Ilustrasi anak tidak fokus belajar (Blocked to Brilliant)
INDOZONE.ID - Gangguan penglihatan tidak hanya berdampak pada kemampuan melihat, tapi juga dapat memengaruhi proses belajar.
Mata merupakan salah satu jalur masuk informasi yang terbesar ke otak. Bahkan, lebih dari 60 persanaken bagian otak terlibat dalam memproses informasi visual.
Karena begitu banyak peran penglihatan ini, masalah pada mata maupun pemrosesan visual, dapat menghambat kemampuan anak dalam menyerap pelajaran.
Dikutip dari American Optometric Association, masalah belajar yang berkaitan dengan fungsi visual, memiliki spektrum luas, dari ringan hingga berat.
Para ahli menekankan, pentingnya deteksi dan penanganan dini agar anak dapat belajar secara lebih efektif.
Keturunan menjadi salah satu faktor risiko utama. Anak dengan riwayat keluarga gangguan penglihatan atau kesulitan belajar, cenderung memiliki risiko lebih tinggi.
Pengaruh lingkungan sejak dalam kandungan, seperti ibu yang stres, pola makan buruk, paparan rokok, alkohol, atau obat-obatan, juga dapat mengganggu perkembangan visual.
Setelah lahir, lingkungan rumah yang penuh tekanan, adanya kekerasan, atau kurangnya stimulasi, turut berkontribusi terhadap keterlambatan perkembangan, termasuk kemampuan visual.
Ilustrasi ketajaman mata anak. (Freepik)
Pada masa tumbuh kembang awal, dokter anak biasanya memantau berbagai tonggak perkembangan seperti berjalan, berbicara, hingga perilaku sosial.
Namun, saat memasuki usia sekolah, gejala terkait penglihatan sering muncul lebih jelas. Beberapa tanda gangguan penglihatan meliputi:
Sementara itu, gangguan pemrosesan visual sering kali lebih sulit terdeteksi, namun dapat terlihat dari kemampuan membaca buruk, kebingungan membedakan huruf, hingga perilaku mengganggu di kelas.
Pemeriksaan mata komprehensif merupakan langkah penting untuk memastikan apakah masalah belajar dipicu gangguan visual. Koreksi sederhana seperti penggunaan kacamata dapat membantu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Optometric Association