Jumat, 26 JUNI 2026 • 05:05 WIB

Tari Jaipong Berasal Dari Mana? Mengupas Sejarah, Makna, dan Simbol Gerakannya

Author

Ilustrasi tari jaipong berasal dari Jawa Barat. (Nano Banana/gemini.google.com)

INDOZONE.ID - Indonesia merupakan negara yang dianugerahi kekayaan seni budaya yang melimpah, salah satunya adalah seni tari tradisional. Dari ujung barat hingga timur Nusantara, setiap daerah memiliki identitas tariannya masing-masing. Di ranah Sunda, ada satu tarian yang sangat ikonik, energik, dan mengundang decak kagum penontonnya, yakni Tari Jaipong.

Sebagai pertunjukan tari yang masih berpijak pada seni rakyat, kesenian ini berhasil menarik minat banyak orang dari berbagai kalangan, bahkan hingga ke mancanegara. Namun, tahukah Anda sebenarnya tari jaipong berasal dari daerah mana? Bagaimana sejarah perkembangannya, serta apa pesan tersembunyi di balik gerakannya yang luwes? Berikut adalah ulasan lengkapnya.

Baca juga: Apa Itu Tari Tunggal? Pengertian dan Contoh Tari Tradisional Lengkap

Sejarah dan Asal-usul: Tari Jaipong Berasal Dari Mana?

Banyak orang menyangka bahwa tari Jaipong berasal dari kota Bandung. Faktanya, tari Jaipong adalah tarian tradisional dari Jawa Barat yang aslinya berasal dari daerah Karawang.

Tarian yang bernuansa ceria dan humoris ini diciptakan pada era tahun 1960-an oleh seorang seniman berbakat asal Karawang bernama H. Suanda. Haji Suanda merupakan seniman yang sangat menguasai berbagai kesenian tradisional, seperti Wayang Golek, Pencak Silat, Ketuk Tilu, dan Topeng Banjet.

Pada mulanya, tarian ini lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan tari banjet. Suanda menciptakan inovasi ini dengan cara menggabungkan unsur gerak tari ketuk tilu, tari ronggeng, tari topeng, dan gerakan pencak silat menjadi sebuah kesenian baru yang utuh. Alasan beliau menciptakan tarian ini adalah keinginan untuk menampilkan sesuatu yang baru di dunia seni pertunjukan Karawang, mengingat saat itu hiburan rakyat masih sangat terbatas.

Awalnya, tarian ciptaan Suanda ini dipentaskan tanpa pola baku dan gerakannya sangat spontan, diiringi oleh instrumen musik gamelan seperti gendang, degung, rebab, gong, ketuk, kecrek, serta alunan suara sinden. Adapun nama "Jaipong" sendiri konon diambil dari pertunjukan Topeng Banjet yang dibawakan oleh seniman Ijem dan Ali Syahban, di mana mereka melantunkan kata tersebut untuk meniru bunyi pukulan gendang "blaktingpong".

Keunikan tarian ini kemudian menarik perhatian seorang seniman Sunda bernama Gugum Gumbira pada sekitar tahun 1970-an. Gugum Gumbira kemudian membawa tarian ini ke Bandung, menyusun ulang semua gerakannya agar lebih teratur, dan menerapkan pola gerak yang lebih atraktif hingga akhirnya tarian ini populer dengan nama Jaipong. Melansir situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), H. Suanda dan Gugum Gumbira tercatat sebagai pencipta Tari Jaipong pada tahun 1975.

Baca juga: Pola Lantai Tari Saman: Filosofi, Makna, dan Nilai Kekompakan Budaya Aceh

Pola Gerakan, Formasi, dan Pola Lantai Tari Jaipong

Dalam penyajiannya, tarian Jaipong yang dikembangkan oleh Gugum Gumbira di Bandung memiliki pola yang terstruktur (Ibing Pola), sangat berbeda dengan Jaipong asli Karawang yang lebih mengandalkan improvisasi pemainnya mengikuti irama musik (Ibing Saka). Menariknya, tarian seni ini sangat fleksibel karena bisa dimainkan secara tunggal, berpasangan, maupun berkelompok.

4 Pola Dasar Gerakan Tari Jaipong Secara umum, terdapat empat pola gerakan utama yang wajib dikuasai oleh penari Jaipong, yaitu:

  • Bukaan: Merupakan gerakan pembuka dalam pementasan saat pertunjukan dimulai. Ada beberapa jenis gerakan bukaan, salah satunya penari berjalan memutar dengan lemah gemulai sembari memainkan selendang yang berada di lehernya.
  • Pencugan: Sebuah gerakan yang energik dan cepat sehingga dapat menguras stamina penari. Gerakan pencugan ini sering kali sangat menarik hingga membuat penonton ikut terbawa suasana pertunjukan.
  • Ngala: Gerakan unik berupa gerakan 'patah-patah' yang menandai perpindahan penari dari satu titik ke titik lainnya dan ditarikan dengan cepat menyerupai pencugan.
  • Mincid: Merupakan gerakan transisi atau perpindahan dari satu gerakan ke gerakan lainnya, yang umumnya dilakukan setelah penari melakukan gerakan Ngala.

Selain keempat pola di atas, ada tiga gerakan dasar pinggul yang menjadi roh dari keluwesan tari Jaipong, yakni Geol (fokus pada area pinggul), Gitek (ayunan pinggul dengan hentakan), dan Goyang (ayunan pinggul halus tanpa hentakan).

Formasi dan Pola Lantai Tari Jaipong

Koreografi kelompok dalam tarian ini tidak sembarangan. Dilansir dari Jurnal Peka Volume 1 No. 1 2017 Universitas Muhammadiyah Sukabumi karya Annisa Enistoneisya dan Ana Setiani, secara spesifik (misalnya pada tari jaipong kembang tanjung), penari menggunakan ragam pola lantai seperti horizontal, vertikal, diagonal, diagonal V, zigzag, hingga melingkar.

Berikut adalah rincian formasi pola lantainya:

  • Diagonal V
    Formasi ini digunakan pada awal pembukaan tari jaipong menggunakan gerakan bukaan. Satu orang penari berada di depan sebagai pusatnya, sementara penari lainnya berbaris melebar ke belakang sehingga membentuk huruf V.
  • Bentuk Melingkar
    Formasi ini bentuknya menyerupai bundaran. Dalam pementasan, satu kelompok bisa dibagi menjadi dua bundaran yang menunjukkan tingkat kekompakan tim.
  • Bentuk Melengkung
    Formasi yang banyak digunakan pada tari rakyat dan tari tradisi ini sengaja dipakai untuk memberikan kesan yang lemah dan lembut, serta memberi kesan manis pada tarian.
  • Bentuk Garis Lurus
    Pada formasi garis lurus, terdapat beberapa turunan bentuk seperti vertikal, horizontal, dan diagonal. Gerakan yang dominan digunakan pada formasi ini adalah bukaan dan pencugan.

Baca juga: 7 Seni Tari Tradisional yang Cocok untuk Anak Muda, Penuh Gaya dan Ekspresi

Apa Simbol dan Makna dari Tari Jaipong?

Tari Jaipong bukan sekadar pertunjukan estetika semata, melainkan memiliki simbolisasi yang sangat kuat terhadap kedudukan perempuan.

Apa simbol tari Jaipong?

Tarian ini merupakan simbol representasi dari karakteristik wanita Sunda masa kini yang tidak pantang menyerah, energik, berani, ramah, genit, lincah, mandiri, bertanggung jawab, namun tetap menjunjung tinggi kesantunan.

Kehadiran Jaipong secara langsung mendobrak dan mengubah stereotip budaya lama yang kerap melabeli wanita Sunda dengan sebutan "berparas cantik namun malas".

Lewat tarian ini, tersirat sebuah pesan mendalam bahwa di balik kelembutan dan keanggunan fisik seorang wanita, terdapat tekad kuat untuk menjadi diri sendiri tanpa terhambat oleh sudut pandang atau penilaian bias dari orang lain.

Apa makna dari tari Jaipong?

Lebih detail lagi, setiap bentuk variasi gerakan anggota tubuh dalam tari jaipong mengandung makna dan nilai filosofisnya masing-masing. Berikut adalah rincian makna dari setiap gerakan tari Jaipong:

Nama Gerakan Penjelasan Gerakan Makna Gerakan
Cingeus Gerakan yang menggerakkan bagian kepala dan tubuh penari secara luwes. Representasi dari tingkat kecekatan dan keluwesan seorang wanita dalam menapaki setiap jejak kehidupannya.
Gerakan Kaki Terdiri dari beberapa jenis langkah, seperti gerak depok, gerak minced, dan gerak sonteng. Melambangkan kegesitan dan sifat adaptif wanita Sunda dalam menjalani dinamika kehidupan sehari-hari.
Meliuk Penari meliuk-liukkan bagian tubuhnya secara dinamis menyesuaikan dengan tempo alunan musik. Merepresentasikan sifat fleksibel dan tangguh yang dimiliki seorang wanita saat harus menghadapi berbagai problematika kehidupan.
Ngagaleong Penari menonjolkan gerak-gerik dan memainkan sorot matanya yang tajam tertuju pada suatu objek tertentu. Mengandung pesan bahwa wanita harus berani menyuarakan pendapatnya dengan lantang dan mampu melakukan komunikasi dengan baik.
Variasi Gerakan yang secara konstan menyesuaikan dinamika musik, berawal dari tempo lambat ke cepat maupun sebaliknya. Simbol dari sifat yang tidak menjemukkan, serta kemampuan wanita untuk selalu membaur dengan segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya.

Baca juga: Apa Saja Properti Tari Jaipong? Ini Penjelasannya

Sekelompok remaja putri sedang menari tari jaipong di sebuah pertunjukan. (Dall-E 3/ChatGPT)

Ciri Khas Tari Jaipong

Dalam perkembangannya, tarian ini melahirkan sebuah ciri khas gaya baru yang dikenal dengan istilah gaya kaleran. Ciri khas utama dari tari Jaipong gaya kaleran ini sangat menonjolkan aspek humanisme, keceriaan, semangat, erotisme, kesederhanaan, dan spontanitas.

Ciri khas ini umumnya disajikan oleh seorang penari tunggal wanita yang dikenal dengan sebutan Sinden Tatandakan (seorang sinden yang tidak bernyanyi tetapi menarikan lagu dari Juru Kawih). Dipadukan dengan musik pengiring yang riang, tarian ini sanggup memecahkan suasana, menghibur masyarakat, bahkan tidak jarang membuat penonton tertawa terbawa suasana bahagia.

Kini, meski hiburan modern kian menjamur, tari Jaipong telah menjelma menjadi identitas resmi Provinsi Jawa Barat. Tarian ini tidak hanya ditarikan oleh rakyat biasa untuk hiburan semata, namun juga secara resmi kerap ditampilkan dalam acara-acara protokoler kenegaraan, seperti untuk menyambut tamu negara yang berkunjung ke Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU