Ilustrasi bayi menangis karena perutnya sakit. (Freepik)
INDOZONE.ID - Refluks pada bayi merupakan kondisi yang cukup sering terjadi, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan.
Kondisi ini, ditandai dengan keluarnya kembali cairan atau makanan dari lambung ke kerongkongan. Sehingga, bayi seperti ‘gumoh’ atau muntah sebagian susu yang diminumnya.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai gastroesophageal reflux (GER). Pada sebagian besar kasus, refluks pada bayi merupakan hal yang normal dan akan membaik dengan sendirinya, seiring pertambahan usia.
Namun pada kondisi tertentu, refluks bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang lebih serius, sehingga perlu mendapat perhatian medis.
Baca juga: Beda Gumoh Biasa dan GERD pada Bayi, Jangan Anggap Sepele Mom!
Dikutip dari Mayo Clinic, refluks pada bayi terjadi ketika isi lambung naik kembali dari lambung menuju esofagus atau kerongkongan.
Esofagus adalah saluran berbentuk tabung yang menghubungkan mulut dengan lambung.
Kondisi ini dapat terjadi beberapa kali dalam sehari pada bayi. Selama bayi tetap tampak nyaman, aktif, dan tumbuh dengan baik, refluks umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Refluks biasanya semakin jarang terjadi seiring pertumbuhan bayi. Kondisi ini umumnya akan berkurang atau hilang, ketika bayi mendekati usia 12 hingga 18 bulan.
ilustrasi bayi rewel karena gumoh. (Freepik)
Meski demikian, pada kasus yang jarang terjadi, refluks dapat menyebabkan bayi mengalami penurunan berat badan, atau pertumbuhan yang tidak sesuai dengan anak seusianya.
Jika hal ini terjadi, kemungkinan ada masalah medis lain yang mendasarinya.
Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan refluks yang lebih serius antara lain, alergi makanan, sumbatan pada sistem pencernaan, atau gastroesophageal reflux disease (GERD), yaitu bentuk refluks yang dapat menimbulkan masalah kesehatan lebih berat.
Sebagian besar, kasus refluks pada bayi tidak menimbulkan gejala yang serius. Hal ini karena isi lambung biasanya tidak cukup asam untuk menyebabkan iritasi pada tenggorokan atau kerongkongan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic