Ilustrasi menulis journaling (freepik.com)
INDOZONE.ID - Banyak orang menulis jurnal hanya untuk mencatat kegiatan harian atau sekadar meluapkan emosi.
Padahal, ada metode journaling lain yang punya manfaat lebih dalam: membantu seseorang memahami pengalaman hidupnya sendiri agar tidak terus terjebak di kesalahan yang sama.
Metode ini dikenal sebagai reflective journaling, dan belakangan semakin banyak dilirik karena dinilai efektif untuk meningkatkan kesadaran diri sekaligus membantu seseorang belajar dari pengalaman hidup.
Baca juga: Cara Membuat Anak Berani untuk Ikut Lomba, Jangan Sampai Orang Tua Salah Mendampingi!
Pernah nggak kamu mengalami kejadian yang terus terulang di kepala? Entah konflik dengan pasangan, drama pertemanan, masalah pekerjaan, atau keputusan yang bikin menyesal.
Biasanya orang hanya berhenti di tahap mengingat kejadian tersebut lalu merasa kesal, sedih, atau marah berulang kali.
Nah, reflective journaling bekerja dengan cara yang berbeda. Alih-alih cuma menuliskan apa yang terjadi, kamu juga diajak untuk memahami alasan dibalik situasi tersebut dan mencari pelajaran dari pengalaman itu.
Sederhananya, kamu menulis bukan untuk mengulang luka — tapi untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Baca juga: Sering Diabaikan, Kebiasaan Simpel Ini Disebut Bisa Bantu Turunkan Risiko Kanker
Metode ini umumnya dilakukan dalam dua tahap utama:
Pertama, tulis pengalaman yang ingin kamu refleksikan secara detail. Misalnya:
Baca juga: Dinkes DKI Pantau Enam Kasus Suspek Hantavirus di Jakarta
Setelah itu, masuk ke tahap kedua, yaitu refleksi. Di tahap ini, coba tanyakan hal-hal seperti:
Menurut penelitian Hubbs dan Brand (2005), pendekatan ini dapat membantu proses experiential learning atau belajar dari pengalaman nyata yang dialami seseorang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com