Mirror Touch Synesthesia, Merasakan sakit apa yang orang lain alami (sumber: udel.edu)" data-author="" data-source="" data-credit="" data-watermark="0">Mirror Touch Synesthesia, Merasakan sakit apa yang orang lain alami (sumber: udel.edu)
INDOZONE.ID - Bayangkan kamu melihat seseorang tersandung batu, lalu tanpa sadar kamu ikut mengernyit kesakitan, bukan hanya empati, tapi tubuhmu juga ikut terasa nyeri di bagian yang sama. Kalau kamu pernah mengalaminya, bisa jadi kamu mengalami kondisi neurologis" target="_blank" rel="noopener">neurologis langka bernama Mirror Touch Synesthesia.
Fenomena ini terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi ternyata benar-benar ada. Bahkan, hanya sekitar 1,6% dari populasi dunia yang punya kondisi ini. Tapi bagi mereka yang mengalaminya, ini bukan cuma soal "perasaan", ini soal sensasi fisik yang nyata.
Gimana Rasanya Punya Mirror Touch Synesthesia?
Orang dengan sindrom" target="_blank" rel="noopener">sindrom ini akan merasakan sensasi fisik yang sama dengan apa yang mereka lihat terjadi pada tubuh orang lain. Misalnya, jika mereka melihat seseorang dipukul di lengan kanan, maka mereka juga akan merasakan sensasi seperti dipukul di lengan kanan mereka sendiri. Kadang cuma terasa seperti disentuh ringan, tapi ada juga yang sampai benar-benar merasa nyeri.
Menariknya, ini bukan bagian dari empati biasa. Kalau empati bekerja di level emosional atau psikologis, Mirror Touch bekerja di tingkat sensorik dan motorik. Orang-orang ini bisa merasakan apa yang dilihatnya seolah tubuhnya adalah cermin dari orang lain.
Baca juga: sindrom-havana-yang-gemparkan-diplomasi-as"> Dari Kuba ke Dunia, Mengungkap Fenomena Sindrom Havana yang Gemparkan Diplomasi AS
Apa yang Menyebabkan Ini Terjadi?
Peneliti percaya bahwa sindrom" target="_blank" rel="noopener">sindrom ini berkaitan dengan aktivitas berlebih di sistem mirror neuron (neuron cermin) dalam otak manusia. Sistem ini biasanya membantu kita memahami gerakan dan perasaan orang lain, itulah mengapa kita bisa tertawa saat orang lain tertawa, atau merasa malu saat orang lain dipermalukan.
Namun, pada penderita Mirror Touch, sistem ini tampaknya terlalu aktif, hingga batas antara “aku” dan “dia” jadi kabur. Mereka tidak hanya memahami apa yang orang lain rasakan, mereka merasakan itu.
Dalam studi yang dilakukan oleh Dr. Jamie Ward, seorang profesor neurosains dari University of Sussex, ditemukan bahwa mirror touch synesthete memiliki aktivitas otak yang lebih kuat di area somatosensorik dan visual dibanding orang biasa.
Gangguan atau Superpower?
Mirror Touch Synesthesia/Freepik" data-author="" data-source="" data-credit="" data-watermark="0">Ilustrasi Mirror Touch Synesthesia/Freepik
Banyak yang menganggap ini sebagai beban. Bayangkan harus merasakan sensasi tidak nyaman tiap kali menonton film aksi atau melihat teman terluka. Tapi di sisi lain, beberapa peneliti justru melihatnya sebagai bentuk ekstrem dari empati dan bisa sangat berguna dalam profesi tertentu, seperti perawat, psikolog, atau aktor.
Meski begitu, kondisi ini juga bisa menimbulkan kelelahan emosional dan stres, terutama bila penderita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Mereka bisa merasa kewalahan oleh informasi sensorik yang tidak diminta dan berlebihan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline.com