Ilustrasi wanita sedang tidur (photo/Unsplash/@Claudio_Scott)
INDOZONE.ID - Pernah nggak kamu bangun pagi tapi masih pengin balikin badan lagi ke kasur? Atau malah tidur siang terus-terusan tanpa alasan yang jelas? Well, ternyata tidur berlebihan (oversleeping) bisa jadi lebih dari sekadar kebiasaan malas; ini bisa jadi sinyal depresi, lho. Yuk, kita bahas!
Sebelum masuk ke pembahasan, kita perlu tahu dulu kalau tidur berlebihan dalam dunia medis disebut hipersomnia. Ini bukan soal kamu mager atau kebanyakan rebahan, tapi kondisi ketika waktu tidur kamu jauh lebih lama dari kebutuhan normal. Biasanya, orang dewasa butuh sekitar 7–9 jam tidur per hari. Nah, kalau kamu hampir setiap hari tidur lebih dari itu, apalagi sampai 9–10 jam ke atas, bisa jadi itu sinyal kalau tubuh kamu lagi ngasih tanda ada yang nggak beres.
Baca juga: Ketahui 5 Efek Buruk Tidur Berlebihan, Salah Satunya Memicu Penyakit Jantung
Hubungan antara tidur berlebihan dan depresi itu beneran ada, dan bukan sekadar teori. Banyak ahli bilang kalau oversleeping lebih sering jadi tanda depresi, bukan penyebabnya.
Salah satu jenis depresi yang sering dikaitkan dengan tidur terlalu lama adalah depresi atipikal. Orang dengan kondisi ini biasanya bisa kelihatan lebih baik kalau ada hal positif yang terjadi, tapi masalah emosionalnya tetap ada di dalam. Mereka juga cenderung lebih sensitif terhadap penolakan dan gampang capek, jadi tidur akhirnya jadi tempat “kabur” paling mudah.
Selain faktor emosional, ada juga penyebab fisik. Misalnya, kalau kamu punya gangguan tidur kayak sleep apnea, kualitas tidur malam kamu bisa terganggu. Walaupun kelihatannya tidur lama, tubuh kamu sebenarnya nggak benar-benar istirahat. Akhirnya, kamu tetap ngantuk dan tidur lagi buat “balikin energi” yang belum keisi.
Belum lagi soal ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Kalau pola tidur-bangun kamu berantakan, misalnya suka tidur terlalu malam atau jam tubuh kamu mundur, itu bisa bikin kamu susah bangun pagi dan akhirnya sering tidur siang lebih lama dari biasanya. Semua faktor ini bisa saling nge-boost dan makin bikin kamu tidur berlebihan.
Mungkin terdengar “enak” bisa tidur terus, tapi nyata-nyata oversleeping bisa jadi boomerang buat kesehatan mental dan fisik:
Ilustrasi depresi. (Pexels/Tess Emily Seymour)
Gimana sih cara tahu kalau tidur panjang kamu bukan karena capek, tapi karena depresi? Nih, beberapa tanda yang patut diperhatikan:
Kalau kamu curiga tidur berlebihan udah menyerang karena depresi, ini beberapa langkah yang bisa kamu coba:
Baca juga: Mitos atau Fakta: Tidur Terlalu Lama Bisa Bikin Otak Lemot?
Tidur itu penting, tapi kebanyakan tidur juga bisa jadi sinyal bahaya. Kalau kamu merasa tidur berlebihan dan gejala depresi semakin terasa, jangan didiamkan begitu saja. Bukan cuma karena “males bangun,” bisa jadi itu alarm dari tubuh dan pikiran kamu untuk minta perhatian.
Intinya, tidur panjang bukan hanya mood booster, tetapi bisa jadi tanda kalau mental kamu lagi jebol. Yuk, respons sinyal tubuh kamu dengan bijak dan cari bantuan kalau perlu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline, Clevelandclinic.org