Ilustrasi kanker hati (Pinterest)
INDOZONE.ID - Kanker hati patut diwaspadai karena penyakit ini mematikan. Karena tingkat kematiannya sangat tinggi, dokter pun mengedukasi banyak kalangan untuk menghindari kanker hati.
Hati adalah organ terbesar dalam tubuh, fungsi hati untuk mencerna makanan yang masuk, protein, karbohidrat. Kemudian untuk membantu pencernaan lemak, butuh cairan empedu untuk proses memecahnya agar mudah diserap tubuh.
Kanker hati menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di Indonesia, menempati posisi kelima sebagai kanker terbanyak dan keempat sebagai penyebab kematian terbanyak akibat kanker.
Kanker hati terjadi ketika sel abnormal tumbuh di jaringan hati secara tidak terkendali.
Jenisnya ada 2 yaitu kanker hati sekunder, penyebaran dari lokasi kanker lain seperti paru-paru atau usus besar.
Kanker hati primer, akibat perubahan kanker pada sel-sel hati, sel-sel saluran empedu atau pembuluh darah di hati.
Baca juga: Stop dan Buang! Nekat Makan Jagung Jamuran Rentan Berisiko Kanker Hati
Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Singapura, Dr. Foo Kian Fong mengungkapkan, kanker hati biasanya tidak ada gejala di stadium awal. Ketika pasien sudah terdiagnosa stadium tiga atau empat, barulah ada gejala.
“Ini adalah gejala umum biasanya kelelahan, mual, muntah, kuning biasanya. Kemudian, perut yang membesar. Biasanya, jika gejala ini sudah muncul, berarti tingkatnya sudah lanjut,” ujarnya dalam acara Edukasi Seputar Liver Cancer Today: Understanding and Exploring Treatment Options di Jakarta.
Biasanya kanker hati dipicu karena terpapar hepatitis B, hepatitis C, pengerasan hati akibat konsumsi alkohol, perlemakan hati, serta minum alkohol terlalu banyak. Menurut Dr Foo, di Indonesia sebagian besar menderita hepatitis B dan beberapa orang menderita hepatitis C.
“Yang paling ditakutkan kita melihat banyak perlemakan hati atau sirosis selama bertahun-tahun, hepatitis semakin berkurang, karena hepatitis C dapat diobati," bebernya.
"Jadi begitu Anda mengobati hepatitis C, Anda mencegah kanker hati. Pembawa hepatitis B masih umum dan kanker hati, perlemakan hati,“ tambah Dr Foo.
Baca juga: Ngeri! Ini 6 Gejala Kanker Hati yang Tidak Banyak Diketahui tapi Berbahaya
Belum lagi karena darah menjadi besar dengan tumor dan menekan perut. Kemudian, pasien tidak bisa makan dan mengalami penyakit yang menyerang perut.
Diagnosis kanker hati yang akurat memerlukan kombinasi antara pencitraan radiologi dan uji laboratorium. Namun, konfirmasi akhir tetap memerlukan biopsi jaringan.
Pemeriksaannya menunjukkan pola tertentu. Pola tertentu. Nah, biopsi biasanya dilakukan jika misalnya setelah dicek kadar Alfa-fetoprotein (AFP) dalam batas yang normal. Baru kemudian untuk penegakan diagnosis, biasanya dokter disarankan untuk melakukan biopsi.
Pada dasarnya, pilihan pengobatan sangat bergantung pada stadium kanker, ukuran tumor, kondisi hati, serta kesehatan umum pasien. Dokter Foo menganjurkan metode yang tersedia seperti:
• Pembedahan (reseksi hati): dilakukan jika fungsi hati masih baik dan kanker belum menyebar.
• Transplantasi hati: pilihan untuk pasien dengan kanker yang tidak bisa diangkat namun masih dalam kriteria tertentu.
• Ablasi (radiofrekuensi atau microwave): menghancurkan tumor tanpa operasi.
• TACE (Transarterial Chemoembolization): memutus suplai darah ke tumor sambil menyuntikkan obat kemoterapi langsung ke pembuluh darah.
• SIRT/TARE: terapi radiasi lokal menggunakan mikro bola radioaktif.
• Terapi target dan imunoterapi: terutama untuk kanker stadium lanjut yang tidak merespon pengobatan konvensional.
"Bila kanker hati terdeteksi lebih awal, kemungkinan sembuh bisa cukup tinggi melalui operasi atau transplantasi hati. Namun jika tidak, kombinasi terapi sistemik dapat memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung