INDOZONE.ID - Gangguan pada mata tidak hanya berdampak pada kemampuan melihat, tetapi juga bisa memengaruhi rasa percaya diri dan kualitas hidup seseorang.
Salah satu kondisi yang cukup sering ditemukan, terutama pada anak-anak, adalah mata juling. Banyak orang tua bertanya-tanya, apakah mata juling bisa sembuh total?
Apakah harus selalu operasi? Apakah berbahaya jika dibiarkan?
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap tentang pengertian mata juling, penyebab, jenis-jenisnya, dan gejalanya.
Lalu, ada pula pembahasan cara diagnosis, pilihan pengobatan, komplikasi, pencegahan, hingga kapan waktu yang tepat untuk berkonsultasi ke dokter.
Baca juga: Mata Cepat Capek Gara-gara Gadget? Ini Solusi yang Disarankan Dokter
Apa Itu Mata Juling (Strabismus)?
Secara medis, mata juling dikenal dengan istilah Strabismus. Kondisi ini terjadi ketika kedua mata tidak sejajar dan tidak mengarah ke titik yang sama secara bersamaan.
Pada mata normal, kedua bola mata bekerja sama dan fokus pada satu objek yang sama. Otak kemudian menggabungkan dua gambar tersebut menjadi satu gambar utuh dengan persepsi kedalaman yang baik.
Namun pada mata juling, satu mata bisa melihat lurus ke depan. Sementara mata lainnya, menyimpang ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah.
Mata juling bisa terjadi secara terus-menerus (konstan), atau hanya muncul pada kondisi tertentu, misalnya saat lelah atau sedang sakit.
Kondisi ini lebih sering ditemukan pada anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa mengalaminya.
Jika tidak ditangani, otak bisa “mengabaikan” gambar dari salah satu mata untuk menghindari penglihatan ganda.
Hal ini dapat menyebabkan Amblyopia atau mata malas. Kondisi itu terjadi ketika penglihatan salah satu mata tidak berkembang secara optimal.
Baca juga: Mengenal Coloboma: Kelainan Mata Langka yang Bisa Terjadi Sejak Lahir
Jenis-jenis Mata Juling
Mata juling tidak selalu sama pada setiap orang. Berdasarkan arah penyimpangannya, kondisi ini dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Esotropia
Salah satu mata mengarah ke dalam (ke arah hidung). Ini adalah jenis yang paling sering terjadi pada anak-anak.
2. Exotropia
Mata menyimpang ke arah luar. Kondisi ini kadang muncul saat penderita sedang melamun atau kelelahan.
3. Hipertropia
Salah satu mata mengarah ke atas.
4. Hipotropia
Salah satu mata mengarah ke bawah.
Selain berdasarkan arah, mata juling juga bisa dibedakan berdasarkan waktu kemunculannya:
- Strabismus kongenital: Sudah ada sejak lahir.
- Strabismus akomodatif: Dipicu oleh gangguan refraksi seperti rabun jauh atau rabun dekat.
- Strabismus akibat gangguan saraf: Terjadi karena masalah neurologis.
Mengetahui jenisnya sangat penting, untuk menentukan metode pengobatan yang tepat.
Penyebab Mata Juling
Mata juling terjadi karena adanya gangguan pada sistem yang mengatur pergerakan mata, baik pada otot, saraf, maupun pusat pengendali di otak.
Berikut beberapa penyebab umum:
1. Faktor Genetik
Riwayat keluarga dengan mata juling meningkatkan risiko anak mengalami kondisi yang sama.
2. Gangguan Refraksi
Rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme yang tidak dikoreksi dapat memaksa mata bekerja lebih keras, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan otot mata.
3. Gangguan Neurologis
Beberapa kondisi seperti Cerebral Palsy, Down Syndrome, atau Hidrosefalus dapat meningkatkan risiko terjadinya mata juling.
4. Cedera Kepala atau Mata
Trauma yang merusak saraf penggerak mata bisa mengakibatkan perubahan posisi bola mata.
5. Penyakit Serius
Kondisi seperti Tumor Otak atau Stroke juga dapat menyebabkan gangguan kesejajaran mata, terutama pada orang dewasa.
Gejala Mata Juling yang Perlu Diwaspadai
Gejala mata juling dapat terlihat jelas, tetapi pada beberapa kasus, tanda-tandanya cukup halus. Beberapa gejala yang umum muncul antara lain:
- Posisi kedua mata tidak sejajar
- Sering memicingkan mata
- Kepala sering dimiringkan saat melihat
- Penglihatan ganda
- Sulit memperkirakan jarak
- Sakit kepala berulang
- Mata terasa cepat lelah
Pada anak-anak, gejala bisa lebih sulit dikenali karena mereka belum mampu mengungkapkan keluhan penglihatannya.
Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda seperti anak sering menutup satu mata saat melihat cahaya terang, atau mendekatkan wajah terlalu dekat ke objek.
Bagaimana Cara Diagnosis Mata Juling?
Diagnosis mata juling dilakukan melalui pemeriksaan menyeluruh oleh dokter spesialis mata. Beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan meliputi:
Pemeriksaan Ketajaman Visual
Untuk mengetahui kemampuan melihat masing-masing mata.
- Tes Refraksi
Menentukan apakah pasien membutuhkan kacamata atau lensa kontak.
- Cover Test
Dokter menutup salah satu mata untuk melihat bagaimana mata lainnya bergerak dan menyesuaikan fokus.
- Tes Gerakan Mata
Untuk mengevaluasi fungsi otot-otot mata.
- Tes Persepsi Kedalaman
Mengukur kemampuan melihat objek dalam tiga dimensi.
Diagnosis yang akurat sangat penting, agar pengobatan dapat disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya.
Apakah Mata Juling Bisa Sembuh?
Pertanyaan ini paling sering diajukan. Jawabannya: ya, mata juling bisa diperbaiki. Namun, tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada penyebab, usia pasien, dan seberapa cepat penanganan dilakukan.
Semakin dini ditangani, terutama pada anak-anak, semakin besar peluang untuk mendapatkan hasil optimal.
Pilihan Pengobatan Mata Juling
Pengobatan mata juling bertujuan untuk meluruskan posisi mata dan mengembalikan fungsi penglihatan binokular.
Berikut beberapa metode yang umum digunakan:
1. Kacamata atau Lensa Kontak
Jika disebabkan gangguan refraksi, penggunaan kacamata sering kali cukup untuk memperbaiki posisi mata.
2. Terapi Penutup Mata (Okulasi)
Mata yang lebih kuat ditutup untuk melatih mata yang lemah agar bekerja lebih aktif.
3. Terapi Visual
Latihan khusus untuk meningkatkan koordinasi dan kekuatan otot mata.
4. Obat-obatan
Beberapa kasus memerlukan obat tetes tertentu untuk membantu menyeimbangkan kerja otot mata.
5. Operasi Otot Mata
Jika metode non-bedah tidak efektif, operasi dilakukan untuk mengatur ulang posisi atau ketegangan otot mata.
Operasi mata juling umumnya aman dan memiliki tingkat keberhasilan tinggi, terutama bila dilakukan oleh dokter spesialis berpengalaman.
Komplikasi yang Bisa Terjadi Jika Tidak Diobati
Mata juling yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menyebabkan:
- Amblyopia (Mata Malas)
Otak mengabaikan sinyal dari satu mata sehingga penglihatannya menurun permanen.
- Penglihatan Ganda
Melihat dua objek sekaligus dari satu sumber.
- Gangguan Persepsi Kedalaman
Kesulitan memperkirakan jarak, yang bisa berdampak pada aktivitas sehari-hari seperti mengemudi atau berolahraga.
Dampak Psikologis
Anak dengan mata juling bisa mengalami penurunan rasa percaya diri dan masalah sosial.
Apakah Mata Juling Bisa Dicegah?
Tidak semua kasus bisa dicegah, terutama yang disebabkan faktor genetik. Namun, ada beberapa langkah yang dapat membantu meminimalkan risiko:
- Melakukan pemeriksaan mata rutin sejak usia dini
- Mengoreksi gangguan refraksi dengan tepat
- Melindungi mata dari cedera
- Mengontrol penyakit kronis yang dapat memengaruhi saraf
Kesadaran orang tua terhadap kesehatan mata anak sangat berperan penting dalam pencegahan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter jika:
- Mata anak terlihat tidak sejajar
- Anak sering memiringkan kepala saat melihat
- Mengalami penglihatan ganda
- Mata tampak bergerak tidak sinkron
Semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang untuk menghindari gangguan penglihatan permanen.
Mata juling atau Strabismus adalah kondisi ketika kedua mata tidak sejajar dan melihat ke arah berbeda.
Gangguan ini dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, dengan berbagai penyebab mulai dari gangguan refraksi hingga masalah neurologis.
Jika tidak ditangani, mata juling dapat menimbulkan komplikasi serius seperti Amblyopia dan gangguan persepsi kedalaman.
Namun, dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat baik melalui kacamata, terapi visual, maupun operasi, kondisi ini dapat diperbaiki.
Jika kamu atau anak menunjukkan tanda-tanda mata juling, segera konsultasikan dengan dokter spesialis mata untuk mendapatkan penanganan terbaik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthshots.com