Selasa, 03 FEBRUARI 2026 • 16:45 WIB

Waspada Gaslighting, Manipulasi Halus yang Bisa Terjadi di Hubungan

Author

Ilustrasi pasangan yang melakukan gaslighting. (Freepik).

INDOZONE.ID - Di era modern, berbagai istilah psikologi kerap muncul dan menjadi perbincangan publik. Istilah-istilah ini tak jarang diadopsi dari film, buku, hingga kajian ilmiah, lalu populer di media sosial. Salah satu istilah yang sering digunakan adalah gaslighting.

Dikutip dari laman Halodoc, gaslighting merupakan bentuk manipulasi emosional yang umumnya terjadi dalam hubungan tidak sehat. Perilaku ini dilakukan oleh seseorang yang ingin berkuasa dan mengontrol orang lain dengan cara membuat korban meragukan pikiran, ingatan, hingga perasaannya sendiri. Dalam praktiknya, gaslighting termasuk kekerasan psikologis yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental korban.

Baca juga: Mengenal Gaslighting, Cara Licik Memanipulasi Pikiran Agar Korbannya yang Merasa Bersalah

Siapa pun dapat menjadi korban gaslighting. Tindakan ini kerap digunakan oleh pelaku kekerasan, individu dengan kecenderungan narsistik, hingga pihak yang ingin mempertahankan kekuasaan, seperti pemimpin otoriter atau sekte tertentu. Manipulasi dilakukan secara perlahan, sehingga korban sering tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan.

Perilaku gaslighting tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis seperti pernikahan atau pacaran. Fenomena ini juga kerap ditemukan dalam hubungan pertemanan, keluarga, hingga lingkungan kerja.

5 Tanda Pasangan Gaslighting hingga Diam-diam Memutarbalikkan Kesalahan.

Berdasarkan kajian dalam jurnal The Lancet Psychiatry, istilah gaslighting pertama kali dikenal lewat drama berjudul Gas Light karya Patrick Hamilton pada 1938. Istilah ini kemudian semakin populer setelah diadaptasi menjadi film Gaslight(1944) yang disutradarai George Cukor. Film tersebut mengisahkan seorang suami yang secara sistematis memanipulasi istrinya agar percaya bahwa dirinya kehilangan kewarasan, melalui perubahan kecil di lingkungan sekitar dan kebohongan yang terus diulang. Selain melakukan manipulasi mental, sang suami juga mengisolasi istrinya dari keluarga dan teman.

Sejak saat itu, gaslighting digunakan untuk menggambarkan pola manipulasi psikologis yang membuat korban kehilangan kepercayaan diri dan bergantung pada pelaku.

Baca juga: 5 Tanda Pasangan Gaslighting hingga Diam-diam Memutarbalikkan Kesalahan

Mengutip jurnal dari Good Therapy, perilaku gaslighting umumnya berakar dari keinginan untuk menguasai orang lain. Individu dengan kepribadian narsistik disebut lebih rentan melakukan manipulasi emosional. Beberapa faktor lain yang mendorong seseorang melakukan gaslighting antara lain keinginan menjaga harga diri, menghindari kesalahan, mencari kepuasan pribadi, mendominasi hubungan, serta membuat korban bergantung secara emosional.

Dalam kehidupan sehari-hari, gaslighting sering muncul melalui kalimat-kalimat yang terkesan sepele, seperti, “Baper banget sih,” “Kamu sensi amat,” “Aku nggak pernah bilang gitu,” atau “Kamu aja yang salah tangkap.” Kalimat-kalimat ini dapat membuat korban meragukan persepsi dan perasaannya sendiri.

Memahami apa itu gaslighting menjadi langkah penting agar seseorang lebih waspada dalam menjalin hubungan. Mengenali karakter pasangan, teman, maupun orang terdekat sejak awal dapat membantu mencegah terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Mengingat dampak negatif gaslighting yang bisa merusak kepercayaan diri dan kesehatan mental, kehati-hatian dalam memilih dan menjaga relasi menjadi hal yang sangat penting.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Halodoc

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU