Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 12 AGUSTUS 2025 • 15:35 WIB

Krisis Iklim Perparah Penyebaran Wabah DBD di Pasifik: Samoa, Fiji, dan Tonga Alami Dampak Terburuk

Krisis Iklim Perparah Penyebaran Wabah DBD di Pasifik: Samoa, Fiji, dan Tonga Alami Dampak TerburukNyamuk demam berdarah (Pixabay/Mohamed Nuzrath)

INDOZONE.ID - Dalam dua dekade terakhir, WHO (World Health Organization) melaporkan bahwa jumlah kasus demam berdarah di dunia meningkat pesat bahkan sampai saat ini. 

Bermula dari 505,430 kasus pada 2000, jumlah warga terinfeksi menjadi 5,2 juta pada 2019, dan melonjak hingga 6,5 juta kasus pada 2023, dengan lebih dari 7,300 kematian di lebih dari 80 negara. 

Dari jumlah keseluruhan, wilayah Asia merupakan penyumbang kasus terbesar, yaitu 70 persen.

Demam berdarah atau Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang terinfeksi pada manusia. 

Manusia yang terinfeksi akan menunjukkan gejala berupa demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri sendi dan otot, ruam, dan pada beberapa kasus berat dapat berakibat fatal. 

Baca juga: 7 Manfaat Grapefruit untuk Kesehatan Tubuh, Segar dan Kaya Nutrisi!

Kasus DBD umumnya ditemui di wilayah beriklim tropis dan subtropis. Hal ini diakibatkan oleh kelembaban, suhu, dan curah hujan di wilayah tersebut menciptakan lingkungan dan kondisi ideal bagi nyamuk Aedes untuk berkembang biak.  

Di wilayah Asia Pasifik, menurut data yang dilaporkan oleh Sistem Surveilans Sindromik Pasifik (PSSS), 16,502 kasus warga  infeksi dan 17 kematian akibatnya sudah dilaporkan sejak awal tahun 2025. 

Infeksi demam berdarah di wilayah Pasifik berada pada tingkat tertinggi sejak 2016, di mana Samoa, Fiji, dan Tonga termasuk dalam wilayah yang paling terdampak. 

Sejak menetapkan status wabah pada April, Samoa telah melaporkan 5.600 kasus infeksi dan 6 kematian akibat demam berdarah. 

Baca juga: 7 Manfaat Jus Bit Campur Stroberi untuk Kesehatan Tubuh, Kaya Vitamin!

Tahun ini, Fiji mencatat 10,969 warga terinfeksi dan 8 kematian akibatnya. Sementara itu, Tonga melaporkan lebih dari 800 kasus infeksi dan 3 kematian sejak menyatakan status wabah pada Februari.

Para ahli mengungkapkan kenaikan drastis DBD di wilayah Pasifik disebabkan oleh krisis iklim yang terjadi. 

Dr Joel Kaufman, ahli epidemiologi dan direktur Center for Exposure Diseases, Genomics, and Environment di University of Washington mengungkapkan bahwa demam berdarah adalah salah satu penyakit yang ‘benar-benar dapat dikaitkan dengan perubahan iklim’.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The Guardian, WHO

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Krisis Iklim Perparah Penyebaran Wabah DBD di Pasifik: Samoa, Fiji, dan Tonga Alami Dampak Terburuk

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!