Rabu, 25 FEBRUARI 2026 • 13:15 WIB

Susah Move On? Ini Alasan Psikologis Kenapa Banyak Orang Masih Terjebak dengan Mantan

Author

Ilustrasi orang yang susah move on. (Freepik)

INDOZONE.ID - Putus cinta nggak selalu berakhir dengan saling ikhlas. Apalagi kalau perpisahan terjadi sepihak, satu masih berharap, yang lain sudah melangkah pergi. Di situ, luka emosional sering kali jauh lebih dalam dari yang terlihat. Bukan cuma kehilangan pasangan, tapi juga rasa aman, percaya diri, dan keyakinan bahwa cinta bisa datang lagi.

Menariknya, sulit move on bukan semata karena “terlalu cinta”. Ada pola emosi dan kebiasaan tertentu yang bikin seseorang terus terseret ke masa lalu. Berikut rangkuman penyebab yang paling sering terjadi, ringan dibaca, tapi relate banget.

Rasa Tidak Aman yang Sudah Lama Ada: bagi sebagian orang, putus cinta memicu ketakutan lama: ditinggalkan, tidak cukup baik, atau tidak layak dicintai. Luka ini biasanya bukan baru muncul, tapi sudah tertanam dari pengalaman sebelumnya.

Menganggap Mantan sebagai “The Best Ever”: hubungan terakhir sering dianggap puncak kebahagiaan. Akibatnya, semua yang datang setelahnya terasa kurang. Tanpa sadar, red flag dulu diabaikan demi mempertahankan bayangan “cinta sempurna”.

Baca juga: Cara Move On dari Mantan Tanpa Pura-Pura Kuat dan Melanjutkan Hidup

Luka Pengabaian Sejak Dulu: pengalaman kurang diperhatikan atau ditinggalkan di masa kecil bisa membentuk pola cinta saat dewasa. Takut kehilangan berlebihan justru sering membuat hubungan jadi sesak dan akhirnya berakhir.

Takut Banget Sama Kesendirian: kesepian terasa menakutkan bagi sebagian orang. Demi menghindarinya, mereka bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Ironisnya, ini justru sering mendorong pasangan menjauh.

Harga Diri Dititipkan ke Pasangan: saat nilai diri sepenuhnya bergantung pada pasangan, putus cinta terasa seperti kehilangan identitas. Yang tersisa hanya pikiran negatif dan rasa bersalah tanpa ujung.

Anti Gagal, Termasuk dalam Cinta: ada orang yang melihat putus cinta sebagai kegagalan besar. Mereka mengulang-ulang penyesalan dan merasa “seharusnya bisa lebih baik”, lalu membawa pola itu ke hubungan berikutnya.

Terjebak Fantasi Romantis: cinta versi film sering bikin realita terasa pahit. Padahal, hubungan nyata butuh komunikasi, konflik, dan kompromi. Saat ekspektasi terlalu tinggi, pasangan bisa merasa tidak pernah cukup.

Baca juga: Studi: Pria Lebih Sulit Move On setelah Putus Cinta Dibanding Wanita

Terlalu Mengagungkan Cinta Abadi: keyakinan bahwa cinta sejati harus bertahan selamanya membuat seseorang menutup diri dari kemungkinan baru. Mantan dimuliakan, yang baru selalu kalah sebelum mencoba.

Kecanduan Satu Rasa Bahagia: kadang, mantan memenuhi satu kebutuhan emosional yang sangat spesifik. Saat itu hilang, muncul dorongan kuat untuk merebutnya kembali apa pun risikonya.

Sulit Menerima bahwa Semuanya Sudah Selesai: pada titik tertentu, ada yang terus mengejar hubungan yang jelas telah berakhir. Bukan karena cinta semata, tapi karena takut kehilangan dan pola pengorbanan yang sudah mendarah daging.

Susah move on bukan tanda kamu lemah. Sering kali, itu sinyal ada luka emosional yang belum dibereskan. Memahami penyebabnya bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tapi sebagai langkah awal untuk pulih. Ingat, melepaskan bukan berarti kalah, kadang justru itu cara paling sehat untuk kembali menemukan diri sendiri.

Kalau kamu lagi di fase ini, satu hal penting: kamu nggak sendirian, dan perasaanmu valid.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU