Ilustrasi seseorang konsumsi makanan manis akibat stres. (Freepik)
INDOZONE.ID - Munculnya keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan manis atau tinggi karbohidrat, kerap muncul saat seseorang sedang stres atau kurang tidur.
Kondisi ini kerap terjadi pada waktu yang tidak tepat. Misal, larut malam atau setelah hari yang melelahkan.
Namun, fenomena ini bukan semata soal kurangnya kontrol diri, melainkan berkaitan dengan perubahan kompleks dalam tubuh. Mulai dari hormon, sistem saraf, hingga keseimbangan gula darah.
Dikutip Medical Daily, ketika seseorang mengalami stres, tubuh secara otomatis masuk ke dalam ‘mode bertahan hidup’.
Respons ini memicu pelepasan hormon seperti, kortisol dan adrenalin yang berfungsi menyediakan energi cepat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini sering kali diterjemahkan sebagai dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan manis, atau karbohidrat olahan yang dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat.
Baca juga: Makanan Minuman Manis Bikin Kamu Cepat Tua? Ini Fakta Ilmiahnya yang Jarang Disadari!
Kurang tidur memperburuk kondisi tersebut. Waktu tidur yang pendek atau tidak berkualitas, dapat mengganggu hormon pengatur nafsu makan, serta menurunkan kemampuan otak dalam mengambil keputusan.
Akibatnya, seseorang cenderung memilih makanan praktis yang tinggi gula dan rendah nutrisi.
Kombinasi stres dan kurang tidur, menciptakan kondisi ideal bagi meningkatnya keinginan mengonsumsi gula secara lebih sering dan lebih intens.
Saat stres, otak mengaktifkan sistem yang dikenal sebagai sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA), yang memicu kelenjar adrenal untuk melepaskan kortisol dan adrenalin.
Kedua hormon ini meningkatkan kadar gula darah, guna menyediakan energi bagi otak dan otot. Namun, dalam kondisi stres psikologis yang terjadi terus-menerus, respons ini menjadi berlebihan.
Kortisol berperan besar dalam meningkatkan nafsu makan, khususnya terhadap makanan tinggi energi seperti gula dan lemak.
Seiring waktu, tubuh dapat membentuk pola asosiasi antara stres dan konsumsi makanan manis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily