Minggu, 28 DESEMBER 2025 • 09:15 WIB

Catat! Ini 13 Gejala Anemia pada Perempuan yang Kerap Dianggap Sepele

Author

Ilustrasi anemia. (Freepik)

INDOZONE.ID - Anemia merupakan salah satu penyebab kelelahan pada perempuan, yang kerap tidak disadari. 

Kondisi tersebut dapat menguras energi, memengaruhi suasana hati, hingga menurunkan kualitas hidup jauh sebelum terdiagnosis secara medis. 

Banyak perempuan menganggap, rasa lelah berkepanjangan dan keluhan samar lainnya sebagai hal wajar. Padahal, itu bisa menjadi tanda peringatan penting akibat kekurangan zat besi atau nutrisi lain.

Apa Itu Anemia dan Kenapa Perempuan Lebih Berisiko?

Dikutip dari Medical Daily, anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau hemoglobin, yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh jaringan. 

Ketika suplai oksigen tidak mencukupi, organ tubuh harus bekerja lebih keras. Sehingga, memicu berbagai gejala, mulai dari kelelahan ringan hingga komplikasi serius.

Pada perempuan, jenis anemia yang paling sering terjadi adalah anemia defisiensi besi. Namun, kekurangan vitamin B12, asam folat, penyakit kronis, maupun faktor genetik juga dapat berperan.

Baca juga: Pantangan Makanan Penderita Anemia: Daftar Lengkap Penghambat Zat Besi

Risiko anemia pada perempuan lebih tinggi karena, faktor biologis dan hormonal sepanjang masa reproduksi.

Menstruasi berat, mioma rahim, endometriosis, kehamilan, perdarahan pascamelahirkan, serta jarak kehamilan yang terlalu dekat, dapat menguras cadangan zat besi tubuh. 

Pola makan rendah daging merah, diet vegetarian atau vegan tanpa perencanaan yang tepat, serta gangguan makan, juga dapat menurunkan asupan zat besi. 

Selain itu, gangguan pencernaan seperti penyakit celiac, radang usus, atau penggunaan obat penekan asam lambung jangka panjang, dapat menghambat penyerapan nutrisi.

Gejala Anemia yang Paling Umum dan Mudah Dikenali

Ilustrasi wanita terkena anemia. (Freepik)

Beberapa gejala anemia yang paling umum dan cukup dikenal luas, yaitu: 

  • Kelelahan terus-menerus, dan energi rendah
  • Sesak napas saat beraktivitas ringan, seperti naik tangga atau membawa belanjaan juga dapat terjadi, meski sebelumnya aktivitas tersebut terasa mudah
  • Kulit pucat, terutama pada wajah, bibir, dan dasar kuku, dapat menandakan kadar hemoglobin yang rendah
  • Sakit kepala, pusing, atau rasa melayang saat berdiri mendadak
  • Pada sebagian perempuan, jantung dapat berdebar lebih cepat meski hanya melakukan aktivitas ringan, karena jantung harus bekerja ekstra untuk mengedarkan oksigen.

Namun, gejala-gejala tersebut sering dikaitkan dengan stres, kurang tidur, atau kesibukan sehari-hari, sehingga anemia tidak segera dicurigai.

Mengidam Aneh, Perubahan Rasa, dan Masalah Mulut

Tanda anemia yang lebih khas, sering kali berkaitan dengan nafsu makan dan indera perasa. Salah satunya adalah pica, yaitu keinginan kuat untuk mengunyah benda bukan makanan. 

Pada anemia defisiensi besi, keinginan mengunyah es batu secara berlebihan, merupakan tanda klasik yang diakui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu, perubahan pada mulut dan lidah juga dapat muncul, seperti sariawan berulang di sudut bibir, lidah terasa nyeri atau meradang, hingga permukaan lidah tampak halus dan bengkak. 

Beberapa perempuan juga merasakan rasa logam di mulut atau perubahan cita rasa makanan. Keluhan ini sering diatasi secara lokal, padahal penyebab utamanya bisa berupa kekurangan zat besi atau vitamin B.

Baca juga: Rutin Minum Matcha Seminggu Sekali, Wanita Ini Malah Kena Anemia dan Zat Besi Turun Drastis

Kabut Otak, Perubahan Emosi, dan Gangguan Tidur

Anemia tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga fungsi otak. Kurangnya oksigen ke otak, dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, dan mudah lupa yang kerap disebut brain fog

Aktivitas yang sebelumnya terasa ringan, bisa mendadak terasa melelahkan.

Perubahan suasana hati juga umum terjadi. Mudah marah, cemas, suasana hati menurun, atau rasa tidak termotivasi dapat muncul. 

Kualitas tidur pun terganggu, sehingga tubuh tetap terasa lelah meski telah tidur cukup.  Sebab, gejala ini mirip dengan depresi, kelelahan kronis, atau perubahan hormonal anemia, yang sering tidak terdeteksi.

Mirip PMS, Gangguan Tiroid, dan Perimenopause

Ilustrasi donor darah dan anemia. (freepik.com) (Vena Syaharani)

Gejala anemia kerap tumpang tindih dengan kondisi lain yang umum dialami perempuan. Sindrom pramenstruasi (PMS) dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala, dan perubahan emosi. 

Gangguan tiroid juga memicu lelah, rambut rontok, dan rasa dingin. Sementara itu, perimenopause ditandai gangguan tidur, perubahan mood, dan perdarahan tidak teratur.

Lantaran kemiripan ini, keluhan sering dianggap akibat hormon atau stres semata. Padahal, anemia bisa terjadi bersamaan dan memperburuk kondisi tersebut. 

Pemeriksaan medis yang objektif, dan bukan berdasarkan asumsi, menjadi hal penting untuk dilakukan.

Diagnosis dan Penanganan Medis

Jika anemia dicurigai, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan darah lengkap, untuk menilai kadar hemoglobin dan sel darah merah. 

Tes lanjutan dapat mencakup pemeriksaan ferritin, kadar zat besi, vitamin B12, asam folat, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

Penanganan tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan. Anemia defisiensi besi, umumnya diatasi dengan suplemen zat besi selama beberapa bulan, disertai perbaikan pola makan. 

Pada kondisi tertentu, zat besi intravena mungkin diperlukan. Jika anemia disebabkan oleh perdarahan atau penyakit lain, penyebab tersebut harus ditangani terlebih dahulu.

Peran Pola Makan dan Pencegahan

Pola makan berperan penting dalam mencegah dan memperbaiki anemia. Sumber zat besi meliputi daging merah tanpa lemak, ayam, ikan, kacang-kacangan, lentil, tahu, sayuran hijau gelap, dan sereal fortifikasi. 

Konsumsi vitamin C bersama makanan nabati, dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Sementara teh, kopi, dan kalsium berlebih, dapat menghambatnya.

Perempuan dengan riwayat menstruasi berat, kehamilan berdekatan, atau diet ketat, disarankan rutin memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. 

Penggunaan suplemen sebaiknya sesuai anjuran medis, bukan swamedikasi, untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU