelosok banget, tapi jauh terisolasi dikelilingi hutan dan gunung. Aksesnya terputus tidak ada jembatan harus lewat kali besar. Kalau banjir semua aktivitas berhenti," kata Sandi.
Lepas dari rakit dan sungai, perjalanan harus dilalui baik menggunakan sepeda motor ataupun jalan kaki dengan jarak sekitar 1 km hingga tiba di desa tersebut.
Tanpa Internet
Jurnalis Indozone mendapat kesulitan dalam menghasilkan artikel di desa tersebut. Dua device dengan operator besar berbeda seolah lumpuh disana.
Jaringan memang ada, namun internet lumpuh dan tidak bisa digunakan. Satu-satunya internet disana menggunakan wifi yang mereka sebut dengan starling.
Wifi tersebut hanya berupa kertas berisi password yang berbeda-beda setiap devicenya. Penggunaanya hanya bisa 15 jam.
Satu Rumah Beda Agama
Jika diulik lebih dalam, rupanya warga di sana tidak 100 persen memeluk agama Islam. Dalam satu rumah, kata Sandi, mereka bisa memiliki agama lebih dari satu, namun tetap rukun.
"Desa Wamana Baru itu Desa Mualaf tapi keunikannya agama yang dianut dalam satu rumah bisa tiga agama. Ada Islam, Hindu, Kristen tapi semua hidup berdampingan," kata Sandi.
"Sekitar 80 persen warga disana seperti itu. Di satu rumah ada yang Hindu, Islam memang agak unik," sambungnya.
Diungkap pula jika masyarakat disana sejatinya beragama muslim namun mencoba memilih agama lain. Jika sudah tidak kuat, warga disana diarahkan kembali ke agama islam.
"Kalau dari leluhurnya kalau tidak kuat di hindu kamu balik ke Islam. Jadi dia bisa dibilangnya Islam terus pilih Hindu, tapi kalau nggak kuat disuruh balik ke Islam," kata Sandi.
Baca juga: Mengenal Kampung Ciptagelar di Jawa Barat, Desa Adat yang Tetap Jaga Tradisi Sejak Abad 14
Tradisi Mistis yang Tertutup
Berbicara mengenai mistis di sana, Sandi enggan berkomentar lebih dalam. Pasalnya dia mengaku jika hal mistis disana tertutup dan tidak bisa diekspos secara publik.
"Jadi di desa mistisnya itu sangat tinggi ya. Mereka masih memegang teguh adat istiadat Pulau Buru di situ paling kental di situ. Adatnya itu kalau kita disana ada yang kita nggak bisa ceritakan tentang sejarah Pulau Buru," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung