Selasa, 09 DESEMBER 2025 • 10:40 WIB

Menkes: Anak 5 Kali Lebih Rentan Alami Gangguan Kecemasan dan Depresi

Author

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan paparan saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

INDOZONE.ID - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa anak-anak di Indonesia, lima kali lebih rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa, terutama kecemasan (anxiety) dan depresi, dibandingkan orang dewasa. 

Hal itu diungkapkan dalam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) Tahun 2025 di Jakarta.

Rapat tersebut turut melibatkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta BPJS Kesehatan.

Menurut Menkes, hasil pemeriksaan melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa penyakit mental pada usia dewasa terdeteksi kurang dari satu persen, sedangkan pada kelompok anak dan remaja angkanya mencapai sekitar lima persen.

Baca juga: Tidur Berlebihan Bisa Jadi Tanda Depresi? Ini Penjelasan Lengkapnya

“Berdasarkan hasil skrining-nya di CKG, kita temukan kalau dari dewasa yang di-skrining itu 0,8–0,9 persen ketemu, jadi angka itu kecil sekali ya, di bawah 1 persen. Tetapi kalau yang balita atau anak-anak di bawah 18 tahun itu 5 persen,” ujar Menkes dikutip Selasa (9/12/2025).

Pengaruh Gawai Meningkatkan Risiko Gangguan Mental

Menkes menilai perubahan pola interaksi sejak anak-anak semakin dipengaruhi penggunaan gawai secara intensif, sehingga risiko terjadinya gangguan mental ikut meningkat.

“Banyak anak yang mengalami gangguan kejiwaan, terutama dengan ada teknologi baru seperti gawai yang mereka pakai terus-menerus,” kata Budi.

Mayoritas gangguan kesehatan jiwa yang ditemukan melalui pemeriksaan adalah kecemasan dan depresi. 

Menkes menegaskan bahwa kasus mental disorder selama ini cenderung tidak terdiagnosis dengan baik, sehingga memerlukan sistem deteksi lebih awal.

119 Jadi Kanal Pelayanan Kesehatan Jiwa

Untuk memperluas akses layanan kesehatan mental, Kemenkes telah mengoptimalkan kanal aduan 119, yang selain melayani kondisi kegawatdaruratan juga memberi ruang konsultasi terkait kesehatan jiwa.

“Kita sudah masuk sekitar hampir 100 ribu aduan, sebagian besar memang cemas atau anxiety,” ujarnya.

Baca juga: Perhatian! Risiko Depresi Bisa Turun dengan Penuhi Kebutuhan Kalium

Secara global, penyakit mental dialami oleh satu dari delapan orang. Menkes menyebut rasio tersebut juga relevan untuk Indonesia.

Intervensi Pemerintah Diperlukan

Menkes menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental membutuhkan penanganan terukur, mulai dari konseling hingga pengobatan untuk kasus yang lebih berat.

“Mental disorder itu ada macam-macam jenisnya, yang paling ringan namanya anxiety disorder atau cemas. Di bawahnya ada depresi yang sudah lebih berat, di bawahnya lagi ada skizofrenia yang lebih berat lagi dan itu butuh obat psikotropika yang mesti diberikan melalui BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Gangguan makan seperti bulimia juga termasuk dalam kategori masalah kesehatan mental yang memerlukan penanganan.

Dengan temuan skrining ini, Menkes menekankan pentingnya edukasi kesehatan jiwa sejak usia dini, serta peran aktif pemerintah dalam memperluas layanan diagnosis dan pengobatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU