Minggu, 30 NOVEMBER 2025 • 17:15 WIB

Stamina Turun, Mood Kacau? Bisa Jadi Kamu Masuk Fase Andropause

Author

Ilustrasi pria mengalami andropause. (Freepik)

INDOZONE.ID - Perbincangan seputar perubahan hormonal, umumnya berfokus pada perempuan, terutama saat memasuki masa menopause. 

Namun, kaum pria juga mengalami fase serupa yang disebut andropause. Kondisi ini ditandai penurunan kadar testosteron secara perlahan, seiring bertambahnya usia.

Dikutip dari Hindustan Time, Andropause merupakan perubahan bertahap yang dapat menimbulkan tantangan emosional, kognitif, hingga memengaruhi hubungan sosial dan keluarga. 

Namun, pembahasan ini sering diabaikan. Sehingga, membuat banyak pria tidak punya pemahaman atau kata-kata untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan selama fase tersebut.

Sebagai psikoterapis yang telah mendampingi banyak pria melewati masa transisi yang kompleks ini, saya tidak dapat menekankan betapa pentingnya memahami andropause, sebagai bagian krusial dari kesehatan dan kesejahteraan pria, meski sering kali tidak disadari,” ujar Dr. Chandni Tugnait, psikoterapis, kepada Health Shots.

Baca juga: Pria Usia 40 Tahun, Waspadai Kekurangan Hormon Testosteron

Gejala Andropause pada Pria

Saat memasuki andropause, pria dapat mengalami perubahan fisik dan emosional yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa efek yang umum dirasakan:

1. Penurunan energi fisik

Banyak pria pertama kali menyadari turunnya stamina. Mereka membutuhkan waktu lebih lama, untuk pulih setelah berolahraga, mudah lelah, atau bangun tidur tanpa merasa segar meski sudah beristirahat cukup. 

Dorongan seks juga dapat menurun, sering kali disalahartikan sebagai efek stres atau penuaan biasa. Padahal, perubahan ini menandakan adanya proses biologis dalam tubuh.

2. Sensitivitas emosional meningkat

Perubahan hormonal dapat memicu naik-turunnya emosi, seperti mudah marah, frustrasi, atau sedih tanpa sebab yang jelas. 

Alih-alih membicarakan perasaan tersebut, sebagian pria memilih menarik diri sehingga menciptakan jarak dalam hubungan,” kata Tugnait. 

Ilustrasi pria mudah sensitif akibat gejala andropause. (Freepik)

Ketidakmampuan mengekspresikan perasaaan, dapat menimbulkan salah paham. Sebab, pasangan mungkin mengira perubahan suasana hati tersebut sebagai tanda kurangnya perhatian.

3. Menurunnya rasa percaya diri

Seiring penurunan testosteron, banyak pria mulai meragukan daya tarik, kemampuan, hingga nilai diri mereka. Perubahan ini tidak sekadar rasa tidak percaya diri sesaat, tetapi dapat memengaruhi berbagai aspek hidup.

Misal, hubungan intim, keputusan karier, hingga harga diri secara keseluruhan.

4. Pergeseran identitas dan tujuan hidup

Memasuki usia paruh baya, sering membuat pria merenungkan perjalanan hidupnya. Pada masa andropause, mereka mungkin menilai ulang impian, pencapaian, atau keputusan yang sebelumnya terasa tepat. 

Dorongan ini, ditambah perubahan hormonal, dapat memunculkan kebingungan dan rasa kehilangan arah.

5. Dampak terhadap hubungan

Penarikan diri secara emosional dan mudah tersinggung, dapat melukai hubungan. Pasangan mungkin salah mengartikan perubahan tersebut sebagai sikap tidak peduli. 

Masalah yang menciptakan jarak bukan karena kurangnya cinta, tetapi ketidaktahuan tentang perubahan hormonal,” jelasnya.

Apa yang Terjadi pada Pria saat Andropause?

Andropause muncul melalui perubahan halus pada suasana hati, energi, dan motivasi. Meskipun terlihat ringan, perubahan tersebut dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Norma sosial tentang maskulinitas sering mengaitkan kekuatan dengan kestabilan emosi, produktivitas, dan kemampuan mengendalikan diri,” ujar Dr. Tugnait. 

Karena itu, ketika perubahan internal ini muncul, sebagian pria menganggapnya sebagai kegagalan pribadi yang memicu rasa malu. Hal itu membuat mereka semakin menarik diri.

Baca juga: Kenali Andropause, Gejala Menopause pada Pertambahan Usia Pria

Gejala yang tampak sehari-hari, bisa berupa bangun tidur dalam kondisi lelah, ragu mengambil keputusan yang sebelumnya mudah, atau bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil. 

Kurangnya komunikasi dan dukungan emosional, dapat memperburuk kondisi. Sehingga, dapat menciptakan siklus isolasi dan salah paham dalam hubungan sosial maupun keluarga.

Cara Mendukung Pria yang Alami Andropause

Untuk membangun percakapan yang lebih sehat tentang andropause, langkah pertama adalah menormalisasi kondisi ini. 

Kamu harus memahami, andropause merupakan proses biologis alami, mirip dengan menopause pada perempuan. Hal itu dapat membantu mengurangi rasa malu dan keterasingan.

1. Peran terapi

Pendampingan profesional menjadi sangat penting selama fase ini. Terapi memberikan ruang aman bagi pria untuk mengekspresikan perasaan, mengelola stres, dan mendefinisikan kembali makna maskulinitas. 

Dengan bantuan psikoterapis, pria dapat belajar bahwa kerentanan bukanlah kelemahan, melainkan bagian penting dari hidup yang autentik.

2. Membangun hubungan yang saling memahami

Pasangan memegang peranan besar dalam memahampi pasangan yang tengah mengalami andropause. 

Saat orang terdekat memahami apa yang dialami pria selama andropause, mereka dapat berkomunikasi dengan lebih lembut dan bekerja sama lebih efektif,” ucap Tugnait. 

Pemahaman ini dapat mempererat hubungan, dan menjadikan masa sulit sebagai peluang untuk tumbuh.

3. Perubahan gaya hidup

Langkah praktis juga berpengaruh besar. Salah satunya dengan perubahan gaya hidup lebih sehat.

Konsultasi medis, perubahan gaya hidup, pola tidur yang lebih baik, mindfulness, dan aktivitas fisik bisa membantu,” imbuhnya. 

Dengan menerapkan kebiasaan sehat, pria dapat menjalani masa transisi ini dengan lebih stabil dan sadar secara emosional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Hindustan Times

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU