INDOZONE.ID - Brain zaps adalah gangguan sensorik yang terasa seperti kejutan listrik di dalam otak.
Penderitanya bisa merasakan bunyi berdengung, pusing, atau bahkan seperti mati rasa sesaat selama beberapa detik.
Meski terdengar menyeramkan, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa brain zaps berbahaya atau merusak otak.
Namun, sensasi ini bisa sangat mengganggu, membuat bingung, tidak nyaman, dan mengacaukan kualitas tidur.
Brain zaps sering muncul ketika seseorang mengurangi dosis atau berhenti mengonsumsi obat tertentu, terutama antidepresan.
Baca juga: Hati-hati! Bukan Cuma Lupa, Cara Mengemudi Ternyata Bisa Ungkap Penurunan Fungsi Otak
Apa Itu Brain Zaps?
Brain zaps adalah sensasi tiba-tiba seperti kejutan di kepala yang banyak orang gambarkan sebagai sensasi sengatan listrik cepat atau dengungan samar di dalam otak.
Biasanya brain zaps bisa disertai gejala lain seperti pusing, mual, tinnitus (telinga berdenging), atau perasaan tidak terhubung dari realitas.
Hal ini berlangsung hanya beberapa detik, tetapi bisa terjadi berulang kali.
Apa Penyebab Brain Zaps?
Brain zaps merupakan bagian kondisi yang disebut antidepressant discontinuation syndrome atau sindrom putus obat antidepresan.
Selain brain zaps, kondisi ini juga dapat menimbulkan:
- Gejala seperti flu
- Gangguan tidur
- Mual
- Gangguan keseimbangan
- Rasa gelisah, mudah kaget, dan mudah marah
- Brain zaps biasanya muncul saat seseorang:
- Mengurangi dosis antidepresan
- Berhenti minum obat secara tiba-tiba
- Lupa minum obat sesuai jadwal
Para ahli belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan brain zaps. Namun, gejala ini diyakini muncul karena perubahan mendadak sistem kimia di otak akibat perubahan dosis obat.
Sebuah tinjauan ilmiah tahun 2019 menemukan bahwa lebih dari setengah orang yang menghentikan atau mengurangi antidepresan mengalami gejala putus obat, termasuk brain zaps.
Gejala Lain yang Menyertai Brain Zaps
Selain sensasi seperti tersengat listrik di otak, sindrom putus obat antidepresan juga bisa menimbulkan:
- Gangguan tidur
- Kecemasan
- Sakit kepala
- Perubahan emosi atau suasana hati
- Mual
- Kelelahan
- Perasaan seperti sedang flu
- Gangguan penglihatan
- Kebingungan
- Tremor atau tubuh gemetar
Tidak semua orang akan mengalami semua gejala ini. Sebagian orang hanya merasakannya selama beberapa minggu.
Bagaimana Cara Mengatasi Brain Zaps?
Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan brain zaps, tetapi gejala ini biasanya akan menghilang dengan sendirinya seiring waktu.
Cara terbaik untuk mencegah atau mengurangi brain zaps adalah dengan mengurangi dosis obat secara bertahap, bukan menghentikannya secara tiba-tiba. Proses ini dikenal sebagai tapering.
Dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu menyusun jadwal penurunan dosis yang aman dan sesuai kondisi pasien.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa menjalani terapi perilaku kognitif (CBT) selama proses berhenti minum antidepresan dapat membantu mengurangi gejala putus obat dan meningkatkan keberhasilan penghentian obat.
Baca juga: Sering Scroll HP? Ini 4 Bahaya Blue Light Terhadap Mata dan Otak
Perawatan Brain Zaps yang Bisa Dilakukan Sendiri
Studi tahun 2017 menunjukkan beberapa langkah yang dirasakan membantu oleh penderita, seperti:
- Mempelajari informasi tentang putus obat antidepresan
- Menghabiskan waktu di luar ruangan
- Tidur yang cukup
- Mencurahkan perasaan
- Menghabiskan waktu dengan hewan peliharaan
- Berolahraga
- Mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman
- Bergabung dengan komunitas atau forum dukungan
- Beberapa orang juga mencoba suplemen seperti:
- Omega-3
- Vitamin B kompleks
- Magnesium
Namun, suplemen tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Selalu konsultasikan dengan tenaga medis karena bisa berinteraksi dengan obat lain atau menimbulkan efek samping.
Kapan Harus Menghubungi Dokter?
Jika ingin mengurangi atau menghentikan konsumsi antidepresan, selalu lakukan dengan pengawasan dokter.
Jangan pernah menghentikan obat secara mendadak tanpa saran medis.
Segera hubungi tenaga kesehatan jika:
- Gejala putus obat terasa sangat mengganggu
- Brain zaps atau keluhan lain makin parah
- Muncul perubahan emosi yang ekstrem
Jika seseorang mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari pertolongan medis darurat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medicalnewstoday.com