Minggu, 14 DESEMBER 2025 • 15:15 WIB

Jantung Tiba-tiba Berdebar Kencang, Normal atau Tanda Bahaya?

Author

Ilustrasi jantung berdebar. (Photo/Ilustrasi/Pixabay)

INDOZONE.ID - Kondisi jantung berdebar tiba-tiba, sering disebut sebagai palpitasi, kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama jika muncul tanpa sebab yang jelas. 

Banyak orang pernah mengalaminya setidaknya sekali seumur hidup. Meski sebagian besar bersifat ringan, kondisi ini juga bisa menjadi tanda gangguan kardiovaskular yang lebih serius.

Memahami apa yang menjadi pemicu jantung berdebar, dapat membantu kamu menentukan apakah kondisi tersebut hanya dipicu faktor gaya hidup, atau merupakan gejala medis yang perlu diwaspadai.

Tapi secara umum, dikutip dari Medical Daily, palpitasi dapat muncul akibat stres, konsumsi kafein berlebih, gangguan irama jantung, masalah tiroid, hingga ketidakseimbangan elektrolit. 

Mengetahui perbedaan antara gejala ringan dan gejala berbahaya, tentu saja penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang. 

Dengan memahami kapan jantung berdebar masih tergolong normal, dan kapan memerlukan pemeriksaan, kamu dapat mengambil langkah tepat saat keluhan muncul.

Baca juga: Cara Alternatif Rumahan untuk Mengatasi Jantung yang Berdebar Secara Berlebihan

Penyebab Umum Jantung Tiba-tiba Berdebar

Kondisi jantung berdebar, sering muncul dari faktor sehari-hari yang mengubah keseimbangan tubuh. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, stres emosional dan kecemasan, dapat memicu respons ‘fight or flight’.

Hal itu membuat tubuh melepaskan adrenalin, dan mempercepat detak jantung. Biasanya, kondisi ini berlangsung singkat dan mereda setelah situasi pemicu teratasi.

Selain stres, gangguan cairan tubuh dan beberapa kondisi kesehatan juga dapat menjadi pemicu. 

Studi Mayo Clinic menunjukkan, dehidrasi, anemia, dan ketidakseimbangan elektrolit memberi beban tambahan pada jantung, sehingga membuatnya bekerja lebih keras dan berdegup lebih cepat.

Ilustrasi seorang wanita jantungnya tiba-tiba berdebar. (freepik)

Meski sebagian besar penyebab ini dapat diatasi, palpitasi yang terjadi berulang tetap perlu mendapatkan evaluasi medis.

Beberapa penyebab umum jantung berdebar antara lain:

  • Stres, kecemasan, dan serangan panik yang memicu lonjakan adrenalin.
  • Kafein dari kopi, teh, minuman energi, atau suplemen pra-latihan.
  • Nikotin dan alkohol yang mengganggu ritme listrik jantung.
  • Obat bebas seperti dekongestan yang mengandung stimulan.
  • Dehidrasi yang menurunkan volume darah, sehingga jantung memompa lebih cepat.
  • Anemia yang mengurangi suplai oksigen ke darah.
  • Demam yang meningkatkan kebutuhan metabolisme tubuh.
  • Ketidakseimbangan elektrolit, terutama rendahnya kadar kalium atau magnesium.
  • Olahraga intens yang meningkatkan detak jantung secara drastis.
  • Perubahan hormon akibat kehamilan, menopause, atau gangguan tiroid.

Kapan Jantung Berdebar Jadi Tanda Bahaya?

Meski sebagian besar palpitasi bersifat ringan, beberapa kondisi jantung dapat menyebabkan detak jantung meningkat secara berbahaya. 

American Heart Association menyebutkan, fibrilasi atrium (AFib) merupakan salah satu gangguan irama jantung yang paling umum. 

Kondisi ini membuat bilik atas jantung berdetak tidak teratur dan cepat, serta meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah dan stroke.

Ada pula takikardia ventrikel, yaitu irama jantung cepat yang berasal dari bilik bawah dan dapat mengancam nyawa.

Kelainan lain seperti tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme), gagal jantung, hingga sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) juga dapat menyebabkan jantung berdebar hebat. 

Baca juga: Bahaya Kopi bagi Jantung Jika Dikonsumsi Berlebihan: Waspada Kafein Tinggi!

Beberapa kondisi ini memengaruhi struktur maupun jalur listrik jantung sehingga menimbulkan detak yang tidak normal.

Segera cari bantuan medis jika palpitasi muncul bersama gejala berikut:

  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Pusing atau hampir pingsan
  • Kelelahan berat
  • Detak jantung cepat yang tidak mereda dalam beberapa menit

Tanda-tanda tersebut dapat mengindikasikan bahwa, jantung tidak memompa darah secara efektif.

Gaya Hidup yang Membantu Mencegah Jantung Berdebar

Sebagian besar, kondisi palpitasi dapat berkurang melalui perubahan kebiasaan sehari-hari. Misal, menjaga tubuh tetap terhidrasi, membantu mempertahankan volume darah, dan mencegah detak jantung meningkat secara kompensatif. 

Sementara itu, pola makan seimbang juga dapat menjaga kadar elektrolit tetap stabil, sehingga ritme jantung terjaga.

Mengurangi konsumsi stimulan seperti kafein dan nikotin juga dapat menekan lonjakan detak jantung. Manajemen stres memegang peran penting, yakni latihan pernapasan, yoga, meditasi, serta tidur cukup dapat mengurangi lonjakan adrenalin penyebab palpitasi.

Aktivitas fisik rutin, membantu memperkuat jantung, dan meningkatkan variabilitas detak jantung. Untuk keluhan yang muncul berulang, perangkat pemantau detak jantung atau tekanan darah di rumah dapat membantu dokter menganalisis pola gejala kamu.

Memahami perbedaan antara palpitasi yang ringan dan berbahaya, dapat membantu kamu mengambil keputusan yang lebih aman dan tepat.

Setelah mengetahui berbagai penyebab jantung tiba-tiba berdebar, kamu dapat menyesuaikan gaya hidup.

Mulai dari hidrasi, pengelolaan stres, hingga pembatasan stimulan, untuk mengurangi frekuensi keluhan.

Pemantauan gejala yang konsisten, juga penting untuk menentukan kapan kamu perlu menemui dokter. Pemeriksaan rutin, evaluasi ritme jantung, dan kebiasaan hidup sehat, berperan besar dalam mencegah komplikasi. 

Dengan mengenali pemicu dan tanda peringatan sejak dini, kamu dapat melindungi kesehatan jantung dan merespons secara tepat ketika gejala muncul.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU