Minggu, 08 FEBRUARI 2026 • 09:15 WIB

Sering Pegal Seharian? Bisa Jadi Ini Tanda Fibromyalgia yang Banyak Orang Abaikan

Author

Nyeri otot (freepik.com)

INDOZONE.ID - Saat ini, banyak orang di seluruh dunia merasa tubuhnya jadi mudah lelah, tubuh terasa nyeri, dan kerap menimbulkan frustrasi karena gejalanya sulit dipahami. 

Fibromyalgia merupakan salah satu gangguan nyeri kronis, yang paling sering disalahpahami. Terlebih, karena tidak menunjukkan tanda peradangan atau kerusakan fisik yang jelas, seperti pada banyak penyakit lainnya.

Alih-alih menunjukkan kerusakan jaringan atau sendi, penderita fibromyalgia mengalami nyeri menyeluruh, yang dapat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan. 

Mulai dari produktivitas kerja, aktivitas sosial, hingga tugas-tugas sederhana sehari-hari.

Memahami Fibromyalgia Lebih dari Sekadar Nyeri

Dikutip dari Medical Daily, Fibromyalgia adalah sindrom kronis yang ditandai oleh peningkatan sinyal nyeri, dan respons sistem saraf yang tidak normal.

Baca juga: 6 Makanan dan Minuman Terbaik Rekomendasi Ahli Gizi untuk Nyeri Otot

Berbeda dengan penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, fibromyalgia tidak merusak sendi maupun otot. 

Tubuh tidak sedang menyerang dirinya sendiri, melainkan sistem saraf yang keliru dalam memproses rangsangan. Sehingga, sensasi normal diterjemahkan sebagai rasa sakit.

Perbedaan mendasar ini menjelaskan, kenapa pemeriksaan medis konvensional seperti tes darah, rontgen, atau pencitraan sering kali menunjukkan hasil normal. 

Ilustrasi nyeri otot (Insider)

Kondisi tersebut tidak jarang membuat pasien merasa diabaikan, atau bahkan meragukan pengalaman nyeri yang mereka rasakan.

Secara historis, fibromyalgia pernah dianggap sebagai gangguan psikologis semata atau disebut sebagai 'fibrositis'. 

Namu, setelah puluhan tahun penelitian dan advokasi, dunia medis baru mengakui fibromyalgia sebagai kondisi nyeri kronis yang nyata, dan layak mendapatkan perhatian klinis serius.

Gejala Fibromyalgia: Gangguan Multisistem

Ciri utama fibromyalgia adalah, nyeri otot dan tulang yang menyebar luas. Rasa nyeri ini sering digambarkan sebagai pegal, panas, atau berdenyut, dan dapat berpindah-pindah dari satu bagian tubuh ke bagian lain.

Mulai dari lengan, kaki, kepala, dada, perut, hingga punggung. Nyeri ini tidak terlokalisasi, sehingga sulit ditentukan sumbernya secara spesifik.

Namun, gejala fibromyalgia tidak berhenti pada nyeri fisik. Kelelahan kronis merupakan salah satu keluhan paling melemahkan. Penderitanya kerap merasa sangat lelah, meskipun telah beristirahat cukup. 

Rasa lelah ini berbeda dari kelelahan biasa, dan sering kali tidak membaik dengan tidur atau asupan energi.

Gangguan tidur juga umum terjadi. Banyak penderita mengalami kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, atau merasa tidak segar saat bangun tidur, meskipun telah tidur cukup lama. 

Baca juga: Hilangkan Pegal dan Nyeri Otot Usai Olahraga dengan 4 Cara Ini

Kondisi itu menciptakan lingkaran setan, di mana kurang tidur memperparah nyeri, dan nyeri kembali mengganggu kualitas tidur.

Selain itu, gangguan kognitif yang dikenal sebagai fibro fog menjadi tantangan tersendiri. Gejalanya meliputi sulit berkonsentrasi, mudah lupa, dan melambatnya proses berpikir, yang dapat memengaruhi kinerja kerja dan pengambilan keputusan.

Gejala lain yang sering menyertai fibromyalgia antara lain, kekakuan di pagi hari, sakit kepala atau migrain, sensasi kesemutan, sensitivitas berlebih terhadap cahaya dan suara.

Lalu, bisa juga karena perubahan suasana hati seperti, kecemasan atau depresi, serta gangguan pencernaan yang menyerupai sindrom iritasi usus besar.

Kompleksitas gejala inilah, yang menyebabkan diagnosis fibromyalgia sering kali memakan waktu bertahun-tahun, dan melibatkan banyak konsultasi medis.

Penyebab yang Belum Sepenuhnya Dipahami

Hingga kini, fibromyalgia tidak memiliki satu penyebab tunggal yang jelas. Para peneliti meyakini, kondisi ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor. Salah satunya disfungsi sistem saraf pusat yang menjadi mekanisme utama. 

Pada fibromyalgia, otak dan sumsum tulang belakang memperkuat sinyal nyeri secara berlebihan, sebuah fenomena yang disebut sensitisasi sentral. 

Akibatnya, rangsangan yang seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit, justru dirasakan sebagai nyeri.

Ketidakseimbangan zat kimia saraf, seperti serotonin, norepinefrin, dan substansi P, juga berperan dalam meningkatkan persepsi nyeri, sebagaimana dijelaskan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Faktor genetik turut memengaruhi. Fibromyalgia cenderung muncul dalam satu keluarga, menandakan adanya predisposisi keturunan. 

Beberapa penelitian menemukan mutasi gen tertentu, yang memengaruhi cara tubuh memproses sinyal nyeri. 

Seseorang dengan anggota keluarga dekat yang menderita fibromyalgia memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.

Sejumlah faktor pemicu juga dapat memulai atau memperburuk fibromyalgia, seperti cedera fisik berat, kecelakaan lalu lintas, jatuh, atau prosedur operasi. 

Trauma emosional, termasuk gangguan stres pascatrauma (PTSD), juga menunjukkan kaitan kuat dengan perkembangan fibromyalgia. Stres kronis, dapat mengubah fungsi metabolisme dan sistem imun tubuh.

Infeksi di masa lalu, seperti influenza, pneumonia, virus Epstein-Barr, atau infeksi saluran pencernaan, juga dikaitkan dengan munculnya fibromyalgia. 

Ilustrasi nyeri otot betis. (Freepik)

Namun, masih diteliti apakah infeksi tersebut menjadi pemicu langsung atau hanya mengaktifkan kerentanan genetik yang sudah ada.

Menariknya, fibromyalgia sering muncul bersamaan dengan penyakit kronis lain, seperti rheumatoid arthritis, lupus, gangguan tiroid, dan penyakit radang usus. 

Kondisi ini mengindikasikan adanya mekanisme dasar yang saling terkait.

Diagnosis dan Penanganan: Pendekatan Individual

Pendekatan diagnosis fibromyalgia telah berkembang. Dunia medis kini tidak lagi mengandalkan pemeriksaan titik nyeri tertentu, melainkan menggunakan kriteria berbasis gejala yang ditetapkan oleh American College of Rheumatology.

Diagnosis ditegakkan apabila nyeri menyebar terjadi di setidaknya empat dari lima area tubuh selama tiga bulan atau lebih, disertai gejala lain seperti kelelahan atau gangguan kognitif, tanpa adanya kondisi medis lain yang menjelaskan keluhan tersebut.

Karena hasil pemeriksaan penunjang umumnya normal, diagnosis sangat bergantung pada laporan pasien, dan penilaian klinis dokter.

Proses ini kerap terasa lambat dan melelahkan bagi pasien yang mencari kepastian.

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan fibromyalgia. Penanganan difokuskan pada pengendalian gejala. Olahraga ringan hingga sedang, terbukti sebagai terapi paling efektif. 

Aktivitas seperti yoga, tai-chi, berjalan kaki, dan berenang dapat mengurangi nyeri serta meningkatkan fungsi tubuh.

Dilansir dari Harvard Health, terapi fisik membantu menjaga kekuatan dan fleksibilitas. Sementara terapi okupasi, membantu pasien menyesuaikan aktivitas sehari-hari.

Dari sisi pengobatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui tiga obat untuk fibromyalgia, yakni pregabalin (Lyrica), duloxetine (Cymbalta), dan milnacipran (Savella). 

Obat lain seperti relaksan otot atau gabapentin, juga dapat membantu sebagian pasien.

Pendekatan nonfarmakologis juga berperan penting. Terapi perilaku kognitif membantu pasien mengelola stres dan nyeri. Akupunktur, pijat, dan meditasi dapat memberikan manfaat tambahan. 

Ilustrasi pijat. (freepik)

Perubahan gaya hidup, termasuk perbaikan pola tidur, nutrisi seimbang, pengaturan aktivitas, dan pengelolaan stres, menjadi fondasi jangka panjang.

Menjalani Hidup dengan Fibromyalgia

Mengelola fibromyalgia membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Respons terhadap terapi dapat sangat berbeda pada setiap orang.

Banyak penderita terbantu dengan pendampingan dokter spesialis reumatologi atau manajemen nyeri, yang memahami kompleksitas kondisi ini. 

Kelompok dukungan juga berperan penting dalam mengurangi rasa terisolasi yang kerap dialami penderita penyakit yang tidak terlihat secara kasat mata.

Meski fibromyalgia merupakan kondisi kronis seumur hidup, penyakit ini tidak harus mendefinisikan seluruh kehidupan penderitanya. 

Jika penanganan yang tepat dan dukungan yang memadai, maka kualitas hidup dapat meningkat, serta memungkinkan penderita menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU