Minggu, 31 AGUSTUS 2025 • 17:15 WIB

5 Cara Mencegah Kesalahan Medis, Penyebab Kematian Nomor Tiga di Dunia

Author

Ilustrasi konsultasi ke dokter. (Pexels/MART PRODUCTION)

INDOZONE.ID - Tidak sedikit, orang yang enggan pergi ke dokter. Hal itu lantaran mereka harus duduk menunggu selama 20 menit di ruang tunggu.

Tidak hanya itu, mereka juga harus menanti 10 menit di ruang periksa, dan hanya dapat waktu lima menit untuk konsultasi dengan dokter. Pengalaman ini tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. 

Akibatnya, pasien sering merasa terburu-buru sehingga tidak sempat menyampaikan seluruh keluhan sebelum pembicaraan dipotong.

Suatu studi yang dikutip U.S. News and World Report menemukan, hanya 23 persen pasien yang dapat menyelesaikan pernyataan awal mengenai keluhan mereka saat konsultasi. 

Kurangnya komunikasi ini, dapat berdampak besar pada kesehatan. Laporan tersebut menyebutkan, lebih dari 70 persen kejadian medis yang merugikan disebabkan oleh komunikasi yang kurang baik.

Bahkan, kesalahan medis menjadi masalah serius dalam sistem pelayanan kesehatan. Di Amerika Serikat, kesalahan medis menyumbang sekitar 10 persen dari seluruh kasus kematian. 

Baca juga: Dokter Ungkap Bahaya Tersembunyi Vape, Jangan Tertipu Klaim Lebih Aman

Angka ini menjadikannya sebagai penyebab kematian ketiga tertinggi di negara tersebut. Kabar baiknya, banyak kesalahan medis sebenarnya dapat dicegah. 

Berikut lima langkah yang dapat dilakukan pasien, agar terhindar dari kesalahan serius, dikutip dari Medical Daily:

1. Pertanyakan Obat yang Diresepkan

Dokter kerap dianggap terlalu cepat memberikan resep, hanya untuk segera menyelesaikan konsultasi. Padahal, pasien berhak mengetahui alasan pemilihan obat, interaksi dengan obat lain, dosis, alternatif, serta risikonya.

Jika dokter meresepkan antibiotik, pastikan dilakukan pemeriksaan kultur untuk mengetahui apakah benar terdapat infeksi. 

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 30 persen antibiotik yang diresepkan di Amerika Serikat sebenarnya tidak diperlukan.

Ilustrasi wanita konsultasi dengan dokter. (freepik)

2. Tanyakan tentang Tes Medis

Mantan dokter gawat darurat sekaligus Komisaris Kesehatan Baltimore, Dr. Leana Wen, menulis dalam blognya, sekitar $700 miliar dihabiskan setiap tahun, untuk tes dan perawatan yang tidak diperlukan.

Ia menekankan, hingga 80 persen diagnosis sebenarnya dapat ditegakkan tanpa tes tambahan, cukup melalui riwayat medis. Karena itu, sebelum menjalani pemeriksaan, pasien disarankan menanyakan tujuan tes, risikonya, serta bagaimana hasil tersebut memengaruhi rencana pengobatan.

3. Bawa Pendamping

Ketika sakit, pasien sering lupa pertanyaan penting yang harus disampaikan. Situasi di rumah sakit juga bisa membuat suasana makin kacau dan penuh tekanan. 

Membawa teman atau anggota keluarga, dapat membantu sebagai ‘mata dan telinga kedua’ untuk mencatat, mengajukan pertanyaan, sekaligus mencegah terjadinya kesalahan.

Baca juga: Kapan Saatnya ke Psikiater? Inilah 11 Tanda Anda Harus Berkonsultasi Secepatnya

4. Periksa Obat dengan Cermat

Menurut Presiden sekaligus CEO National Patient Safety Foundation, Tejal Gandhi, M.D., M.P.H., terdapat banyak titik rawan dalam proses pemberian obat. Mulai dari dokter, apoteker, hingga perawat. Kesalahan bisa terjadi di salah satu tahap tersebut.

Karena itu, penting bagi pasien untuk memberi tahu tim medis tentang semua obat yang dikonsumsi, termasuk suplemen. Selalu periksa label obat, tanyakan dosis, dan pastikan kesesuaiannya sebelum digunakan.

5. Pastikan Informasi Pulang dari Rumah Sakit Jelas

Sekitar satu dari lima pasien harus kembali dirawat dalam waktu satu bulan setelah keluar dari rumah sakit. Riset Consumer Reports menunjukkan, pasien dengan instruksi pulang yang lengkap, memiliki risiko lebih rendah untuk dirawat ulang.

Pasien disarankan meminta ringkasan tertulis mengenai instruksi perawatan di rumah, pembatasan diet dan aktivitas, daftar obat, jadwal kontrol, serta salinan hasil tes medis sebelum meninggalkan rumah sakit.

Oleh karena itu, pasien tidak hanya sebagai penerima layanan, tetapi juga memiliki peran aktif dalam menjaga keselamatan dirinya. 

Komunikasi yang baik dengan tenaga medis, serta sikap kritis terhadap setiap prosedur, dapat mencegah terjadinya kesalahan medis yang berakibat fatal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU