Minggu, 18 JANUARI 2026 • 17:15 WIB

Sering Pipis di Malam Hari? Hati-hati, Bisa Jadi Itu Tanda Penyakit

Author

Ilustrasi seseorang yang hendak pipis di toilet. (Pixabay)

INDOZONE.ID - Sering terbangun di malam hari untuk pipis atau buang air kecil, rupanya bukan sekadar gangguan tidur. 

Kondisi yang secara medis dikenal sebagai nokturia ini, dapat menjadi sinyal adanya perubahan pada kandung kemih, ginjal, keseimbangan hormon, bahkan kesehatan jantung dan metabolisme tubuh.

Memahami penyebab sering buang air kecil di malam hari, penting agar seseorang dapat membedakan mana yang masih tergolong normal, dan mana yang memerlukan perhatian medis.

Apa Itu Sering Buang Air Kecil di Malam Hari?

Dikutip dari Medical Daily, sering buang air kecil di malam hari atau nokturia adalah, kondisi ketika seseorang terbangun dari tidur satu kali atau lebih untuk buang air kecil, lalu kembali tidur setelahnya. 

Hal ini berbeda dengan sekadar terjaga hingga larut malam, dan menggunakan kamar mandi.

Baca juga: Bumil Alami Demam Menggigil hingga Pipis Rasanya Seperti Terbakar? Waspadai Itu Tanda ISK

Pada orang dewasa muda yang sehat, terbangun satu kali sesekali untuk buang air kecil masih dianggap wajar, terutama jika banyak minum di malam hari. 

Namun, jika seseorang secara rutin terbangun dua kali atau lebih setiap malam, kondisi ini patut dievaluasi lebih lanjut.

Apakah Normal Buang Air Kecil Berkali-kali Saat Malam?

Ilustrasi buang air kecil (Istimewa)

Normal atau tidaknya tergantung pada usia, asupan cairan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan. Pada lansia, produksi urine di malam hari cenderung meningkat, dan kapasitas kandung kemih menurun.

Sehingga, satu kali terbangun di malam hari masih tergolong umum.

Namun, jika pola terbangun dua kali atau lebih terjadi terus-menerus selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, hal ini dapat mengganggu kualitas tidur dan aktivitas harian. 

Terlebih, jika disertai keluhan lain seperti nyeri saat berkemih, rasa ingin buang air kecil mendadak, atau adanya darah dalam urine.

Nokturia dalam Istilah Medis

Secara medis, nokturia didefinisikan sebagai terbangun dari tidur karena dorongan untuk buang air kecil, dengan tidur terjadi sebelum dan sesudahnya. 

Nokturia dapat terjadi akibat beberapa mekanisme, antara lain:

  • Produksi urine berlebihan di malam hari (poliuria nokturnal)
  • Produksi urine tinggi sepanjang hari dan malam (poliuria global)
  • Kapasitas kandung kemih yang menurun
  • Gangguan tidur yang membuat seseorang lebih peka terhadap sensasi kandung kemih

Mengetahui mekanisme yang mendasar, sangat membantu dalam menentukan penanganan yang tepat.

Baca juga: 7 Alasan Urine Terasa Panas saat Buang Air Kecil, Jangan Dianggap Sepele!

Faktor Gaya Hidup yang Berperan

Pada banyak kasus, kebiasaan sehari-hari menjadi penyebab utama. Minum banyak cairan di malam hari, terutama kopi, teh, dan alkohol yang bersifat diuretik, dapat meningkatkan produksi urine saat malam.

Makanan tingggi garam saat makan malam juga dapat memicu penumpukan cairan yang kemudian dikeluarkan tubuh melalui urine di malam hari.

Selain itu, obat-obatan tertentu seperti diuretik untuk tekanan darah atau gagal jantung, dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil jika dikonsumsi terlalu sore atau malam hari.

Gangguan Kandung Kemih

Masalah pada kandung kemih sering kali disertai gejala lokal. Infeksi saluran kemih, misalnya, dapat menyebabkan nyeri saat berkemih, rasa tidak nyaman di panggul, serta sering buang air kecil siang dan malam.

Kondisi lain seperti kandung kemih overaktif, batu kandung kemih, atau berkurangnya kapasitas kandung kemih akibat perubahan struktur, juga dapat memicu nokturia. 

Ilustrasi kanker prostat (Pixabay)

Gejala tambahan seperti urine menetes, dorongan mendadak, atau rasa tidak tuntas saat berkemih, perlu mendapat perhatian medis.

Pembesaran Prostat pada Pria

Pada pria, pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan salah satu penyebab paling umum kenapa sering buang air kecil di malam hari. 

Pembesaran prostat dapat menekan saluran kemih, menyebabkan aliran urine melemah dan kandung kemih tidak kosong sepenuhnya.

Akibatnya, sedikit peningkatan volume urine saja sudah cukup memicu dorongan buang air kecil, terutama saat malam hari. Gejala ini sering muncul pada pria berusia di atas 50 tahun.

Penyakit Sistemik: Diabetes, Jantung, dan Ginjal

Nokturia juga dapat menjadi tanda penyakit sistemik. Pada diabetes, kadar gula darah yang tinggi, meningkatkan produksi urine sepanjang hari dan malam. 

Keluhan lain biasanya meliputi rasa haus berlebihan, sering buang air kecil di siang hari, serta perubahan berat badan.

Gangguan jantung, ginjal kronis, dan penyakit hati juga dapat mengubah pengelolaan cairan dalam tubuh. Saat berbaring, cairan yang sebelumnya menumpuk di kaki, kembali ke sirkulasi dan disaring ginjal, sehingga produksi urine meningkat di malam hari.

Gangguan Tidur dan Faktor Hormon

Gangguan tidur seperti sleep apnea kini diketahui berkaitan erat dengan nokturia. Kondisi tersebut dapat memicu perubahan hormon yang meningkatkan pengeluaran cairan oleh ginjal di malam hari.

Seiring bertambahnya usia, produksi hormon antidiuretik (ADH) yang berfungsi menekan produksi urine saat tidur juga menurun.

Akibatnya, tubuh menghasilkan lebih banyak urine di malam hari meski tanpa gangguan kandung kemih yang jelas.

Baca juga: Bahaya Yang Mengintai Ketika Kamu Tidak Mengelap Miss V Usai Pipis

Gejala yang Perlu Segera Diperiksakan

Beberapa gejala memerlukan evaluasi medis segera, seperti nyeri hebat, demam, menggigil, darah dalam urine, atau kesulitan buang air kecil meski terasa ingin. 

Tanda sistemik seperti pembengkakan kaki, sesak napas, penambahan berat badan mendadak, atau kelelahan ekstrem juga patut diwaspadai.

Gejala seperti penurunan berat badan tanpa sebab, rasa haus berlebihan, dan kelelahan berat dapat mengarah pada gangguan metabolik seperti diabetes yang tidak terkontrol.

Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan

Sering buang air kecil di malam hari, berada di persimpangan antara kesehatan urologi, jantung, metabolisme, dan kualitas tidur. Meski kerap dianggap sepele, kondisi ini dapat menjadi tanda awal penyakit yang memerlukan penanganan dini.

Mencatat frekuensi buang air kecil di malam hari dan gejala penyertanya, lalu mendiskusikan dengan tenaga medis, dapat membantu menentukan penyebab secara lebih akurat. 

Menganggap serius nokturia, bukan sekadar bagian alami dari penuaan, tapi berperan penting dalam menjaga kualitas tidur, keselamatan di malam hari, serta kesehatan jantung dan ginjal dalam jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU