Ilustrasi ular. (Pexels/Pixabay)
INDOZONE.ID - Indonesia mencatat lebih dari 135 ribu kasus gigitan ular tiap tahun. Namun, penanganan di lapangan masih kerap salah, bahkan membahayakan korban.
Melihat situasi ini, RS Bhayangkara Kediri ngadain pelatihan bareng dr. Tri Maharani, yang udah dikenal sebagai ahli gigitan ular dan juga jadi penasehat WHO.
Kepala RS Bhayangkara Kediri, dr. Sri Handayani, menyatakan harapannya agar rumah sakit ini bisa menjadi pusat rujukan penanganan gigitan hewan berbisa.
Baca juga: Dampak Konsumsi Gula Berlebih Ternyata Bisa Pengaruhi Kerja Otak hingga Kesehatan Mental!
Dengan pengalaman dr. Tri Maharani yang juga berasal dari Kediri, pelatihan ini jadi langkah awal yang strategis.
Materi utama yang dibawakan adalah tentang langkah awal saat korban tergigit ular. Intinya sederhana tapi krusial yakni amankan korban dari ular, tenangkan, lalu lakukan imobilisasi pada bagian yang tergigit.
Imobilisasi ini penting untuk mencegah penyebaran bisa melalui getah bening. Kesalahan yang umum seperti menyayat, menghisap, atau mengikat luka ditegaskan sebagai tindakan yang salah.
Jika dilakukan dengan benar, imobilisasi saja sudah bisa menyelamatkan tanpa perlu anti-venom, terutama jika korban cepat dibawa ke fasilitas medis.
Baca juga: Anak-anak Makan Telur Setiap Hari? Begini Efek yang Akan Ditimbulkan
Pelatihan ini juga membongkar mitos lama yang masih dipercaya masyarakat. Ular itu nggak nyerang kalau nggak merasa terancam, mereka juga nggak bisa denger suara, dan biasanya ngenalin keberadaan manusia dari getaran di sekitarnya.
Dengan pemahaman yang benar, panik bisa dihindari dan keselamatan lebih terjamin. Dengan pelatihan yang tepat dan metode yang tepat, tenaga medis bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa dan memutus rantai kesalahan yang selama ini diwariskan lewat mitos.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube @RSBhayangkaraKediri