INDOZONE.ID - Seafood adalah makanan laut yang superlezat dan populer di banyak negara, dari Asia sampai Eropa. Namun, tidak semua orang bisa bebas mengonsumsi seafood, karena bagi sebagian orang, makanan laut justru dapat memicu alergi yang serius. Reaksinya bisa berupa gatal-gatal ringan hingga sesak napas, bahkan anafilaksis yang berbahaya bagi nyawa.
Pertanyaannya, kenapa seafood bisa menyebabkan alergi? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh kita ketika sistem imun bereaksi berlebihan terhadap makanan laut ini?
Apa Itu Alergi Makanan? Sejenis Overreaction Sistem Imun
Sebelum masuk ke bahasan seafood, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu alergi makanan secara umum. Singkatnya, alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya. Padahal, tugas utama sistem imun adalah melawan kuman dan virus. Namun, pada orang yang memiliki alergi, protein dalam makanan justru dianggap sebagai “musuh”. Akibatnya, tubuh melepaskan zat seperti histamin yang kemudian memunculkan berbagai gejala alergi.
Kondisi ini berbeda dengan intoleransi makanan. Jika intoleransi biasanya hanya berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi benar-benar melibatkan reaksi sistem imun.
Jika berbicara soal seafood, alergi yang paling sering terjadi umumnya disebabkan oleh protein tertentu yang terdapat pada ikan atau kerang. Jadi, bukan karena “makanan lautnya” secara umum, melainkan karena tubuh salah mengenali protein tersebut sebagai sesuatu yang berbahaya. Reaksi yang muncul pun dapat berbeda-beda pada setiap orang.
Protein dalam Seafood yang Menjadi Pemicu Alergi
Berbeda dengan daging ayam atau sapi, kandungan protein dalam seafood cukup unik dan dapat memicu respons imun tertentu pada orang yang sensitif. Dua jenis protein utama yang paling sering menjadi pemicu alergi pada makanan laut adalah:
1. Tropomyosin dalam Kerang dan Krustasea
Protein tropomyosin ditemukan pada banyak makanan laut seperti udang, kepiting, lobster, kerang, dan produk krustasea lainnya. Protein ini sangat stabil terhadap panas, artinya tidak rusak meskipun seafood dimasak pada suhu tinggi. Karena itu, tropomyosin tetap dapat memicu respons alergi meskipun makanan sudah dimasak.
2. Parvalbumin pada Ikan
Pada ikan, protein parvalbumin merupakan penyebab utama alergi. Parvalbumin banyak terdapat pada daging ikan bersirip dan tidak rusak meskipun dimasak. Hal ini membuat ikan, baik dalam kondisi mentah maupun matang, tetap dapat memicu alergi pada individu yang sensitif.
Karena kedua jenis protein tersebut stabil terhadap panas dan pemrosesan makanan, alergi tetap dapat terjadi meskipun seafood sudah matang atau diolah menjadi berbagai jenis hidangan.
Bagaimana Sistem Imun Memicu Reaksi Alergi Seafood?
Untuk memahami mekanismenya, bayangkan bahwa tubuh memiliki sistem pertahanan yang disebut sistem kekebalan tubuh. Ketika makanan masuk ke saluran pencernaan, tubuh biasanya mengenalinya sebagai sesuatu yang normal. Namun, pada penderita alergi seafood, sistem imun justru “menganggap” protein tertentu sebagai penyerang berbahaya.
Begitu protein tersebut terdeteksi, tubuh memproduksi antibodi jenis imunoglobulin E (IgE). Antibodi IgE ini kemudian menempel pada sel kekebalan yang disebut sel mast dan basofil. Saat IgE kembali bertemu dengan protein seafood yang sama di kemudian hari, sel-sel tersebut akan melepaskan zat kimia seperti histamin ke dalam darah. Histamin inilah yang menyebabkan gejala alergi seperti gatal-gatal, pembengkakan, sesak napas, hingga anafilaksis jika reaksinya sangat parah.
Baca juga: 5 Jenis Obat Alergi Makanan, Pil hingga Suntikan
Gejala Alergi Seafood: Dari Ringan hingga Berbahaya
Gejala alergi seafood muncul sebagai respons tubuh terhadap pelepasan histamin dan senyawa lainnya. Umumnya, gejala ini muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi seafood. Tingkat keparahannya pun beragam, mulai dari ringan hingga mengancam nyawa.
1. Gejala Ringan hingga Sedang
Orang dengan alergi seafood dapat mengalami:
- Gatal-gatal pada kulit
- Ruam atau eksim
- Pembengkakan pada wajah, bibir, atau bagian tubuh lain
- Mual, muntah, atau diare
2. Gejala Parah: Anafilaksis
Ini merupakan bentuk reaksi alergi paling serius. Gejalanya dapat meliputi:
- Kesulitan bernapas
- Tenggorokan terasa menyempit
- Penurunan tekanan darah secara drastis
- Pingsan atau syok
Reaksi anafilaksis memerlukan penanganan medis segera karena dapat berakibat fatal.
Kenapa Beberapa Orang Lebih Rentan Alergi Seafood?
Alergi seafood tidak muncul tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami alergi terhadap makanan laut:
1. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Jika dalam keluarga terdapat riwayat alergi makanan atau alergi lain, seperti alergi serbuk sari, kemungkinan seseorang mengalami alergi seafood juga lebih besar. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh cenderung lebih sensitif dan mudah bereaksi berlebihan terhadap alergen tertentu.
2. Paparan Berulang dan Lingkungan
Sebagian orang baru menunjukkan gejala alergi di usia dewasa, meskipun sebelumnya dapat mengonsumsi seafood tanpa masalah. Kondisi ini bisa terjadi karena paparan berulang terhadap protein makanan laut yang akhirnya memicu sensitivitas baru.
3. Perbedaan Jenis Seafood
Tidak semua jenis seafood menyebabkan alergi pada setiap orang. Ada individu yang hanya alergi terhadap jenis tertentu, seperti udang, tetapi masih dapat mengonsumsi ikan lain tanpa masalah. Alergi terhadap krustasea dan moluska juga biasanya berbeda dengan alergi terhadap ikan.
Baca juga: Gadis Ini Ungkap Alergi MSG Langka, Hanya Dialami Sekitar 1% Penduduk Dunia
Perbedaan antara Alergi Seafood dan Keracunan Makanan
Sering kali terjadi kebingungan antara alergi seafood dan keracunan makanan laut akibat toksin atau kontaminasi. Misalnya, beberapa jenis ikan yang tidak disimpan dengan benar dapat menghasilkan kadar histamin tinggi sehingga menimbulkan gejala mirip alergi. Namun, kondisi ini bukan reaksi imun, melainkan keracunan histamin akibat aktivitas bakteri.
Meski gejalanya tampak serupa, mekanisme di dalam tubuh sangat berbeda. Alergi melibatkan sistem imun yang bereaksi terhadap protein spesifik, sedangkan keracunan disebabkan oleh toksin atau kontaminasi mikroba akibat penyimpanan yang tidak tepat.
Pentingnya Diagnosis Medis dan Penanganan yang Tepat
Jika kamu atau orang terdekatmu mencurigai adanya alergi seafood, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan medis. Dokter biasanya akan melakukan tes kulit atau tes darah untuk mengukur kadar antibodi IgE terhadap protein tertentu dalam seafood. Pemeriksaan ini membantu memastikan apakah reaksi yang terjadi benar-benar alergi atau bukan.
Penanganan alergi seafood tidak hanya sebatas menghindari makanan laut. Pada kasus ringan, dokter dapat merekomendasikan antihistamin untuk meredakan gejala. Sementara itu, pada kasus yang lebih parah dengan risiko anafilaksis, dokter dapat menyarankan penggunaan autoinjektor epinefrin yang dapat menyelamatkan nyawa saat terjadi reaksi serius.
Alergi Seafood Berkaitan dengan Sistem Imun, Bukan Sekadar Alergi Biasa
Seafood dapat memicu alergi karena tubuh salah mengenali protein tertentu di dalamnya sebagai ancaman. Sistem imun kemudian bereaksi dengan memproduksi antibodi IgE, yang memicu pelepasan histamin dan zat lain penyebab gejala alergi. Reaksi ini bisa ringan, tetapi pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi serius, seperti anafilaksis. Faktor genetik, frekuensi paparan seafood, dan jenis protein dalam makanan laut menjadi alasan utama mengapa alergi ini bisa muncul.
Jika kamu mencurigai adanya alergi seafood, sebaiknya jangan hanya menebak-nebak sendiri. Segera konsultasikan ke dokter dan lakukan tes alergi. Dengan penanganan yang tepat, kamu tetap bisa menjaga kesehatan dan menikmati makanan dengan lebih aman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayoclinic, Healthdirect.gov.au