INDOZONE.ID - Pejabat kesehatan di Tiongkok memberlakukan karantina yang mirip dengan masa pandemi Covid-19 di sejumlah wilayah, seiring dengan terus meningkatnya kasus infeksi virus chikungunya.
Lebih dari 7.000 kasus telah dilaporkan di Kota Foshan, Provinsi Guangdong, mendorong otoritas setempat untuk mengisolasi pasien di ruang perawatan rumah sakit yang dilengkapi kelambu nyamuk.
Pasien diwajibkan tetap berada di sana selama satu minggu atau hingga hasil tes menunjukkan negatif, mana yang lebih dulu. Hingga saat ini, belum ada laporan kematian akibat virus tersebut.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah mengeluarkan peringatan perjalanan Level 2 untuk Provinsi Guangdong, mengimbau warga AS untuk mengambil tindakan pencegahan ekstra saat berkunjung ke wilayah tersebut.
Para pelancong disarankan menggunakan obat anti-nyamuk, mengenakan pakaian panjang yang menutupi tubuh, serta menginap di tempat ber-AC atau yang memiliki pelindung jendela guna menghindari gigitan nyamuk.
Baca juga: 18 Warga Gilang Tulungagung Positif Chikungunya, Dinkes Lakukan Fogging
Setidaknya 12 kota lain di Provinsi Guangdong juga telah melaporkan kasus infeksi, dengan sekitar 3.000 kasus tercatat dalam satu minggu terakhir. Total kasus secara nasional kini telah melampaui angka 10.000.
Orang yang mengalami demam, nyeri sendi, atau ruam kulit diimbau segera mengunjungi rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan virus chikungunya.
Pemerintah China bahkan mewajibkan karantina di rumah selama 14 hari, bagi pelancong dari Foshan. Kebijakan ini sangat mirip pembatasan di era Covid 19 dan kini sudah dicabut.
Baca juga: Wabah Chikungunya Serang Wirolegi Jember, Puluhan Warga Lemas dan Ruam Merah
Kasus Pertama di Hong Kong
Hong Kong mengonfirmasi kasus pertama, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun mengalami demam, ruam, dan nyeri sendi setelah bepergian ke Foshan pada bulan Juli.
Apa Itu Virus Chikungunya?
Chikungunya adalah virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, jenis yang sama yang menyebarkan dengue dan Zika. Meski jarang mematikan, virus ini dapat menyebabkan gejala menyakitkan dan melemahkan tubuh.
Petugas Medis WHO Dr. Diana Rojas Alvarez menganggap kasus chikungunya ini mirip seperti Covid-19.
“Kita sedang melihat sejarah yang terulang kembali,” katanya, merujuk pada besarnya skala wabah sebelumnya.
Virus ini dapat menyebabkan demam tinggi, nyeri sendi parah, dan dalam kasus tertentu, komplikasi serius yang mengancam jiwa, termasuk masalah jantung dan otak.
Chikungunya tidak menyebar melalui cairan tubuh atau air liur. Penularan hanya terjadi jika seseorang digigit nyamuk yang terinfeksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dailymail