INDOZONE.ID - Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki santai dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ternyata jadi penyumbang terbesar dalam menurunkan risiko kematian akibat diabetes dan penyakit jantung.
Temuan ini menjadi informasi penting. Sebab, sekitar 90 persen orang dewasa di Amerika Serikat diperkirakan, memiliki setidaknya stadium awal sindrom kardiovaskular-ginjal-metabolik (cardiovascular-kidney-metabolic/CKM).
Sindrom CKM merupakan kerangka medis baru yang diperkenalkan pada 2023, dan mencakup berbagai kondisi kronis. Misal, penyakit jantung, penyakit ginjal, obesitas, dan diabetes tipe 2.
Kerangka ini, telah mendapat dukungan dari organisasi besar, termasuk American Heart Association (AHA).
“CKM adalah pendekatan baru yang akan digunakan dokter dalam mengelola risiko penyakit jantung pada pasien,” ujar Joseph Sartini, kandidat doktor biostatistika di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, dikutip dari Medical News Today.
Baca juga: Jalan Kaki atau Jogging: Pilihan Kardio Terbaik untuk Program Diet Kamu
Aktivitas Ringan dan Risiko Kematian
Sartini merupakan penulis utama studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association.
Penelitian tersebut menemukan, aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki, berkaitan dengan penurunan risiko kematian pada individu dengan sindrom CKM stadium 2, 3, dan 4.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menganalisis data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 2003–2006, yang melibatkan sekitar 7.200 orang dewasa.
Data itu mencakup informasi kesehatan, faktor metabolik, serta tingkat aktivitas fisik responden.
Menurut Sartini, meskipun manfaat aktivitas fisik ringan pernah dikaji sebelumnya, belum banyak penelitian yang menilai dampak jangka panjangnya pada individu dengan penyakit jantung berdasarkan klasifikasi CKM.
“Orang dengan sindrom CKM stadium lanjut memiliki risiko lebih tinggi terhadap kematian dini, sekaligus menghadapi hambatan untuk melakukan olahraga intensitas sedang hingga berat,” tuturnya.
Apa Itu Sindrom CKM?
Seseorang didiagnosis mengalami sindrom CKM berdasarkan keberadaan sejumlah faktor risiko, seperti:
- Peradangan kronis,
- Kadar gula darah tinggi,
- kolesterol tinggi,
- Hipertensi,
- Penurunan fungsi ginjal,
- Obesitas, terutama obesitas sentral.
Berdasarkan tingkat risikonya, sindrom CKM dibagi menjadi empat stadium:
- Stadium 1: tanda awal kelebihan lemak tubuh atau pradiabetes
- Stadium 2: diabetes, hipertensi, trigliserida tinggi, dan risiko penyakit ginjal kronis
- Stadium 3: tanda awal penyakit jantung disertai gejala stadium 2
- Stadium 4: penyakit jantung yang telah terdiagnosis, seperti gagal jantung atau stroke, dengan atau tanpa gagal ginjal
Satu Jam Aktivitas Ringan Beri Dampak Nyata
Hasil penelitian menunjukkan, meningkatkan aktivitas fisik ringan selama satu jam per hari, dikaitkan dengan penurunan risiko kematian sebesar 14–20 persen, dalam periode pemantauan selama 14 tahun.
Manfaat tersebut bahkan lebih besar pada individu dengan stadium CKM yang lebih lanjut.
Baca juga: Bersihkan Udara di Rumah Kamu dengan Bantuan 3 Tanaman Ini
“Banyak pasien CKM tidak mampu memenuhi rekomendasi olahraga konvensional, seperti 150 menit aktivitas intensitas sedang hingga berat per minggu,” kata Sartini.
“Dalam kondisi tersebut, aktivitas ringan menjadi alternatif yang aman, realistis, dan mudah diakses,” sambungnya.
Pendapat Pakar: Gerak Ringan Tetap Bermakna
Michael Fang, profesor epidemiologi di Johns Hopkins dan penulis senior studi ini, menyebutkan, memecah waktu duduk dengan aktivitas sederhana dapat memberikan manfaat signifikan.
“Kegiatan seperti yoga ringan, berjalan santai, peregangan, hingga pekerjaan rumah tangga berpotensi memberi dampak besar, terutama bagi mereka yang berisiko atau telah mengalami penyakit jantung,” ujar Fang.
Hal serupa disampaikan Dr. Kevin Shah, ahli jantung dari MemorialCare Heart & Vascular Institute, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Ia menilai, hasil studi tersebut memperkuat pengalaman klinis sehari-hari.
“Temuan ini sangat memberdayakan pasien. Aktivitas fisik tidak harus berat untuk memberikan manfaat kesehatan yang nyata,” kata Shah.
Ia menambahkan, pendekatan bertahap dan realistis jauh lebih efektif dibandingkan menjadikan olahraga sebagai target ‘semua atau tidak sama sekali’.
Tantangan Gaya Hidup Mager
Sementara itu, Dr. Ian Del Conde, ahli jantung dari Miami Cardiac & Vascular Institute, menyoroti pentingnya penelitian lanjutan di tengah meningkatnya gaya hidup kurang gerak atau malas gerak (mager).
“Kita semakin jauh dari pola hidup aktif, ditambah dengan pola makan yang buruk. Ini mendorong lonjakan penyakit kardiovaskular dan metabolik,” ujarnya.
“Mengembalikan kebiasaan bergerak, meski ringan, adalah langkah krusial,” lanjutnya.
Oleh karena itu, aktivitas fisik ringan yang konsisten, dapat menjadi strategi sederhana namun efektif untuk menurunkan risiko kematian. Hal itu terjadi akibat penyakit jantung dan diabetes, terutama pada kelompok berisiko tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today