Terobosan Baru: Tes Genetik Prediksi Obat Biologis Paling Efektif untuk ‘Rheumatoid Arthritis’
INDOZONE.ID - Ilmuwan dari Queen Mary University of London mengumumkan metode terbaru berbasis kecerdasan buatan (machine learning), yang mampu memprediksi terapi biologis paling efektif bagi pasien rheumatoid arthritis (RA).
Dikutip dari Medical News Today, ketika uji validasi, sistem ini berhasil memprediksi pengobatan terbaik pada 79–85 persen pasien dalam percobaan pertama.
Terobosan ini menjadi angin segar di tengah tantangan pengobatan RA, penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada sendi, dan dapat memengaruhi bagian tubuh lainnya.
Selama dua dekade terakhir, terapi biologis telah merevolusi pengobatan RA. Yakni dengan pendekatan yang lebih spesifik pada penyebab seluler dari penyakit itu.
Berbeda dengan terapi konvensional yang menekan seluruh sistem kekebalan tubuh, terapi biologis menargetkan jalur-jalur seluler tertentu dalam sistem imun yang terlibat langsung dalam proses peradangan.
Tujuan terapi itu adalah, mengurangi gejala RA tanpa menurunkan kekebalan tubuh secara keseluruhan.
Baca juga: 7 Jenis Latihan Harian yang Penting untuk Redakan Nyeri Rheumatoid Arthritis
Namun, menurut para peneliti, sebelum adanya metode baru ini, pemilihan terapi biologis bersifat coba-coba. Sekitar 40 persen pengobatan biologis gagal karena kesalahan dalam menargetkan jalur seluler yang tepat.
“Penemuan ini dapat memberikan manfaat besar bagi pasien, dan penyedia layanan kesehatan. Memberikan pengobatan yang tepat sejak awal, akan mengurangi penderitaan pasien,” ujar Salah Satu Penulis Studi, Prof. Constantino Pitzalis, seperti dikutip dari Medical News Express.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.
Cara Kerja Metode Prediksi
Metode baru ini memanfaatkan profil molekuler pasien, untuk mengidentifikasi jenis biologis yang paling efektif, yaitu antara etanercept, tocilizumab, atau rituximab.
Para ilmuwan mengembangkan database berdasarkan perbedaan genetik dari pasien RA yang merespons baik, terhadap obat biologis tertentu dibandingkan dengan yang tidak.
Dengan mengambil sampel jaringan dari sendi yang terkena RA, para peneliti menilai aktivitas 524 gen penting. Nilai-nilai ini kemudian dicocokkan dengan model prediktif, untuk menentukan terapi yang paling menjanjikan bagi pasien tersebut.
Queen Mary University saat ini tengah mencari mitra komersial, untuk mengembangkan sistem ini agar bisa digunakan dalam praktik medis sehari-hari. Namun, belum ada jadwal pasti kapan sistem tersebut akan dirilis secara luas.
Mengapa Pemilihan Obat yang Tepat Itu Penting?
Rheumatoid arthritis merupakan kondisi progresif yang tidak hanya menyakitkan, tetapi juga mengganggu aktivitas harian. Salah satu pasien RA, Dr. Liz Bowen dari SUNY Upstate Medical University, menggambarkan pengalamannya.
“Rasa sakitnya sangat luar biasa. Tidak ada obat nyeri biasa yang membantu. Bahkan mengenakan baju atau membuka pintu mobil pun bisa sangat menyiksa,” katanya.
Proses pencarian obat yang efektif sering kali memakan waktu. Selama masa percobaan ini, pasien tetap mengalami nyeri tanpa perbaikan. Selain itu, terapi biologis juga membawa risiko penurunan sistem kekebalan yang bisa meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
Baca juga: Perhatian! Berikut 6 Cara untuk Atasi Gejala Rheumatoid Arthritis: Minum Obat sampai Terapi
Pakar biomedis dari Jerman, Syeda S. Nasrin, MSc, menjelaskan, biologis seperti tocilizumab bekerja dengan menargetkan molekul sitokin seperti Interleukin-6 (IL-6) yang memicu peradangan.
Namun, ia mengingatkan, terapi ini tidak menyembuhkan RA secara keseluruhan, melainkan hanya mengendalikan gejalanya.
Nasrin juga menegaskan, meskipun hasil validasi awalnya menjanjikan, pengobatan berbasis data genetik masih berada pada tahap awal.
“Oleh karena itu, pendekatan ini harus dilakukan dengan hati-hati dan hanya dilanjutkan setelah didukung data uji klinis yang kuat,” ujar Syeda.
Terapi biologis menjadi harapan baru dalam pengobatan rheumatoid arthritis. Dengan kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan, pendekatan pengobatan personal (personalized medicine) diharapkan dapat menjadi standar baru dalam penanganan penyakit kronis.
Meskipun, temuan pengobatan ini masih memerlukan validasi lebih lanjut sebelum digunakan secara luas. Bagaimana menurut kamu?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today