Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 20:05 WIB

Kenali Risiko Kanker dalam Keluarga, Faktor Genetik dan Non-Genetik

Author

Ilustrasi risiko kanker di lingkungan keluarga. (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Risiko kanker di lingkungan keluarga ternyata punya dua jalur yang berbeda. Menurut Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, kita harus bisa membedakan antara risiko Herediter dan Familia.

Pakar hematologi-onkologi dari Universitas Indonesia ini menjelaskan kalau kedua jenis ini punya pemicu yang beda banget, meski sama-sama muncul dalam satu silsilah keluarga.

2 Jenis Risiko Kanker dari Keluarga

Kanker Herediter

Kanker herediter adalah jenis yang memang diturunkan langsung lewat gen dari orang tua ke anak. Contoh paling umum adalah kanker payudara dengan gen BRCA1 dan BRCA2.

Baca juga: Manfaat Edamame untuk Wanita 40 Tahun, Bantu Hormon Tetap Seimbang hingga Tulang Lebih Kuat

Meski terdengar seram, faktanya kasus ini hanya menyumbang sekitar 5 sampai 10 persen dari total kasus kanker yang ada. Jadi, nggak semua kanker itu otomatis karena faktor keturunan.

Kanker Familia

Nah, ini yang justru lebih sering kejadian tapi jarang disadari. Kanker familia muncul bukan karena gen, tapi karena satu keluarga hidup dalam ekosistem dan kebiasaan yang sama.

Kalau di dalam satu rumah pola makannya berantakan, sering makan junk food, atau terpapar polusi yang sama bertahun-tahun, risikonya bisa naik dua kali lipat.

Beberapa jenis yang masuk kategori risiko familia ini antara lain kanker usus besar, prostat, paru-paru, hingga ginjal. Pada dasarnya, bukan gennya yang salah, tapi budaya hidup di rumah tersebut yang memicu sel kanker tumbuh.

Tips Deteksi Dini

Kalau kamu punya riwayat keluarga yang terkena kanker herediter, Prof. Aru menyarankan untuk cek kesehatan lebih awal.

Baca juga: Cara Hitung Saldo JHT BPJS, Mudah Dipahami untuk Karyawan

Rumusnya simpel, lakukan pemeriksaan 10 tahun lebih cepat dari usia saat orang tua kamu pertama kali terdiagnosis.

"Artinya kalau seorang ibu terkena kanker berumur 45 tahun, anaknya berumur 35 tahun sudah harus mulai pemeriksaan. Kalau ibu (kanker) payudara, anaknya pemeriksaan-nya harus lebih cepat 10 tahun, berarti 35 tahun bahkan lebih muda," tegas Prof. Aru, dikutip dari Antara.

Langkah ini penting banget supaya kalau ada apa-apa, bisa langsung ditangani di stadium awal agar peluang sembuhnya makin besar.

Kenali riwayat kesehatan keluarga kamu, tapi jangan lupa untuk tetap jaga pola hidup sehat biar risiko familia nggak mampir ke kamu.

Semakin cepat kita deteksi dan semakin sehat gaya hidup kita, semakin kecil kesempatan kanker untuk mengganggu masa depan kita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU