Ilustrasi trauma di masa lalu. (freepik)
INDOZONE.ID - Tidak semua luka meninggalkan bekas yang terlihat. Ada kalanya seseorang justru kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi setelah mengalami kejadian yang sangat menyakitkan.
Alih-alih menangis atau marah, ia merasa hampa, kosong, dan seolah tidak merasakan apapun. Kondisi ini dikenal sebagai emotional numbness atau mati rasa secara emosional.
Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri ketika seseorang menghadapi pengalaman yang terlalu berat untuk diproses sekaligus.
Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Traumatic Stress menjelaskan bahwa emotional numbness merupakan bagian dari respons disosiatif (dissociation), yaitu mekanisme psikologis yang muncul ketika seseorang mengalami peristiwa yang sangat membebani kemampuan otaknya untuk mengatasi stres.
Baca juga: Dada Sering Nyeri Tanpa Sebab Medis? Bisa Jadi Ini Alarm dari Luka Hati yang Belum Sembuh!
Melalui mekanisme ini, otak “memutus sementara” hubungan dengan emosi atau pengalaman tertentu sebagai cara untuk melindungi diri dari tekanan yang berlebihan.
Banyak orang mengira trauma hanya muncul setelah mengalami kecelakaan, bencana alam, atau tindak kekerasan yang ekstrim. Padahal, penyebab trauma bisa jauh lebih luas dari itu.
Perasaan terancam, pengalaman yang membuat seseorang merasa tidak aman, hingga kejadian yang hanya dianggap sebagai ancaman oleh pikiran juga dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam.
Selain itu, pengalaman masa kecil seperti pengabaian emosional atau kekerasan juga termasuk faktor yang dapat memicu trauma.
Baca juga: Perut Sering Mulas Ketika Berada di Situasi Tegang? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Karena itu, dua orang yang mengalami peristiwa serupa belum tentu memberikan respons yang sama. Pengalaman traumatis sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang memaknai dan merasakan peristiwa tersebut.
Trauma bukan sesuatu yang otomatis hilang seiring berjalannya waktu. Jika tidak pernah diproses, pengalaman tersebut dapat terus mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, hingga bereaksi terhadap lingkungan di sekitarnya.
Akibatnya, seseorang mungkin terbiasa menekan emosinya setiap kali merasa rentan. Lama-kelamaan, ia kesulitan mengenali apa yang sebenarnya sedang dirasakan karena tubuh telah terbiasa menggunakan mati rasa sebagai bentuk perlindungan.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Traumatic Stress oleh psikiater trauma Bessel A. van der Kolk dan Rita Fisler, ingatan traumatis tidak selalu tersimpan sebagai memori yang utuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber