INDOZONE.ID - Terbangun tiba-tiba pada pukul 03.00, merupakan salah satu masalah tidur paling umum yang dialami banyak orang.
Kondisi ini kerap datang tanpa tanda-tanda, membuat penderitanya merasa gelisah, sulit kembali tidur, dan bertanya-tanya apa penyebabnya.
Jika terjadi berulang, kebiasaan terbangun dini hari dapat menurunkan kualitas tidur, mengganggu energi di siang hari, serta berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.
Dikutip dari Medical Daily, para peneliti tidur menyebutkan, terbangun pada dini hari sering kali berkaitan dengan stres, perubahan hormon, serta pergeseran alami siklus tidur.
Lonjakan hormon kortisol, kadar gula darah yang tidak stabil, atau peralihan ke fase tidur yang lebih ringan, dapat memicu otak terjaga lebih awal dari seharusnya.
Pada sebagian orang, kondisi ini juga berhubungan dengan insomnia atau gangguan medis tertentu.
Baca juga: Mengenal Night Eating Syndrome, Gangguan Makan dan Tidur yang Sering Diabaikan
Peran Stres dan Hormon dalam Terbangun Dini Hari
Terbangun pukul 03.00 buat sebagian orang, kerap dianggap hal tidak wajar. Padahal, tubuh sebenarnya sedang merespons sinyal internal.
Faktor stres, hormon, dan metabolisme, dapat mengganggu ritme tidur alami dan memicu kewaspadaan otak di waktu yang tidak diinginkan.
Beberapa pemicu utama yang kerap terjadi antara lain:
a. Lonjakan kortisol akibat stres
Kortisol merupakan hormon yang secara alami meningkat menjelang pagi, untuk membantu tubuh bangun. Namun, stres kronis dan kecemasan dapat menyebabkan lonjakan ini terjadi lebih awal, termasuk sekitar pukul 03.00.
Menurut National Institutes of Health (NIH), kadar kortisol yang tinggi di malam hari, dapat merangsang sistem saraf secara berlebihan, dan memicu terbangun mendadak.
b. Peningkatan adrenalin karena kecemasan
Adrenalin berfungsi menjaga tubuh tetap waspada saat menghadapi bahaya. Pada penderita gangguan kecemasan, ketidakseimbangan tiroid, atau perempuan yang memasuki masa perimenopause, lonjakan adrenalin dapat terjadi saat tidur.
Studi dari Harvard Medical School menunjukkan, fluktuasi hormon estrogen dan progesteron dapat mengganggu kesinambungan tidur. Sehingga, seseorang terbangun di tengah malam.
c. Penurunan kadar gula darah saat tidur
Saat kadar glukosa turun terlalu rendah, tubuh akan melepaskan adrenalin dan kortisol untuk menstabilkannya. Respons ini bekerja seperti ‘alarm internal’ yang membangunkan tubuh.
Kondisi ini lebih sering dialami oleh orang yang mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat atau alkohol sebelum tidur, serta mereka yang memiliki gangguan metabolik.
Baca juga: Setop Bangga Begadang! Dokter Bilang Insomnia Kronis Itu Krisis Tersembunyi
d. Perubahan hormon akibat kondisi medis atau fase kehidupan
Masalah tiroid, menopause, gangguan adrenal, hingga gangguan metabolisme, dapat membuat tidur menjadi lebih rapuh.
Ketidakseimbangan ini memengaruhi suhu tubuh, detak jantung, dan produksi hormon stres, sehingga tubuh mudah terbangun pada dini hari.
Gangguan Siklus Tidur dan Kondisi Medis Terkait
Secara alami, tubuh memasuki fase tidur yang lebih ringan antara pukul 02.00 hingga 04.00. Pada fase ini, seseorang menjadi lebih sensitif terhadap suara, perubahan suhu, maupun gangguan internal.
Hal tersebut membuat kemungkinan terbangun pada pukul 03.00 menjadi lebih besar.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan, tidur yang terfragmentasi sering berkaitan dengan gangguan seperti insomnia, sleep apnea, dan restless leg syndrome.
Sleep apnea, misalnya, menyebabkan jeda napas yang memicu otak terbangun untuk mengambil udara. Sementara itu, restless leg syndrome menimbulkan sensasi tidak nyaman pada kaki yang memburuk di malam hari.
Masalah medis lain juga dapat berperan, seperti gangguan kandung kemih yang memicu sering buang air kecil, nyeri kronis, gangguan saraf, radang sendi, hingga refluks asam lambung.
Kondisi-kondisi tersebut dapat menyebabkan insomnia pemeliharaan tidur, yakni kesulitan mempertahankan tidur hingga pagi.
Oleh karena itu, kebiasaan terbangun pukul 03.00 umumnya dipicu oleh kombinasi stres, perubahan hormon, dan pola alami siklus tidur.
Dengan memahami penyebabnya, termasuk insomnia dan gangguan medis, seseorang dapat mengambil langkah tepat untuk memperbaiki kualitas tidur.
Mengelola stres, menjaga keseimbangan hormon dan gula darah, serta memeriksakan kondisi kesehatan yang mendasar, menjadi kunci untuk mencegah terbangun dini hari secara berulang.
Memperhatikan kualitas tidur tidak hanya membantu istirahat yang lebih nyenyak, tetapi juga mendukung kesehatan jangka panjang secara menyeluruh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily