Rabu, 02 JULI 2025 • 20:05 WIB

Terjebak dalam Hubungan Tidak Sehat? Ini Cara Mengenali dan Menyembuhkan Luka dari Hubungan Toxic

Author

Ilustrasi toxic relationship (anabranchrecovery.com)

INDOZONE.ID - Kita kerap tidak menyadari ketika hubungan asmara atau persahabatan mulai tidak sehat dan menjurus ke toxic relationship. 

Tanda-tanda awalnya kadang dianggap sebagai bagian dari “bumbu-bumbu” menyenangkan yang seolah wajar terjadi. 

Justru hal indah pada awal inilah yang pada akhirnya membuat mereka sulit untuk keluar dari hubungan toxic. 

Dan sayangnya, tidak ada patokan pasti yang bisa digunakan untuk menentukan apakah suatu hubungan tergolong toxic atau tidak. 

Banyak orang tetap bertahan di dalamnya, bahkan tanpa mereka sadari. Beberapa justru menolak melihat kenyataan, dan menganggap perilaku tidak sehat sebagai bentuk cinta yang mendalam dari pasangan mereka.

Baca juga: Rasa Cemas Muncul saat Semua Baik-baik Saja? Ini Fenomena 'Free-Floating Anxiety' yang Bikin Generasi Muda Diam-diam Lelah

Dr. Brooke Keels, Chief Clinical Officer di Lighthouse Recovery, Texas, menjelaskan bahwa hubungan yang toxic sering kali membuat salah satu atau kedua pihak merasa terkuras secara mental, emosional, bahkan fisik. 

“Berada dalam hubungan yang tidak sehat itu seperti hidup dalam kewaspadaan yang berlangsung secara terus-menerus. Kamu tidak pernah tahu apa yang bisa memicu ledakan emosi dari pasangan, atau bagaimana mereka akan bereaksi,” ujarnya.

Dalam hubungan yang tidak sehat, pertengkaran bisa muncul tiba-tiba tanpa alasan jelas, bahkan dipicu oleh hal-hal sepele yang seharusnya tidak menimbulkan masalah. 

Situasi ini menciptakan kondisi dimana kamu selalu dalam mode siaga, berusaha menghindari pertengkaran yang bisa meledak sewaktu-waktu. 

Baca juga: Rasa Cemas Muncul saat Semua Baik-baik Saja? Ini Fenomena 'Free-Floating Anxiety' yang Bikin Generasi Muda Diam-diam Lelah

Namun keluar dari situasi seperti ini tidak semudah yang dibayangkan. Banyak orang tetap bertahan karena merasa sudah terlalu banyak berinvestasi, baik waktu, tenaga, maupun perasaan. 

Rasa takut kehilangan, harapan akan perubahan, serta keterikatan emosional membuat langkah keluar terasa sangat berat. 

Beda Toxic Relationship dan Kekerasan Emosional

Penting untuk dipahami bahwa hubungan toxic tidak selalu sama dengan kekerasan emosional. 

Walau keduanya memiliki tanda yang serupa dan sering tumpang tindih, kekerasan emosional biasanya lebih ekstrim dan lebih mudah dikenali, misalnya lewat hinaan, ancaman, atau perlakuan yang merendahkan secara terus-menerus. 

Sebaliknya, hubungan toxic bisa lebih halus, dan bervariasi tergantung pada karakter masing-masing pasangan. Menurut Dr. Dana McNeil, perbedaan utama antara keduanya terletak pada adanya unsur dominasi dan kontrol. 

Baca juga: Bikin Rutinitas Tapi Nggak Pernah Jalan? Bisa Jadi Kamu Terjebak di ‘Productivity Illusion’

“Kalau dalam kekerasan emosional ada upaya jelas untuk menguasai atau mengendalikan pasangan, maka dalam hubungan toxic belum tentu ada niat seperti itu walaupun efeknya tetap merusak secara mental,” jelas McNeil.

Seperti halnya sulitnya mengenali hubungan yang toxic, memahami dampaknya dan menyembuhkan luka emosional yang ditinggalkan juga bukan sesuatu yang mudah. 

Cara Menyembuhkan Luka Toxic Relationship

Tidak ada “teknik paten” yang bisa digunakan semua orang. Namun, mengenali ciri-ciri hubungan toxic bisa menjadi langkah awal penting, apalagi jika korban mulai merasa terisolasi dan dijauhkan dari support system mereka. 

Meski perjalanan menuju pemulihan bersifat personal dan berbeda-beda, menyadari bahwa pengalaman tersebut adalah nyata dan bisa dijelaskan secara ilmiah dapat membuat korban merasa tidak sendirian. 

Pengetahuan ini dapat menjadi pondasi untuk memahami dinamika hubungan korban dan mulai membangun kembali dirimu sendiri.

Baca juga: Banyak Karyawan Indonesia Kena Obesitas, Penyebabnya Stres dan Lelah Mental!

Dalam banyak kasus, pasangan yang toxic juga bisa menggunakan gaslighting, sebuah bentuk manipulasi psikologis yang membuatmu meragukan kenyataanmu sendiri. 

Dr. Keels menjelaskan bahwa ini bisa terjadi ketika pasangan menyangkal pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan, menuduhmu bereaksi berlebihan, atau membuatmu merasa kamu yang selalu salah, bahkan saat jelas-jelas bukan itu kenyataannya. 

Jika hal ini terus terjadi, kamu bisa mulai mempertanyakan akal sehatmu sendiri. Kamu merasa bingung, tidak yakin dengan apa yang benar dan salah, dan pada akhirnya mulai kehilangan kepercayaan terhadap intuisi sendiri. 

Yang lebih mengkhawatirkan, bila pola ini menjadi kebiasaan, hubungan yang awalnya hanya toksik bisa berubah menjadi bentuk kekerasan emosional, dan di titik inilah bahaya semakin nyata.

Baca juga: Mager Bukan Cuma Soal Malas, Bisa Jadi Tanda Mental Fatigue

Langkah-langkah Untuk Keluar dan Sembuh dari Hubungan Toxic

Dalam banyak kasus, pemulihan dari hubungan toksik hanya mungkin terjadi jika hubungan tersebut benar-benar diakhiri. 

Namun, menurut Dr. Lisa Marie Bobby, ada pengecualian, yaitu jika terjadi perubahan yang radikal dan konsisten dari pihak yang sebelumnya tidak mampu membangun hubungan sehat.

Bobby menjelaskan bahwa proses penyembuhan bersifat personal dan tidak selalu sama untuk setiap orang. 

Baca juga: 3 Kandungan dan Manfaat Tamanu Oil, Minyak Ajaib untuk Mengatasi Masalah Kulit, Wajib Coba!

Ada yang mulai pulih setelah keluar dari hubungan, ada pula yang memilih untuk memperbaiki hubungan dari dalam. 

Apapun jalannya, yang penting adalah kamu mulai memiliki pengalaman emosional yang menenangkan dan menyembuhkan. 

Misalnya, makan malam hangat bersama keluarga, sesi konseling pribadi, atau sekadar waktu tenang sendirian untuk mengenal kembali dirimu sendiri.

1. Maafkan Dirimu Bukan demi mereka, Tapi Demi Kesehatan Jiwamu 

Begitu kamu menyadari bahwa hubungan yang kamu jalani selama ini bersifat toxic, ada satu hal penting yang sering terabaikan: memaafkan dirimu sendiri. 

Bukan untuk membenarkan perilaku pasanganmu, tapi agar kamu bisa melepaskan rasa bersalah, penyesalan, atau kemarahan terhadap diri sendiri, ujar Martin, seorang konselor kesehatan mental.

Proses ini akan membuka jalan bagi pemulihan yang lebih dalam, termasuk belajar kembali bagaimana cara mempercayai orang lain. 

Memang tidak mudah, dan tentu butuh waktu, tapi hasilnya akan sangat berharga bagi ketenangan batin dan hubunganmu di masa depan.

Baca juga: Cuaca Lagi Nggak Jelas? Ini Cara Jaga Imunitas Biar Nggak Gampang Sakit

2. Kenali batasanmu dan jadikan itu sebagai petunjuk langkahmu

Menurut Dr. Dana McNeil, meski menyakitkan, melihat kembali hubungan yang telah kamu jalani secara objektif adalah langkah penting. 

Dari sana, kamu bisa memahami apa yang membuatmu merasa tidak aman secara emosional, dan bagaimana kamu bisa mencegah itu terjadi lagi.

Saat melakukan refleksi, pikirkan juga konsekuensi yang seharusnya diterima oleh pasangan di masa depan jika mereka melanggar batas-batas emosionalmu. 

McNeil menyarankan untuk menuliskan batasan-batasan tersebut secara jelas, dan membacanya ulang ketika kamu merasa mulai terseret ke dinamika yang mirip dengan masa lalu.

“Daftar batasan ini bisa menjadi sumber kekuatan yang selalu kamu bawa — semacam pengingat bahwa kamu layak dihargai dan didengar,” jelas McNeil. “Kamu tidak bisa sekaligus menetapkan dan menghormati batasan jika terus mengutamakan perasaan orang lain di atas kesejahteraanmu sendiri.”

Jika kamu merasa bingung bagaimana menyusun batasan yang sehat, atau belum yakin apakah dinamika hubungan yang kamu alami termasuk toksik, terapis bisa membantu memberikan pandangan yang netral dan jernih, kata Dr. Lisa Marie Bobby.

Baca juga: Suka Jajan Gorengan Setiap Hari? Hati-hati Bisa Kena Serangan Jantung di Usia 20-an

3. Cari dukungan dari orang-orang terdekat 

Menurut Dr. Dana McNeil, setelah kamu berhasil mengumpulkan dukungan dari sahabat, keluarga, atau terapis yang benar-benar peduli, langkah selanjutnya adalah berani menceritakan dengan jujur apa saja kerusakan emosional yang sudah kamu alami. 

Ceritakan pengalamanmu, mulai dari hal-hal kecil hingga luka terdalam — kepada mereka yang selama ini kamu percayai. 

Kejujuran ini akan membantu proses penyembuhan, karena kamu tidak lagi menyimpan beban sendirian.

Jangan ragu meminta sahabat atau terapismu untuk “menjaga” batasan-batasan yang sudah kamu tetapkan. 

Jika suatu saat kamu ragu apakah batasanmu dilanggar, mereka bisa menjadi “cermin” yang jujur untuk memberitahumu. 

Baca juga: Pentingnya Nutrisi & Perawatan Mandiri Sejak Awal Kehamilan, Tumbuhkan Generasi Sehat Mulai dari Perut!

4. Jangan Pernah Lagi Melihat ke Belakang 

Setelah kamu mulai menjalin hubungan yang lebih sehat, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain, bisa saja muncul godaan untuk kembali ke hubungan yang dulu menyakitkan. 

Ini adalah hal yang wajar, terutama jika kamu pernah merasa sangat terikat secara emosional. Tapi inilah saatnya untuk tegas menjaga dirimu sendiri.

Jika perlu, lakukan “no contact” sepenuhnya: blokir nomor mereka, berhenti mengikuti akun media sosialnya, dan buat batasan yang jelas bahwa kamu tidak ingin terhubung lagi. 

Izinkan dirimu untuk berkata “tidak” kepada orang-orang yang tidak menghormati kebutuhanmu. Setiap “tidak” yang kamu ucapkan kepada orang yang salah adalah “ya” untuk dirimu yang lebih utuh.

Baca juga: Banyak Orang Terkecoh, Apakah Oat Itu Makanan Gluten Free?

5. Jadikan Perpisahan sebagai Pelajaran Berharga 

Dr. Lisa Marie Bobby menyarankan agar kamu tidak hanya melihat akhir dari hubungan toksik ini sebagai luka, tapi juga sebagai momen pembelajaran yang membentuk dirimu menjadi pribadi yang lebih kuat. 

Pengalaman ini mengajarkanmu untuk menetapkan dan mempertahankan batasan, menghargai dirimu sendiri. 

Kini kamu memiliki pemahaman lebih dalam tentang apa yang layak kamu perjuangkan dalam sebuah hubungan. 

Dan dengan bekal itu, kamu bisa membangun koneksi baru yang lebih sehat, lebih jujur, dan lebih mendukung, baik secara romantis maupun dalam persahabatan.

Baca juga: Alasan Kita Butuh Waktu Tenang untuk Bisa Kreatif Lagi

Kamu pantas bahagia, Bukan Terjebak dalam Luka

Hubungan, pada dasarnya, seharusnya menjadi tempat bertumbuh, bukan ruang yang membuatmu mengecil. 

Jika kamu pernah atau sedang berada dalam hubungan yang membuatmu kehilangan jati diri, terus merasa lelah secara emosional, atau bahkan mempertanyakan nilai dirimu sendiri, ingatlah bahwa itu bukan cinta, itu adalah luka yang menyamar.

Memutuskan untuk pergi dari hubungan toxic bukan tanda kelemahan, tapi bukti keberanianmu untuk memilih dirimu sendiri. 

Di balik semua rasa sakit yang pernah kamu alami, tersimpan pelajaran paling berharga: bahwa kamu berhak menetapkan batasan, layak dihormati, dan pantas dicintai tanpa rasa takut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Womenshealthmag.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU