Ilustrasi journaling (freepik.com)
INDOZONE.ID - Dalam proses konseling, journaling sering disarankan sebagai aktivitas pendamping di luar sesi terapi — selama menulis terasa aman dan nyaman bagi individu yang melakukannya.
Meski terlihat sederhana, menulis jurnal punya dampak besar. Saat pikiran dan emosi dituangkan ke dalam tulisan, kepala yang semula penuh menjadi lebih lega.
Dari sana, kita bisa melihat diri sendiri dengan sudut pandang yang lebih jernih.
Journaling bukan sekadar tempat curhat. Ia merupakan latihan kesadaran diri.
Dengan menulis, kita belajar memberi jarak antara emosi dan reaksi, sehingga respons yang muncul lebih tenang dan terarah.
Baca juga: Daftar Persiapan Persalinan yang Wajib Dibeli sebelum Melahirkan, Jangan Sampai Terlewat!
Dalam dunia konseling, proses ini disebut eksternalisasi — mengeluarkan isi pikiran agar lebih mudah dipahami dan diolah.
Hasilnya, emosi lebih terkendali dan pemahaman diri pun meningkat.
Meski bermanfaat, journaling bukan untuk semua orang.
Tidak semua individu nyaman menulis, dan tidak setiap fase hidup membutuhkan metode yang sama.
Journaling hanyalah salah satu cara untuk memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku sehari-hari.
Baca juga: Sering Keringat Berlebih? Ini 7 Cara Ampuh Buat Mengatasinya Biar Tetap Percaya Diri
Menulis jurnal secara rutin dapat membantu:
Baca juga: Antiperspiran vs Deodoran, Apa Perbedaannya dan Mana yang Lebih Cocok Atasi Keringat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Flourishmindfully.com.au