Selasa, 08 JULI 2025 • 20:37 WIB

Mengenal Kanker Empedu: Gejala, Faktor Risiko hingga Cara Mengatasinya

Author

Ilustrasi batu empedu. (Freepik)

INDOZONE.ID - Kanker empedu merupakan salah satu jenis kanker paling agresif dan berisiko tinggi, namun masih belum banyak dikenal masyarakat luas.

Kanker empedu dibagi menjadi dua jenis, yaitu kanker kantong empedu (gallbladder cancer) dan kanker saluran empedu (cholangiocarcinoma). 

Kanker kantong empedu terjadi pada organ kecil yang menyimpan empedu untuk pencernaan dan menyalurkannya ke organ-organ saluran cerna dan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. 

Baca juga: Segera Hindari! Ini 3 Makanan yang Dapat Memicu Gejala Kantong Empedu

Hal ini menyebabkan diagnosis cenderung terlambat, ketika penyakit telah menyebar ke organ lain dan peluang kesembuhan semakin menurun. Sementara itu, kanker saluran empedu terjadi pada saluran empedu, yaitu tabung-tipis yang menghubungkan hati, kantong empedu, dan usus kecil. 

Kanker saluran empedu dapat dibagi lagi menjadi tiga jenis berdasarkan lokasinya: perihilar (di dekat persimpangan saluran empedu), distal (di dekat usus kecil), dan intrahepatik (di dalam hati), di mana sebanyak 15-20% penyebab dari kanker hati disebabkan oleh kanker saluran empedu (kolangiokarsinoma) intrahepatik.

Terdapat 60-70% pasien kanker empedu didiagnosis pada stadium lanjut yang tidak bisa dilakukan tindakan operasi metastatik. 

Kejadian kanker kandung empedu secara global adalah 2.2/100.000 pada pria dan 2.4/100.000 pada wanita, serta untuk kanker saluran empedu adalah kurang dari 2/100.000 orang. Dari seluruh pasien kanker empedu, survival rate dalam 5 tahun hanya kisaran 5-15%.

Kenali Gejala dan Faktor Risiko Kanker Empedu

Prof. Dr. dr. Ikhwan Rinaldi. (INDOZONE/Nadya Mayangsari) (INDOZONE/Nadya Mayangsari)

Prof. Dr. dr. Ikhwan Rinaldi mengatakan bahwa gejala awal kanker empedu kerap disalahartikan atau tidak disadari. Gejala tersebut meliputi nyeri di perut kanan atas, penyakit kuning, urin gelap, tinja pucat, mual, penurunan berat badan tanpa sebab, hingga gatal-gatal.

Adapun faktor risikonya meliputi batu empedu, infeksi parasit, kelainan saluran empedu, penyakit hati kronis seperti sirosis dan hepatitis, usia lanjut, obesitas, riwayat keluarga, serta paparan bahan kimia tertentu.

"Penting untuk dipahami bahwa memiliki satu atau lebih faktor risiko bukan berarti pasti terkena kanker, namun kewaspadaan dan pemeriksaan rutin sangat disarankan," ujar Prof. Ikhwan saat jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (8/7/2025).

Faktor Risiko Kanker Empedu

  1. Hepatitis B & C: Prevalensi infeksi HBV HCV lebih tinggi pada negara low-and-middle income terutama di Asia Tenggara, China dan Korea.
  2. Cacing hati: Infestasi cacing hati kronis dikaitkan dengan terjadinya kanker empedu di kawasan Asia dan Eropa Timur, di mana infestasi cacing hati banyak ditemukan.
  3. Diabetes Mellitus: Pria dan wanita dengan diabetes tipe 2 juga memiliki peningkatan risiko terkena kanker kandung empedu.
  4. Radang dan Batu Empedu: Radang empedu kronis dan batu empedu merupakan faktor tisiko utama yang berhubungan dengan kanker kandung empedu.
  5. Obesitas: Obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kandung empedu yang signifikan.
  6. Primary Scleroting Cholangitis (Autoimun): Pasien yang terdiagnosa penyakit ini memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami kanker hepatobilier dibandingkan dengan populasi umum.

Cara Mengatasi Kanker Empedu

  • Operasi/Tindakan Bedah pada Kanker Empedu stadium Awal:

Operasi/Tindakan bedah yang bertujuan untuk kesembuhan adalah pilihan pengobatan utama untuk kanker empedu yang masih bisa dioperasi.

Setelah dioperasi, terapi tambahan/adjuvant dengan obat-obatan direkomendasikan berdasarkan guidelines internasional untuk mengurangi risiko kekambuhan.

  • Terapi Sistemik pada Kanker Empedu stadium Lanjut:

Kombinasi kemoterapi & imunoterapi (anti PD-L1) menjadi salah satu pendekatan utama. Terapi target juga semakin banyak digunakan pada tumor dengan kelainan molekuler spesifik.

  • Molecular Profiling:

Profiling molekuler, termasuk pemeriksaan mutasi yang bisa ditargetkan, sebaiknya dipertimbangkan sejak awal dalam perjalanan pengobatan pasien untuk membantu pengambilan keputusan terapi.

  • Terapi Lainnya:

Terapi radiasi, bisa dipertimbangkan pada pasien unresectable BTC.

Liver-directed therapies: ablasi atau transarterial chemoembolization (TACE), mungkin bisa bermanfaat bagi beberapa kasus.

Biliary drainage dengan menggunakan stent direkomendasikan untuk penyumbatan saluran empedu akibat kanker yang sudah tidak bisa dioperasi.

Terobosan Pengobatan dengan Imunoterapi

Terapi kanker kini telah memasuki era inovasi. Di Indonesia, pengobatan berbasis kombinasi imunoterapi dengan kemoterapi telah tersedia dan menunjukkan hasil menjanjikan. 

Kombinasi ini memperkuat sistem imun sekaligus menyerang sel kanker secara langsung, membuka harapan baru bagi pasien stadium lanjut. "Terapi ini menjadi salah satu opsi yang menjanjikan dalam meningkatkan kelangsungan hidup pasien," lanjutnya. 

Baca juga: Gak Butuh Kanvas! Orang Turki Melukis di Permukaan Air Pakai Cairan Empedu Sapi, Beneran?

Esra Erkomay menambahkan, "Kami percaya setiap pasien berhak atas pengobatan terbaik, termasuk terapi inovatif yang terbukti secara ilmiah. Melalui kemitraan erat dengan tenaga kesehatan, komunitas, dan regulator, kami akan terus mendorong akses yang lebih luas terhadap terapi berkualitas tinggi."

Dengan kerja sama lintas sektor, edukasi berkelanjutan, dan pemanfaatan teknologi medis terkini, diharapkan perjalanan pasien kanker empedu di Indonesia menjadi lebih terang. 

Saatnya masyarakat memahami risikonya dan mengambil tindakan proaktif, karena langkah kecil hari ini dapat menyelamatkan hidup esok hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU