Selasa, 27 JANUARI 2026 • 15:30 WIB

Nggak Suka Makan Manis, Tapi Didiagnosis Diabetes? Ini Penjelasan yang Sering Terlewat

Author

Ilustrasi diabetes (Pexels/PhotoMIX Ltd)

INDOZONE.ID - Banyak orang masih berpikir diabetes hanya mengintai mereka yang hobi makan manis. Es krim, kue, dan minuman tinggi gula sering jadi kambing hitam utama. Padahal kenyataannya, kini makin banyak anak muda yang justru kaget saat medical check up. Mereka merasa jarang makan manis, tapi hasil laboratorium menunjukkan kadar HbA1c sudah menyentuh angka 8 hingga 9 persen, angka yang sudah masuk kategori diabetes.

Pertanyaannya, memang bisa kena diabetes padahal nggak doyan manis? Jawabannya: sangat bisa. Dan alasannya sering kali bukan soal gula saja.

Fenomena Diabetes di Usia Muda

Di era kerja cepat dan gaya hidup serba padat, kasus diabetes pada usia muda makin sering ditemukan. Banyak anak muda baru sadar saat cek kesehatan rutin kantor atau medical check up pertama mereka. Tanpa gejala mencolok, hasil laboratorium justru menunjukkan gula darah yang sudah tinggi dalam jangka panjang.

HbA1c sendiri adalah indikator yang menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama dua sampai tiga bulan terakhir. Jadi, angka tinggi pada hasil ini bukan akibat satu atau dua kali makan tertentu, melainkan hasil dari kebiasaan yang berlangsung cukup lama.

Baca juga: 6 Hal yang Harus Diperhatikan Penderita Diabetes saat Menjalani Puasa

Penyebab Pertama: Kurang Tidur dan Kebiasaan Begadang

Salah satu faktor paling sering, tapi jarang disadari, adalah kurang tidur. Begadang karena lembur kerja, deadline, atau pola hidup yang berantakan ternyata punya dampak besar terhadap metabolisme tubuh.

Secara fisiologis, saat tubuh kekurangan tidur, otak menganggap kondisi ini sebagai stres. Akibatnya, tubuh meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Kedua hormon ini berperan memberi sinyal ke hati untuk memecah simpanan glukosa agar tubuh tetap punya energi untuk beraktivitas.

Masalahnya, proses ini menyebabkan kadar gula darah naik meskipun seseorang tidak sedang mengonsumsi makanan manis. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, lonjakan gula darah akan menjadi kebiasaan harian tubuh.

Tak hanya itu, kurang tidur juga terbukti menurunkan sensitivitas insulin. Artinya, insulin yang bertugas membantu glukosa masuk ke dalam sel menjadi kurang efektif. Akibatnya, glukosa lebih lama beredar di darah dan membuat kadar gula semakin tinggi.

Efek Domino Kurang Tidur terhadap Metabolisme

Kurang tidur bukan cuma bikin lelah dan sulit fokus, tapi juga memicu efek domino pada metabolisme. Nafsu makan bisa meningkat, pilihan makanan cenderung lebih tinggi karbohidrat, dan tubuh jadi lebih sulit mengatur energi. Kombinasi ini memperbesar risiko gangguan metabolik, termasuk diabetes, meski tanpa konsumsi gula berlebih.

Penyebab Kedua: Merasa Nggak Makan Manis, Padahal Tinggi Karbohidrat

Penyebab berikutnya adalah kesalahan persepsi soal makanan. Banyak orang merasa aman karena jarang makan makanan manis, padahal sumber karbohidrat tidak selalu terasa manis di lidah.

Makanan gurih dan asin yang sering jadi camilan sehari-hari ternyata bisa mengandung karbohidrat sederhana dalam jumlah tinggi. Sebut saja bakwan, cireng, risol, pastel, batagor, seblak, kerupuk, emping, hingga berbagai saus botolan. Meski rasanya tidak manis, tubuh tetap mengolah makanan ini menjadi glukosa.

Jika dikonsumsi rutin dan dalam jumlah besar, asupan karbohidrat dari makanan-makanan ini bisa berkontribusi pada peningkatan gula darah secara perlahan tapi konsisten.

Kenapa Karbohidrat Tetap Berpengaruh ke Gula Darah?

Ilustrasi makanan karbohidrat (Pexels/Yannick Durupt)

Karbohidrat, baik yang terasa manis maupun tidak, akan dipecah menjadi glukosa di dalam tubuh. Bedanya terletak pada kecepatan dan jumlahnya. Karbohidrat sederhana dari gorengan dan camilan olahan cenderung lebih cepat menaikkan gula darah dibanding karbohidrat kompleks dari makanan utuh.

Inilah kenapa seseorang bisa merasa tidak makan manis, tapi tetap mengalami lonjakan gula darah jika pola makannya didominasi oleh karbohidrat olahan.

Diabetes Nggak Selalu “Kelihatan”

Fakta lain yang sering mengecoh adalah anggapan bahwa penderita diabetes selalu terlihat dari kebiasaan makannya. Padahal, diabetes tidak selalu terjadi pada orang yang tampak sering makan es krim atau kue.

Banyak kasus justru terjadi pada mereka yang merasa hidupnya “biasa saja”. Tidak terlalu suka manis, tapi sering begadang, jarang olahraga, dan terbiasa ngemil makanan gurih. Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan inilah yang perlahan memengaruhi metabolisme tubuh.

Baca juga: Perhatian! Studi Ungkap Jalan Kaki Bisa Turunkan Risiko Kematian Akibat Jantung dan Diabetes

Pola Hidup Lebih Penting dari Sekadar Gula

Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa diabetes bukan soal satu jenis makanan tertentu. Faktor terbesarnya adalah pola hidup secara keseluruhan. Kurang tidur, stres berkepanjangan, asupan karbohidrat berlebih, dan minim aktivitas fisik menjadi kombinasi berbahaya jika terjadi terus-menerus.

Karena itu, mencegah diabetes tidak cukup hanya dengan menghindari makanan manis. Tidur cukup, mengatur jam kerja, memperbaiki pola makan, dan bergerak aktif juga punya peran yang sama pentingnya.

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mulai lebih sadar terhadap kebiasaan sehari-hari. Perhatikan kualitas tidur, frekuensi ngemil, dan jenis makanan yang dikonsumsi. Medical check up rutin juga penting untuk mendeteksi masalah sejak dini, terutama bagi anak muda dengan gaya hidup padat.

Karena pada akhirnya, diabetes bukan penyakit yang muncul tiba-tiba. Ia berkembang dari kebiasaan sepele yang tanpa sadar dilakukan terus-menerus. Dan kabar baiknya, kebiasaan itu juga bisa diperbaiki, asal disadari lebih awal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram/@nadhiraafifa

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU