Menkes BGS: Setiap 1 Jam, 3 Bayi Meninggal, Ini Alasan Indonesia Sulit Punya Generasi Bergaji Rp15 Juta
INDOZONE.ID - Cita-cita Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, adalah ingin selalu membuat masyarakat sehat dan produktif. Ia membongkar strategi yang semakin diperkuat di masa pemerintahan Presiden Prabowo.
Menkes BGS menyebut ada tiga target utama yang bisa mewujudkan cita-citanya tersebut. Salah satu fokusnya adalah menyasar kesehatan ibu dan anak di negeri ini.
“Secara khusus dalam pertemuan ini, ada tiga target utama yang ingin saya capai, meskipun masih ada target lain di luar itu. Pertama, saya ingin menurunkan angka kematian ibu. Kedua, saya ingin menurunkan angka kematian anak dan bayi.
Ketiga, saya ingin mengurangi kelaparan. Karena jika ibu hamil meninggal atau bayi meninggal, maka jumlah penduduk produktif akan berkurang,” ujarnya dalam acara Peresmian Pengembangan Fasilitas Manufaktur dan Riset Bayer Indonesia di Depok, Rabu (14/1/2025).
Baca juga: Cegah Stunting Harus dari Hulu ke Hilir, Wajib Penuhi Gizi Anak hingga Sanitasi Bersih
Berapa AKI di Indonesia Saat Ini?
Sebagai informasi, angka kematian bayi di Indonesia mencapai 33.000 per tahun. Menkes pun menggambarkannya secara lebih dramatis.
“Jika kita hitung 365 hari dan 24 jam per hari, maka sekitar satu jam, tiga bayi meninggal di Indonesia,” ungkap Menkes.
Sementara itu, angka kematian ibu sekitar 4.100 per tahun. Jika dibagi per hari dan per jam, maka sekitar 0,47 ibu meninggal setiap jam.
“Artinya, dalam dua jam kita berbicara, dua ibu meninggal dunia. Itulah yang ingin saya kurangi. Dan itulah sebabnya saya ingin menurunkan angka kematian anak dan ibu,” imbuhnya.
Impian Menurunkan Stunting
Menkes BGS juga sangat ingin menurunkan angka stunting karena dapat menurunkan kemampuan intelektual anak-anak Indonesia hingga 20 persen.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, kata Menkes BGS, tingkat stunting tahun lalu turun menjadi di bawah 20 persen. Namun, angka itu masih tergolong sangat besar. Menkes pun membandingkannya dengan Singapura dan negara maju lainnya.
“Setiap tahun, sekitar 4,8 juta bayi lahir di Indonesia. Anda harus memahami angka ini. Populasi Singapura sekitar 5 juta jiwa. Artinya, setiap tahun Indonesia menambah jumlah penduduk setara satu Singapura. Seharusnya kita memiliki peluang besar menjadi negara berpendapatan tinggi karena populasi kita masih sangat produktif,” paparnya.
Baca juga: Bersama Melawan Stunting: Program Penanganan Stunting di Desa Ngabab Tahun 2025
Namun, jika 20 persen mengalami stunting, itu berarti sekitar 960.000 anak setiap tahun. Artinya, dalam 20 tahun ke depan, 960.000 anak per tahun akan memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata.
“Akibatnya, peluang mereka untuk mencapai pendapatan per kapita 40.000 dolar AS, atau sekitar Rp15 juta per bulan, akan lebih kecil karena mereka tidak sepintar anak-anak lainnya.
Menurut saya, jika orang-orang di sekitar kita masih menerima gaji di bawah Rp15 juta per bulan, maka kita belum bisa disebut negara berpendapatan tinggi,” tuturnya.
Menkes BGS juga menyebut bahwa negara berpendapatan tinggi berarti semua orang seharusnya menerima sekitar 800–900 euro atau sekitar Rp15 juta per bulan.
“Jika anak-anak kita tidak cerdas karena stunting, maka kecil kemungkinan mereka akan mencapai level tersebut, karena mereka tidak mampu memperoleh penghasilan sebesar itu,” tutup Menkes.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan