INDOZONE.ID - Retinitis Pigmentosa (RP) merupakan penyakit keturunan yang menyerang retina mata, dan menyebabkan penurunan penglihatan secara bertahap.
Gejala awal biasanya muncul pada masa kanak-kanak atau remaja, dengan tanda pertama berupa rabun senja (night blindness).
Dikutip dari American Optometric Association, seiring berjalannya waktu, penderita mengalami penyempitan lapang pandang atau kehilangan penglihatan sisi mata (peripheral vision).
Kondisi ini membuat penderitanya kerap menabrak kursi, atau benda lain karena sulit melihat di sekelilingnya.
Pada tahap lanjut, penglihatan hanya tersisa di bagian tengah saja, seperti melihat melalui sebuah terowongan (tunnel vision).
Baca juga: Kelopak Mata Tampak Turun? Waspadai Ptosis, Gangguan yang Bisa Pengaruhi Penglihatan
Kabar baiknya, sebagian besar kasus retinitis pigmentosa berkembang secara perlahan. Penurunan penglihatan terjadi bertahap, dan bisa memakan waktu bertahun-tahun sebelum mencapai tahap berat.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan retinitis pigmentosa.
Beberapa penelitian menunjukkan, vitamin A dan lutein dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit ini.
Dokter spesialis mata atau optometri, dapat memberikan rekomendasi mengenai jenis dan dosis suplemen yang tepat, serta memantau perkembangan penglihatan pasien dari waktu ke waktu.
Ilustrasi seseorang melakukan pemeriksaan untuk tahu kondisi Retinitis Pigmentosa. (Freepik)
Selain itu, alat bantu penglihatan rendah (low vision aids) seperti lensa teleskopik, kaca pembesar, hingga alat bantu penglihatan malam, dapat membantu penderita RP memaksimalkan penglihatan yang masih tersisa.
Dokter yang berpengalaman dalam rehabilitasi penglihatan rendah, juga dapat membantu pasien beradaptasi, memberikan pelatihan, serta informasi agar tetap mandiri dan produktif dalam kehidupan sehari-hari.
Retinitis pigmentosa merupakan penyakit genetik yang diturunkan dalam keluarga. Jika salah satu atau kedua orang tua membawa gen penyebab RP, kemungkinan anak yang mengalami kondisi ini akan meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association