Iustrasi emosi negatif. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba merasa marah, sedih, atau pengin nangis padahal nggak ada alasan jelas? Hari kamu biasa aja, nggak ada drama, tapi tiba-tiba emosimu meledak begitu saja.
Kalau pernah, bisa jadi kamu sedang mengalami yang disebut emotional backlog, istilah kekinian untuk menggambarkan penumpukan emosi yang nggak pernah tersalurkan.
Fenomena ini makin sering dibahas belakangan karena banyak orang mulai sadar bahwa bukan hanya tubuh yang bisa burnout, tapi perasaan juga.
Ketika terlalu sering menahan emosi atau mengabaikan perasaan, lama-lama hal itu bisa menumpuk di "lemari emosi" dalam kepala—dan suatu hari, lemari itu bisa jebol.
Baca juga: Mau Mix and Match Dopamine Dressing dan Quiet Luxury? Ini Cara Biar Nggak Norak!
Emotional backlog secara sederhana adalah kondisi saat emosi-emosi yang belum terselesaikan atau tertahan lama akhirnya muncul ke permukaan tanpa peringatan.
Ini bisa berupa amarah yang kamu simpan selama berbulan-bulan, kesedihan dari perpisahan yang nggak pernah kamu proses, atau kekecewaan yang terus kamu pendam karena merasa “nggak penting untuk dibahas.”
Orang yang sering memprioritaskan orang lain dan mengabaikan kebutuhannya sendiri rentan mengalami emotional backlog.
Mereka terbiasa terlihat “baik-baik saja”, padahal jauh di dalam hati sedang berjuang keras menahan beban yang tak terlihat. Emosi negatif itu tidak hilang—hanya ditunda.
Baca juga: 111 Caption Lucu tentang Sahabat, Bahasa Inggris dan Artinya!
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami emotional backlog:
Kamu punya banyak tanggung jawab, jadi memilih untuk mengabaikan emosi agar tetap bisa produktif.
Terlalu memaksa diri untuk “harus selalu bahagia,” sampai lupa mengakui emosi negatif sebagai bagian dari hidup.
Khususnya bagi pria atau orang dengan latar belakang keluarga yang menilai emosi sebagai kelemahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Harley Therapy Platform