INDOZONE.ID - Dokter Adhi Wibowo Nurhidayat, seorang psikiater lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menganggap bahwa kesadaran masyarakat untuk mencari bantuan medis dalam mengatasi depresi masih relatif rendah.
"Jadi depresi itu ada di lingkungan masyarakat di sekitar kita tapi yang berobat dan mau berobat itu hanya sedikit itu masalahnya," ujar dokter Adhi dalam jumpa pers terkait kesehatan mental di Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Dokter Adhi menekankan bahwa depresi dapat memiliki dampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk pekerjaan dan pendidikan.
Baca juga: Depresi Bukan Cuma Bikin Mood Berantakan, Tapi Juga Bikin Otak Cepet Tua!
Depresi juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab keluarga.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 bahwa sekitar 6 persen di antara anak ataupun dewasa di atas 15 tahun itu mengalami depresi.
Menurutnya, depresi telah menjadi masalah kesehatan mental nomor satu di dunia, seperti yang dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Depresi ini nomor 1 di dunia, WHO yang bilang. Jadi harus siap-siap, kalau kita tidak memahami tentang depresi, depresi di tempat kerja, depresi di lingkungan keluarga, nanti akan terkaget-kaget," paparnya.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami depresi dan tanda-tandanya, baik di tempat kerja maupun di lingkungan keluarga, agar kita tidak terkejut ketika melihat orang-orang di sekitar kita yang mengalami depresi.
"Kok, banyak ya orang yang depresi, padahal itu sebenarnya telah diprediksi dan diperkirakan ada anggota keluarga kita atau teman kita yang depresi." kata dr. Adhi," sambungnya.
Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa yang berpraktik di RS MMC tersebut, depresi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tekanan pekerjaan, beban sekolah, kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga, serta tanggung jawab dan peran sosial. Depresi sendiri merupakan gangguan kesehatan mental yang terkait dengan perubahan struktur dan fungsi otak.
"Depresi itu masalahnya masalah otak, tidak hanya melulu jalan ke masjid, jalan ke wihara jalan ke gereja," ungkapnya.
Dengan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang depresi, kita dapat lebih efektif mengenali gejala-gejala yang muncul dan memberikan dukungan yang sesuai kepada individu yang mengalami depresi.
Dokter yang juga dosen di Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menekankan bahwa depresi dapat menjadi kondisi kronis yang berulang, sehingga memerlukan penanganan yang tepat dan berkelanjutan untuk mengelola gejala dan mencegah kekambuhan.
Baca juga: Benarkah Gen Z Lebih Rentan Mengalami Depresi?
"Makanya kalau kami di kedokteran jiwa menganjurkan orang depresi itu makan obat 3-6 bulan lamanya, karena depresi itu bisa berulang," kata Adhi.
Adhi lebih lanjut menjelaskan bahwa depresi dapat dikenali melalui tiga gejala utama, yaitu hilangnya minat dan kesenangan, kelelahan fisik dan mental, serta perasaan sedih, murung, dan kosong yang seringkali diiringi dengan tangisan.
"Kalau itu berlangsung lebih dari 2 minggu insyaAllah depresi, rumusnya itu aja trias depresi lebih dari 2 minggu," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan