Senin, 24 NOVEMBER 2025 • 15:00 WIB

Tidur Berlebihan Bisa Jadi Tanda Depresi? Ini Penjelasan Lengkapnya

Author

Ilustrasi wanita sedang tidur (photo/Unsplash/@Claudio_Scott)

INDOZONE.ID - Pernah nggak kamu bangun pagi tapi masih pengin balikin badan lagi ke kasur? Atau malah tidur siang terus-terusan tanpa alasan yang jelas? Well, ternyata tidur berlebihan (oversleeping) bisa jadi lebih dari sekadar kebiasaan malas; ini bisa jadi sinyal depresi, lho. Yuk, kita bahas!

Apa Itu Tidur Berlebihan (Hypersomnia)?

Sebelum masuk ke pembahasan, kita perlu tahu dulu kalau tidur berlebihan dalam dunia medis disebut hipersomnia. Ini bukan soal kamu mager atau kebanyakan rebahan, tapi kondisi ketika waktu tidur kamu jauh lebih lama dari kebutuhan normal. Biasanya, orang dewasa butuh sekitar 7–9 jam tidur per hari. Nah, kalau kamu hampir setiap hari tidur lebih dari itu, apalagi sampai 9–10 jam ke atas, bisa jadi itu sinyal kalau tubuh kamu lagi ngasih tanda ada yang nggak beres.

Baca juga: Ketahui 5 Efek Buruk Tidur Berlebihan, Salah Satunya Memicu Penyakit Jantung

Kenapa Depresi dan Tidur Panjang Saling Berkorelasi?

Hubungan antara tidur berlebihan dan depresi itu beneran ada, dan bukan sekadar teori. Banyak ahli bilang kalau oversleeping lebih sering jadi tanda depresi, bukan penyebabnya.

Salah satu jenis depresi yang sering dikaitkan dengan tidur terlalu lama adalah depresi atipikal. Orang dengan kondisi ini biasanya bisa kelihatan lebih baik kalau ada hal positif yang terjadi, tapi masalah emosionalnya tetap ada di dalam. Mereka juga cenderung lebih sensitif terhadap penolakan dan gampang capek, jadi tidur akhirnya jadi tempat “kabur” paling mudah.

Selain faktor emosional, ada juga penyebab fisik. Misalnya, kalau kamu punya gangguan tidur kayak sleep apnea, kualitas tidur malam kamu bisa terganggu. Walaupun kelihatannya tidur lama, tubuh kamu sebenarnya nggak benar-benar istirahat. Akhirnya, kamu tetap ngantuk dan tidur lagi buat “balikin energi” yang belum keisi.

Belum lagi soal ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Kalau pola tidur-bangun kamu berantakan, misalnya suka tidur terlalu malam atau jam tubuh kamu mundur, itu bisa bikin kamu susah bangun pagi dan akhirnya sering tidur siang lebih lama dari biasanya. Semua faktor ini bisa saling nge-boost dan makin bikin kamu tidur berlebihan.

Efek Negatif dari Terlalu Banyak Tidur

Mungkin terdengar “enak” bisa tidur terus, tapi nyata-nyata oversleeping bisa jadi boomerang buat kesehatan mental dan fisik:

  • Bisa memperparah depresi: Semakin sering kamu tidur berlebihan, makin besar kemungkinan kamu merasa “kehilangan hari” dan jadi nggak punya energi atau semangat buat ngelakuin apa pun. Ini bisa bikin mood makin turun.
  • Risiko kesehatan meningkat: Beberapa penelitian juga nunjukin kalau kebiasaan oversleeping bisa terkait dengan penyakit seperti diabetes, stroke, sampai masalah jantung. Jadi bukan cuma soal ngantuk doang, tapi bisa berdampak ke kesehatan jangka panjang.
  • Ritme tubuh jadi berantakan: Tidur terlalu lama bisa bikin jam biologis tubuh kamu kacau. Akhirnya kamu jadi makin “telat” secara ritme, susah bangun, gampang lemas, dan tubuh rasanya nggak sinkron sama aktivitas sehari-hari.

Kapan Harus Curiga ke Depresi, Bukan Cuma Kelelahan

Ilustrasi depresi. (Pexels/Tess Emily Seymour)

Gimana sih cara tahu kalau tidur panjang kamu bukan karena capek, tapi karena depresi? Nih, beberapa tanda yang patut diperhatikan:

  • Tidur lebih dari 9–10 jam hampir setiap hari, bukan cuma waktu libur.
  • Bangun tidur malah merasa nggak segar, lemas, atau nekat balik tidur lagi.
  • Kamu merasa nggak ada yang menarik untuk dilakukan, kehilangan semangat, dan punya perasaan “what’s the point?” di pagi hari.
  • Ada gejala depresi lain: mood jelek, minder, susah konsentrasi, bahkan pikiran negatif terus muncul.

Gimana Cara Mengatasinya?

Kalau kamu curiga tidur berlebihan udah menyerang karena depresi, ini beberapa langkah yang bisa kamu coba:

  1. Konsultasi ke profesional
    Bicaralah dengan psikolog atau psikiater. Mereka bisa bantu diagnosis apakah ini hipersomnia yang berhubungan dengan depresi atau ada masalah medis lain seperti sleep apnea.
  2. Atur rutinitas tidur
    Coba bangun di waktu yang sama tiap hari, meski hari libur. Biar lebih stabil, manfaatkan cahaya pagi (sunlight) supaya jam tubuh kamu lebih seimbang.
  3. Terapi dan pengobatan
    Terapi kognitif dan obat antidepresan bisa membantu depresi. Kalau penyebab oversleeping terkait depresi, menangani depresinya bisa bantu normalisasi pola tidur.
  4. Perbaiki gaya hidup
    Olahraga rutin, makan sehat, dan hindari penggunaan gawai sebelum tidur bisa bantu kualitas tidur jadi lebih baik dan bukan cuma tidur lama.

Baca juga: Mitos atau Fakta: Tidur Terlalu Lama Bisa Bikin Otak Lemot?

Jangan Anggap Remeh Tidur Kamu

Tidur itu penting, tapi kebanyakan tidur juga bisa jadi sinyal bahaya. Kalau kamu merasa tidur berlebihan dan gejala depresi semakin terasa, jangan didiamkan begitu saja. Bukan cuma karena “males bangun,” bisa jadi itu alarm dari tubuh dan pikiran kamu untuk minta perhatian.

Intinya, tidur panjang bukan hanya mood booster, tetapi bisa jadi tanda kalau mental kamu lagi jebol. Yuk, respons sinyal tubuh kamu dengan bijak dan cari bantuan kalau perlu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Healthline, Clevelandclinic.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU