Ilustrasi penggunaan masker medis. (Pexels/Anna Shvets)
INDOZONE.ID - Merebaknya pandemi COVID-19 telah meningkatkan kesadaran global akan betapa krusialnya penerapan protokol kesehatan. Tak terkecuali pada aspek yang sebelumnya kurang mendapat sorotan, yaitu linen medis.
Motivasi kuat dari keprihatinan terhadap maraknya penularan dan mortalitas yang dipicu oleh virus nosokomial, yakni infeksi yang berasosiasi dengan lingkungan pelayanan kesehatan. Hal ini mendorong Anagata Beyond Textile untuk mengembangkan dan memperkenalkan inovasi linen medis berteknologi anti-virus yang menjadi pionir di Indonesia.
Founder Anagata Beyond Textile, Dian Chrisna Murti, menyadari bahwa linen medis memiliki peran penting dalam menjaga keamanan biologis di lingkungan rumah sakit. Serta kenyamanan pasien demi mempercepat kesembuhannya.
Baca juga: Maia Estianty Cerita Pengalaman Buruk Kena Cacar Air: Beda Gak Kayak Virus Cinta
Sayangnya, kesadaran akan mutu dan fungsi linen medis cenderung masih rendah, dan kerap kali diperlakukan serupa dengan linen biasa.
Padahal, linen yang digunakan di lingkungan medis memiliki kebutuhan akan kebersihan, daya tahan, dan keselamatan yang jauh lebih ketat dibandingkan dengan linen biasa.
Melihat urgensi tersebut, Anagata menggandeng HeiQ Materials AG, sebuah entitas teknologi Swiss yang memiliki reputasi internasional, guna mengaplikasikan teknologi anti-virus pada lini produk linen medis mereka.
Founder Anagata Beyond Textile, Dian Chrisna Murti. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)
"Saya melihat bahwa kain medis itu bukan kain biasa. Gak bisa disamakan dengan kain yang umum. Akhirnya kita tergerak untuk mendevelop tekstil yang memang digunakan khusus untuk medis. Dalam hal ini yang kita utamakan adalah perlindungan.”
“Kita berkolaborasi dengan HeiQ, kita menciptakan kain. Utamanya adalah kain dengan teknologi antivirus," kata Dian Chrisna Murti, saat ditemui di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis.
Teknologi ini mampu menonaktifkan virus dan mikroorganisme pada permukaan tekstil, memberikan perlindungan tambahan bagi tenaga medis dan pasien di lingkungan yang rentan terhadap infeksi silang.
"Dulu orang cuma mikir steril itu ruang operasi sama ICU. Padahal di UGD kita juga perlu loh perlindungan. Kita tidak tahu sebelah kita sakit apa.
"Jadi kain-kain tirai, seprei dan lain-lain itu sebenarnya bisa dilindungi. Bisa mengurangi tingkat penyebaran infeksi. Jadi begitu ada virus nempel di kain, otomatis dia melemah-lemah dan lama-lama mati," lanjutnya.
Selain teknologi anti-virus, Anagata juga terus berinovasi dalam sistem manajemen operasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan