Kamis, 18 DESEMBER 2025 • 20:52 WIB

Urat Lutut Putus Karena Olahraga Kini Bisa Ditangani Lebih Aman dengan Ligamen Buatan

Author

Ilustrasi nyeri lutut (nexushealthclinic.com)

INDOZONE.ID - Cedera lutut menjadi salah satu masalah yang paling sering dialami oleh atlet profesional hingga masyarakat umum yang suka olahraga. Salah satu cedera yang cukup berat adalah putusnya urat atau ligamen di dalam lutut.

Menurut Ahli Bedah Ortopedi dan Trauma sekaligus Konsultan Cedera Olahraga dari RS Premier Bintaro dr. Sapto Hardjosworo, SP.OT, Subsp.CO, kasus putus urat lutut akibat cedera olahraga jumlahnya sangat banyak. Meski Indonesia belum memiliki data nasional yang pasti, ia menyebut hampir tidak ada hari tanpa tindakan operasi cedera lutut di pusat layanan ortopedi.

“Cedera ini banyak ditemukan pada olahraga seperti sepak bola, basket, hingga bulu tangkis, olahraga yang menuntut perubahan arah cepat dan gerakan eksplosif,” jelas dr. Sapto kepada wartawan.

Baca juga: Waspada! Ini Cara Mencegah Serangan Jantung Setelah Olahraga Berat

Tantangan Operasi Konvensional

Selama ini, penanganan standar untuk urat lutut yang putus dilakukan dengan mengganti ligamen yang rusak menggunakan jaringan dari tubuh pasien sendiri. Biasanya, dokter akan mengambil urat dari bagian belakang paha atau betis untuk dijadikan pengganti.

Namun, metode ini memiliki tantangan tersendiri.

“Artinya ada bagian tubuh lain yang harus dikorbankan untuk menggantikan urat yang putus,” ujar dr. Sapto.

Alternatif lain sebenarnya adalah menggunakan donor ligamen dari orang yang telah meninggal dunia. Akan tetapi, teknologi dan sistem pendukung untuk prosedur tersebut belum tersedia secara luas di Indonesia, ditambah risiko infeksi dan penolakan tubuh yang cukup besar.

Baca juga: 'Level Up Gym' Kebumen, Pusat Kebugaran Khusus Wanita yang Bikin Olahraga Lebih Nyaman

Ligamen Buatan, Terobosan Baru Dunia Ortopedi

Kabar baiknya, dunia medis kini telah mengembangkan artificial ligament atau ligamen buatansebagai solusi untuk menggantikan urat lutut yang putus. Teknologi ini dirancang khusus agar dapat ditanamkan ke dalam tubuh tanpa memicu reaksi penolakan.

Intinya, apa pun yang ditanamkan ke dalam tubuh manusia harus memenuhi syarat biokompatibilitas. Tubuh tidak boleh menolaknya, sehingga aman digunakan,” terang dr. Sapto.

Secara bentuk, ligamen buatan ini menyerupai serabut-serabut benang yang dijalin membentuk pita, mirip seperti tali sepatu dengan diameter tertentu. Struktur ini dibuat untuk meniru karakter alami ligamen manusia agar dapat berfungsi optimal di dalam sendi lutut.

Pemulihan Lebih Cepat, Bisa Kembali Berolahraga

Tujuan utama operasi cedera ligamen lutut adalah mengembalikan pasien ke tingkat aktivitas semula. Baik itu sekadar hobi berolahraga, maupun kembali ke level profesional sebagai atlet.

“Kalau pasien suka main bola, dia harus bisa main bola lagi. Kalau atlet basket, dia harus bisa basket lagi. Prinsipnya, pasien harus bisa kembali ke aktivitas yang dia tekuni,” kata dr. Sapto.

Dengan teknologi ligamen buatan, proses pemulihan diharapkan bisa berlangsung lebih cepat. Jika sebelumnya pasien membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk kembali berolahraga (return to sport), kini pemulihan dapat dipercepat hingga sekitar tiga bulan, tergantung kondisi masing-masing pasien dan program rehabilitasi yang dijalani.

Biaya Lebih Kompetitif

Selain waktu pemulihan yang lebih singkat, penggunaan ligamen buatan juga dinilai lebih kompetitif dari sisi biaya.

“Karena recovery lebih cepat, secara keseluruhan biaya yang dikeluarkan pasien juga bisa lebih rendah,” jelasnya.

Pertama di Indonesia, Diadopsi dari Teknologi China

Teknologi artificial ligament ini menjadi yang pertama kali diterapkan di Indonesia. RS Premier Bintaro mengadopsi teknologi tersebut dari China, negara yang telah lebih dulu menerapkan prosedur ini dalam jumlah besar.

Dalam implementasinya, RS Premier Bintaro turut mengundang Prof. Tao Kun untuk mendemonstrasikan langsung teknik operasi ligamen buatan kepada para dokter bedah ortopedi di Indonesia.

“Harapannya, teknologi ini bisa menjadi alternatif pilihan yang aman dan efektif bagi pasien cedera lutut di Indonesia,” tutup dr. Sapto.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU