INDOZONE.ID – Kutu rambut masih sering disalahpahami, terutama di kalangan orang tua dan sekolah. Bahkan, anak-anak yang diketahui memiliki kutu rambut, dikucilkan hingga jadi korban bullying di sekolah.
Dikutip dari Medical Daily, American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan, anak-anak yang mengalami infestasi kutu rambut, tidak seharusnya dilarang untuk bersekolah.
Dalam pedoman terbaru yang dirilis beberapa waktu lalu, AAP menegaskan, larangan sekolah bagi anak-anak berkutu tidak efektif dalam mencegah penyebaran kutu rambut. Hal itu justru memperkuat stigma sosial yang tidak perlu terhadap masalah umum ini.
Muncul Diskriminatif dari Teman-teman
Seperti dilansir HNGN, AAP menyebut kebijakan ‘no-nit’—yang tidak memperbolehkan anak bersekolah selama masih memiliki telur kutu (nit)—dapat berdampak negatif.
Kebijakan ini dinilai diskriminatif, karena perawatan kutu rambut saat ini, memungkinkan anak tetap beraktivitas di sekolah, dan menerima pengobatan saat di rumah.
Baca juga: Awas! Fenomena Selfie Bisa Sebabkan Peningkatan Kasus Kutu Rambut pada Remaja
Penelitian menunjukan, kebijakan tersebut justru dapat menyebabkan kesalahan diagnosis, serta memperbanyak hari ketidakhadiran siswa dari sekolah.
Selain itu, stigma sosial yang timbul akibat larangan ini, dapat memengaruhi kepercayaan diri hingga prestasi akademik anak.
Kebijakan ini juga terbukti tidak efektif dalam menurunkan kasus kutu rambut. Sebab, sebagian besar penularan terjadi dalam lingkungan keluarga atau pertemanan dekat—bukan dari teman sekelas.
Bukan Penyakit, Bukan Tanda Kebersihan Buruk
Kutu rambut merupakan parasit kecil tak bersayap yang hanya menyerang manusia. Mereka hidup dengan mengisap darah dari kulit kepala, dan menyebar melalui kontak fisik langsung atau berbagi barang pribadi, seperti sisir atau bantal.
Diperkirakan antara enam hingga 12 juta anak-anak di Amerika Serikat mengalami kutu rambut setiap tahunnya.
Meskipun mengganggu, kutu rambut tidak menularkan penyakit dan bukan tanda kebersihan diri yang buruk. Mereka hanya menyebabkan rasa gatal dan tidak nyaman.
Pisahkan Fakta dari Mitos
Fakta penting lainnya adalah, kutu rambut hanya menyebar melalui kontak dengan manusia atau barang yang telah terinfestasi. Hewan peliharaan tidak bisa terkena kutu rambut manusia, dan tidak dapat menjadi sumber penularan.
Kutu rambut juga tidak pilih-pilih jenis rambut. Mereka bisa hidup di rambut yang bersih, kotor, lurus, keriting, panjang, ataupun pendek.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), tingkat infestasi kutu rambut juga berbeda antar ras. Di AS, anak-anak berkulit hitam memiliki risiko lebih rendah terkena kutu rambut dibandingkan ras lainnya.
Baca juga: 6 Manfaat Buah Srikaya: Khasiatnya Bisa Basmi Ketombe dan Kutu Rambut
Hal ini disebabkan bentuk dan tekstur rambut yang membuat kutu sulit melekat dan bertahan.
Selain itu, anak perempuan lebih sering terkena kutu dibandingkan anak laki-laki. Bukan karena panjang rambut, melainkan karena mereka cenderung lebih sering melakukan kontak kepala-ke-kepala saat bermain atau bersosialisasi.
Saran Penanganan
Dalam pedoman terbarunya, AAP juga memberikan panduan bagi orang tua, dalam menangani infestasi kutu rambut.
Apabila obat kutu yang dijual bebas tidak mampu mengatasi infestasi, barulah orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter. Hal itu untuk mendapatkan penanganan dan resep obat yang lebih kuat.
Dengan informasi yang tepat, diharapkan masyarakat dapat menangani kutu rambut tanpa panik berlebihan, stigma, atau kebijakan yang tidak perlu mengorbankan pendidikan anak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily