Ilustrasi seseorang mengalami tendinitis achilles. (Freepik)
INDOZONE.ID - Tendinitis Achilles merupakan cedera akibat peradangan pada tendon Achilles. Itu merupakan jaringan kuat yang menghubungkan otot betis di bagian belakang tungkai bawah, dengan tulang tumit.
Cedera ini umumnya terjadi karena pergerakan berlebihan (overuse) tanpa waktu istirahat yang cukup. Meskipun, pada beberapa kasus penyebab pastinya tidak selalu jelas.
Tendon Achilles berperan penting dalam berbagai aktivitas seperti berjalan, berlari, melompat, menaiki tangga, hingga berdiri dengan ujung kaki.
Karena fungsinya yang vital, tendon ini rentan mengalami gangguan apabila menerima tekanan berulang atau intensitas tinggi secara terus-menerus.
Dalam istilah medis, kondisi ini juga dikenal sebagai tendinopati Achilles, yakni istilah umum untuk berbagai gangguan pada tendon tersebut.
Baca juga: 7 Minuman Herbal untuk Nyeri Kaki Biar Kamu Makin Ringan Jalanin Hari!.
Tendinitis Achilles sering terjadi pada pelari yang tiba-tiba meningkatkan jarak atau intensitas latihan.
Selain itu, kondisi ini juga umum dialami oleh orang paruh baya yang hanya berolahraga pada akhir pekan. Misal, bermain tenis atau bola basket, tanpa persiapan fisik yang memadai.
Seiring bertambahnya usia, tendon Achilles cenderung melemah sehingga lebih mudah mengalami cedera. Risiko juga meningkat pada individu yang:
Ilustrasi kondisi tendinitis Achilles. (Freepik)
Beberapa kondisi medis seperti psoriasis, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi juga dapat meningkatkan risiko.
Selain itu, penggunaan antibiotik jenis fluoroquinolone dikaitkan dengan meningkatnya kasus tendinitis Achilles.
Gejala tendinitis Achilles biasanya diawali dengan nyeri ringan di bagian belakang kaki, atau tepat di atas tumit setelah berlari atau melakukan aktivitas fisik lainnya.
Nyeri dapat terasa lebih hebat setelah aktivitas berat, seperti lari jarak jauh, sprint, atau naik tangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic