INDOZONE.ID - Perubahan iklim yang kian ekstrem, bukan hanya berdampak pada cuaca dan musim, tetapi juga turut memicu lonjakan penyakit infeksi virus.
Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan suhu global, hujan tak menentu, dan kelembapan udara yang tidak stabil, telah menciptakan kondisi ideal bagi virus untuk bertahan hidup, bermutasi, dan menyebar lebih cepat.
Dalam wawancara yang dikutip dari Hindustan Times, Konsultan Spesialis Anak dan Neonatologi dari Saifee Hospital, Mumbai, dr. Atique Ahemad, menjelaskan, perubahan pola iklim global telah memberikan dampak serius bagi kesehatan masyarakat.
“Perubahan iklim tidak hanya berhenti pada gelombang panas atau musim hujan yang datang tidak pada waktunya. Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya infeksi virus, terutama pada kelompok paling rentan seperti anak-anak dan lansia,” ungkap dr. Atique.
Baca juga: Waspada Virus Hanta! Kenali Gejala, Penyebab dan Bahayanya Bagi Manusia
Mengapa Perubahan Iklim Menyebabkan Infeksi Virus?
Dr. Atique menerangkan, kondisi cuaca ekstrem seperti peningkatan suhu, curah hujan yang tidak menentu, dan kelembapan tinggi, menciptakan lingkungan yang sangat mendukung bagi virus untuk berkembang.
“Cuaca seperti ini mengganggu pola infeksi musiman yang normal, sehingga infeksi bisa terjadi di luar waktu yang biasanya,” jelasnya.
Jenis Infeksi Virus yang Dipicu Perubahan Cuaca
- Infeksi saluran pernapasan (airborne):
Cuaca yang tidak menentu, meningkatkan risiko infeksi virus. Misal, adenovirus, respiratory syncytial virus (RSV), virus influenza, dan Haemophilus influenzae tipe B. - Infeksi akibat gigitan vektor (nyamuk):
Genangan air akibat hujan tidak menentu, mempercepat perkembangbiakan nyamuk penyebab demam berdarah, malaria, dan chikungunya. - Infeksi saluran cerna akibat kontaminasi feses (fecal-oral):
Banjir dan sanitasi yang buruk, meningkatkan risiko infeksi hepatitis A dan E, hand-foot-mouth disease (HFMD), serta enterovirus. - Infeksi gastrointestinal:
Perubahan iklim memengaruhi kebersihan makanan dan air, memicu infeksi seperti rotavirus dan virus lainnya, yang menyebabkan demam, muntah, serta diare.
Mengapa Anak-Anak dan Lansia Lebih Rentan?
Menurut dr. Atique, daya tahan tubuh anak dan lansia belum optimal atau sudah menurun.
“Anak-anak dan bayi masih dalam proses membangun sistem imunnya, sementara orang tua biasanya memiliki penyakit kronis atau penurunan sistem kekebalan akibat usia,” ujarnya.
Langkah Pencegahan Infeksi Virus Akibat Perubahan Iklim
Dr. Atique membagikan beberapa tips pencegahan khususnya untuk anak-anak dan lansia:
Baca juga: Cuaca Labil, Kulit Stabil: Tips Simpel Jaga Kulit di Musim Kemarau Basah
1. Keamanan Air Minum
- Hanya konsumsi air matang atau air yang telah disaring.
- Hindari air yang tercemar, terutama di wilayah yang terdampak banjir.
- Jangan biarkan anak-anak bermain atau menyentuh air yang tergenang.
2. Pengendalian Nyamuk
- Cegah penampungan air di sekitar rumah.
- Gunakan obat nyamuk dan kelambu saat tidur.
- Ikut serta dalam program penyemprotan fogging dan pemberantasan jentik.
3. Kebersihan Pernapasan
- Isolasi mandiri bagi orang yang sedang mengalami batuk atau flu.
- Gunakan masker untuk mencegah penularan melalui droplet.
- Biasakan cuci tangan sebelum makan dan setelah dari toilet.
4. Imunisasi
Vaksinasi menjadi langkah penting dalam menghadapi wabah virus yang dipicu perubahan iklim.
- Vaksin influenza: Disarankan setiap tahun untuk lansia dan anak-anak.
- Vaksin hepatitis A: Diberikan sejak usia di atas 1 tahun, juga disarankan untuk lansia.
- Vaksin rotavirus: Merupakan bagian dari imunisasi rutin anak.
- Vaksin Haemophilus influenzae B (Hib): Melindungi anak dari meningitis dan pneumonia.
Oleh karena itu, perubahan iklim bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga krisis kesehatan yang nyata. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, membutuhkan perlindungan lebih melalui upaya preventif seperti menjaga kebersihan, mengendalikan lingkungan, dan vaksinasi.
Kesadaran kesehatan sejak dini, dapat menyelamatkan banyak nyawa dari ancaman penyakit yang semakin tidak mengenal musim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Hindustan Times